Mon, 17 June 2024

Diskusi Nalar dan Intelektual, Menelisik Akar Hakikat Ilmu

Reporter: Putri Restia Ariani | Redaktur: Nazmi Syahida | Dibaca 228 kali

Thu, 28 February 2019
Ilustrasi: Abdul Latief/Jurnalposmedia

JURNALPOSMEDIA.COM—Bidang Nalar dan Intelektual Himpunan Mahasiswa (HIMA) Jurnalistik UIN Bandung menggelar diskusi perdana di tahun 2019. Pemateri diisi oleh Alumni Jurnalistik angkatan 2011, Mia Indria, dengan tema “Hakikat Ilmu”. Diskusi dihadiri oleh Mahasiswa Jurnalistik dan umum yang berlangsung di Sekretariat Jurnalistik, Student Center (SC) UIN Bandung. Rabu, (27/02/2019).

Proses diskusi berlangsung hangat, Mia Indria membuka jalannya diskusi dengan persoalan acak yang berkaitan dengan ilmu. Dalam bahasannya, ia menilai bahwa ketertarikan seseorang terhadap ilmu dipengaruhi oleh perbedaan karakter masing-masing. Terlebih potensi dan keahlian tiap individu yang tidak sama. “Setiap orang itu autentik.” singkatnya.

Salah seorang peserta diskusi, Dhea Amellia menyuarakan keresehannya terkait budaya pendidikan di Indonesia yang seringkali terpaku pada nilai akademis. Menjawab hal tersebut, Mia berkata bahwa sejak kecil kita sudah terbiasa dididik kompetitif. Menurutnya, saat kita tidak mampu melakukan apa yang bisa orang lain lakukan, kita langsung menganggap diri kita bodoh, hanya karena kita tidak mampu memahami apa yang orang lain pahami.

“Lalu kita meniadakan pengetahuan sendiri, keahlian sendiri, karena terdidiknya kompetitif, segala hal seragam, mulai sekarang harus mulai berani menunjukkan, dia ahlinya A, dia ahlinya C, perdalamlah disitu.” jelas Mia. Peserta diskusi lainnya, Reival Akbar, menimpali bahwa pendidikan Indonesia seharusnya memiliki kompetensi yang terfokus.

“Seperti di Finlandia, yang memang kompetensinya dari kecil jago fisika, menjadi fisikawan, jago seni menjadi seniman, jadi kita itu (di Indonesia) digeneralkan, jadi tidak ada fokus, sampai kuliah juga semuanya mengalami kejenuhan dengan sistem yang ada, yang mungkin itu bisa dikatakan Indonesia sebagai negara berkembang.” tutur Reival.

Mia mengungkapkan bahwa banyak yang telah menjadi korban dari budaya pendidikan tersebut. Keterlanjuran yang terjadi dapat disiasati dengan belajar segala sesuatu secara acak, melakukan penelitian dan eksperimen sekecil apapun. “Harus nakal, harus ‘nackal’, dalam kunci eksperimen, penelitian, menguji sesuatu, selain membaca ya.” ujarnya.

Sekretaris Bidang Nalar dan Intelektual, Liza Zahara, menanggapi materi yang didiskusikan menjadi salah satu cara untuk lebih mengenal diri sendiri, dan menyadari proses belajar tidak terbatas pada ruang kelas. Liza berharap, hadirnya program diskusi ini dapat merangkul lebih jauh Mahasiswa Jurnalistik untuk melatih otak berpikir kritis dan mengemukakan pendapat juga sudut pandang.

Selaras dengan Liza, Mia menilai, adanya diskusi di kalangan akademis harus dibudayakan dan ditradisikan karena hal tersebut merupakan salah satu proses mengejar ilmu pengetahuan. “Biar apa, olahraga otak, mendidik untuk berpikir, persoalannya tadi, gimana metodenya gimana caranya, motivasinya apa, itu balik lagi ke orangnya, yang penting kita udah berupaya.” jelasnya.

Ia menyimpulkan bahwa akar dari hakikat ilmu adalah pertanyaan ‘kenapa’. “Kenapa itu hakikat, terus-terusan mencari kenapa-kenapa dan kenapa, itu hakikatnya” ujarnya. Perempuan yang kini berusia 33 tahun ini berharap agar anak muda dan generasi masa kini mempunyai cara pandang dan dapat menawarkan sesuatu yang lain untuk menata tatanan masyarakat supaya jauh lebih baik.

Bagikan :
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments