Ziarah Makam Karomah Khas Adat Kampung Dukuh

JURNALPOSMEDIA.COM-Dukuh matuh dayeuh maneuh, bunyina carangka eling. Dukuh padumukan matuh runtuyan katurunan Dukuh, keukeuh pengkuh sarta patuh sadaya piwuruk sepuh”. Bait yang dikutip di atas merupakan petuah leluhur  yang dikenal luas oleh para penghuni Kampung Dukuh. Petuah itu menegaskan keberadaan Dukuh sebagai satu komunitas yang terdiri atas orang-orang yang konsisten memegang adat leluhur.

Kampung Dukuh merupakan sebuah perkampungan adat yang sangat kental dengan ajaran-ajaran agama Islam. Kampung yang terletak di Desa Ciroyom, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat ini berkehidupan sederhana baik dalam segi bangunan rumah adat, pakaian,  bahasa, perilaku tingkah pola masyarakatnya yang masih memegang kuat adat dan tradisi leluhur yang menjadi tempat tinggal yang tenteram dan makmur. Di dalam kawasan Kampung Dukuh terdapat 42 rumah dan sebuah bangunan masjid. Terdiri dari 40 kepala keluarga serta jumlah penduduk 172 orang untuk Kampung Dukuh dalam dan 70 kepala keluarga untuk Kampung Dukuh luar.

Kampung Dukuh yang dahulu bernama padukuhan yang artinya sama dengan padepokan. Kata Dukuh berarti calik atau duduk, berasal dari Padukuhan yang merupakan tempat bermukim atau yang baik untuk bermunajat, mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa. Kampung ini berpatokan kepada mazhab Imam Syafe’i serta ajaran Tasawuf Syekh Abdul Jalil yang merupakan ajaran para sufisme atau orang-orang penganut tasawuf yang mempunyai tradisi yakni ziarah ke makam Karomah yang dilaksanakan pada hari Sabtu.

Makam yang diziarahi itu tidak lain adalah makam Syaikh Abdul Jalil, seorang tokoh penyebar Islam di Kampung Dukuh. Syaikh Abdul Jalil memiliki kedudukan yang istimewa di tengah masyarakat Dukuh tidak hanya ketika ia masih hidup. Bahkan setelah meninggal pun, ia tetap dimuliakan dan diagungkan oleh para penghuni kampung dan para peziarah yang datang untuk mendapatkan berkahnya. Selain makam Syaikh Abdul Jalil di bawahnya dikuburkan Makam Eyang Hasan dan Husein, makam-makam Kuncen dan sesepuh Dukuh.

Setiap hari Sabtu rombongan peziarah berdatangan memenuhi Kampung Dukuh. Bukan hanya dari daerah Jawa Barat, peziarah juga datang dari Provinsi lain di Indonesia. Peziarah harus mengikuti aturan yakni peziarah baik laki-laki ataupun perempuan diharuskan mandi, berwudhu serta  harus mengikuti aturan yaitu selama dimakam tidak boleh kentut, meludah, dan buang air kencing. Ketika memasuki area makam laki-laki harus berpakaian serba polos, baju takwa (polos) , dan totopong (ikat kepala, peci ), dan tidak memakai celana dalam. Sedangkan perempuan harus mengenakan samping dari bahan kain, kebaya atau baju tangan panjang polos, kerudung polos, dan dilarang mengenakan pakaian dalam, perhiasan, dan sandal ataupun sepatu.

Karena banyaknya peziarah, ziarah dibagi menjadi 3 kelompok. Rombongan peziarah kelompok 1 dipimpin langsung oleh kuncen sedangkan kelompok 2 dan seterusnya dipimpin oleh wakil kuncen maupun pembantunya. Peziarah merupakan laki-laki, perempuan baik dewasa maupun anak-anak. Sesudah selesai ziarah, sebagian ada yang pulang dan terkadang ada sebagian peziarah yang tidak pulang bersama.  Sebab masih ada sesi berdoa khusus masing-masing peziarah. Sesudah selesai ziarah semuanya keluar dari makam dan pulang lagi ke rumah kuncen. Di rumah kuncen disediakan air dan makanan.

Warga Kampung Dukuh dan peziarah sangat meyakini adanya Karomah dari Syekh Abdul Jalil karena Syekh Abdul Jalil merupakan waliyulloh dan juga kesakralan dari semua ritual dan peraturan yang ada di Kampung Dukuh. Karena Karomah Syekh Abdul Jalil ini dianggap sakral atau suci, maka ada kebiasaan yang dilakukan oleh warga Kampung Dukuh maupun para tamu yang datang, yaitu membawa air Karomah atau air dari area Karomah Syekh Abdul Jalil yang dimasukkan ke dalam botol plastik air mineral, lalu disimpan di sebelah mimbar khutbah untuk didoakan pada hari Jumat yang dianggap hari baik.

Ziarah sendiri bertujuan agar masyarakat selalu mengingat para leluhur yang lebih dahulu pergi, serta mengingatkan hamba kepada akhirat dan memberi pelajaran berharga akan kehancuran dan ketidakkekalan. Tradisi ziarah ini juga menjadi pengingat umat untuk selalu berterima kasih kepada Allah SWT karena masih diberi rezeki berupa panjangnya usia hingga akhirnya dapat berjumpa dengan bulan Ramadan kembali.

Leave A Reply

Your email address will not be published.