Mon, 4 December 2023

Hari Petani Nasional, Anak Muda di Negara Agraris Enggan Menjadi Petani

Reporter: Sopiyani Solihah | Redaktur: Zahra Pajriyanti A | Dibaca 91 kali

Sun, 24 September 2023
Ilustrasi by Dini Putri/Jurnalposmedia

JURNALPOSMEDIA – Hari Tani Nasional merupakan sejarah perjuangan hingga pembebasan golongan petani dari kesengsaraan yang ditetapkan pada tanggal 24 September dalam UU Pokok Agraria (UUPA) tahun 1960. Sudah 63 tahun perjuangan petani diperingati, akan tetapi petani belum sejahtera dan faktanya saat ini anak muda banyak yang tidak ingin menjadi petani.

Seperti yang kita ketahui, Indonesia di juluki negara agraris karena lahan pertanian yang luas membentang. Namun, fakta tersebut tidak menjadi tolak ukur petani di Indonesia menjadi mata pencaharian yang diminati masyarakat Indonesia. Dari Badan Pusat Statistik, petani di Indonesia saat ini hanya berjumlah 33,4 juta orang dari 270 juta penduduk Indonesia.

Dilansir dari Channel Youtube @berita.KBR , Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo menjelaskan sangat sedikit petani Indonesia yang berasal dari kalangan anak muda seperti milenial. Sebanyak 71 persen petani Indonesia berusia 45 tahun ke atas dan hanya 29 persen untuk usia 45 ke bawah.

Menanggapi fakta tersebut, Koordinator Nasional Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Said Abdullah mengatakan Kurangnya minat anak muda untuk menjadi petani disebabkan kesejahteraan petani yang belum terjamin. Said juga menjelaskan perhatian pemerintah juga harus ditingkatkan terutama dalam bidang pemasaran.

“Pemerintah berinvestasi bukan hanya di bendungan dan irigasi tetapi juga di market, karena selama ini kalau kita perhatikan petani kesulitan ketika produksi bagus tapi kurang market support,” jelasnya.

Dia juga menjelaskan, pemerintah sudah sangat banyak mengeluarkan biaya dan investasi untuk sektor pertanian. Data menyebutkan sejak tahun 2004 sampai 2014 penambahan investasi untuk pertanian yang berfokus pada penyebaran pupuk dinaikkan sebesar 1.152 persen dengan hanya penaikan produksi sebesar 30,9 persen.

“Pemerintah menaikkan investasi pupuk sebesar 1.152 persen hitungan tahun 2004-2014, untuk 2014 sampai sekarang belum terhitung pasti. Sedangkan kenaikan produksi hanya 30,9 persen, kenaikan yang tidak seimbang dan sangat tidak efisien,” tambahnya.

Investasi yang diberikan pemerintah untuk sektor pertanian yang berfokus pada pupuk dinilai kurang tepat. Hal tersebut terjadi karena tidak adanya perhatian khusus atau survei terhadap tiap daerah, alhasil penyebaran investasi tidak maksimal karena tidak sesuai kebutuhan.

“Misalnya antara Sulawesi dan Jawa itu tentu berbeda ada yang masih butuh infrastruktur dan ada yang sudah memadai infrastrukturnya tapi kurang di market. Karena tadi saya lihat investasinya belum cukup optimal  dan belum cukup baik apalagi tidak ada investasi pemerintah di mekanisme market support itu membawa konsekuensi yang logis bahwa tingkat pendapatan dan kesejahteraan petani tidak berubah,” jelasnya.

Dari survei yang dilakukan Said pada tahun 2015 Tegal Parang, Bogor, 76 persen orang tua yang bekerja sebagai petani tidak menginginkan anaknya menjadi petani.

Disisi lain, Informasi serupa dilansir dari akun Youtube @CNBC Indonesia yang menjelaskan generasi milenial dan Gen-Z tidak tertarik menjadi petani. Hasil survei mengatakan ada beberapa faktor yang membuat anak muda enggan menjadi petani, diantara-nya sebagai berikut:

  1. Tidak ada pengembangan karier = 36,3 persen
  2. Penuh Risiko = 33,3 persen
  3. Pendapatan kecil = 20,0 persen
  4. Tidak dihargai = 14,8 persen
  5. Tidak menjanjikan = 12,6 persen

Setelah melihat fakta di atas, bagaimana tanggapan kalian selaku mahasiswa? Bagaimana cara yang akan kalian tawarkan untuk tetap menjadikan petani sejahtera di Negara Agraris ini?

Selamat Hari Petani Nasional.

Bagikan :
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments