Yus Warkop, Menikmati Santapan Sekaligus Melebur Perbedaan

JURNALPOSMEDIA.COM – “Banyak (mahasiswa) dari Bekasi, Medan, Makassar, Papua, Kalimantan juga ada,” ungkap pemilik warung kopi Yus Warkop, Yus Rusmana. Kamis (4/6/2020). Pria berusia 55 tahun itu berbagi cerita tentang warung kopi miliknya yang ramai dikunjungi mahasiswa dari berbagai latar belakang daerah di tanah air.

Berbicara mengenai Yus Warkop, warung kopi ini bertempat di sudut terminal Ledeng, Jalan Sersan Surip No. 1, Cidadap, Bandung. Yus Warkop seringkali menjadi tempat menongkrong pilihan bagi mahasiswa luar daerah yang sedang menempuh pendidikan di Kota Bandung.

Sejumlah mahasiswa menjadikan Yus Warkop sebagai tempat menghabiskan malam dengan berdiskusi atau sekadar kongko dan menyantap kudapan bersama teman-teman. Adapun beragam santapan di Yus Warkop dibanderol mulai Rp1.000,00 hingga Rp14.000,00.

“Ada macam-macam gorengan, mie goreng dan mie rebus, minuman dingin atau panas, juga roti bakar dan roti kukus. Tapi yang jadi favorit mahasiswa itu minuman Extra Joss susu,” kata Yus Rusmana. Kebiasaan berkumpul untuk berdiskusi atau sekadar ngopi di warung ini pun sudah berlangsung hampir satu dekade.

Terutama, kata Rusmana, bagi mahasiswa dari kampus-kampus yang berada di sekitar Jalan Dr. Setiabudi, Bandung, “Sebenarnya kumpulan mahasiswa luar daerah (mulai) sering ngopi di sini dari tahun 2011-an. Waktu warung Bapak pindah ke samping kantor Dishub,” terangnya.

Meski ramai dikunjungi mahasiswa dengan latar belakang budaya dan daerah yang berbeda, hal itu tidak mengurangi kerukunan di antara pengunjung. Seperti yang diungkapkan mahasiswa asal Serui, Papua, Daud Rundi (21).

“Tidak ada alasan untuk tidak rukun. Saling menghargai satu sama lain. Kalau dengan jurusan saya, saya sering kumpul dengan teman-teman dari daerah lain. Jadi, istilahnya di jurusan saya tidak ada perbedaan kalau nongkrong di warung ini,” kata Daud.

Tak terkecuali, mahasiswa asal Bandung, Fikar Rizky Ferdian (20). Dirinya mengaku senang bisa berbincang dengan teman-teman dari luar daerah Bandung karena memiliki pandangan yang berbeda. Menurutnya, perbedaan membuat setiap orang bisa mengetahui suatu hal yang beragam.

“Kita itu punya pemikiran dan latar belakang yang berbeda, tapi berada di tempat ngopi yang sama. Saya memperkenalkan budaya asli Bandung, mereka juga memperkenalkan budayanya. Perbedaan malah membuat nongkrong kita makin asyik. Jangan malu untuk jadi berbeda, karena perbedaan bukan jadi alasan buat kita bersama,” jelas Fikar, Selasa (9/6/2020).

Daud pun mengutarakan harapannya agar tidak ada lagi pandangan rasisme, “Tidak usah lagi ada perbedaan di antara kita. Seperti antara orang kulit hitam dan kulit putih. Kita semua NKRI. Kalau istilahnya orang Papua, orangtua kita (telah) membangun untuk Indonesia. Jadi tidak usah dibeda-bedakan kau orang hitam (atau) kau orang putih,” tutupnya.

Rekomendasi

Leave A Reply

Your email address will not be published.