Women’s Day dan Kedudukan Perempuan dalam Kacamata Islam

JURNALPOSMEDIA.COM – Hari Perempuan Internasional atau dikenal dengan Internasional Women’s Day diperingati pada 8 Maret lalu. Hari itu secara khusus membincangkan perihal kesetaraan gender. Mungkin sudah kita ketahui bahwa sejak lama para perempuan di berbagai belahan dunia mendambakan adanya kesetaraan tersebut.

Ada anggapan bahwa kaum perempuan selalu dipandang lebih rendah dibandingkan kaum laki-laki. Hal itu berasal dari banyak faktor, semisal laki-laki yang dinilai memiliki ketahanan fisik jauh lebih kuat dibandingkan perempuan.

Tak hanya itu, aspek emosional pun menjadi faktor yang seringkali disudutkan. Laki-laki dianggap unggul karena bisa lebih cepat mengambil keputusan dibandingkan perempuan. Anggapan itu ada karena laki-laki dipandang lebih mengutamakan logika dibandingkan perempuan yang lebih mengutamakan perasaan.

Maka dari itu, banyak jabatan tinggi yang diemban oleh laki-laki. Tak pelak, realitas tersebut melahirkan masalah baru, yakni adanya diskriminasi terhadap perempuan di tempatnya berkerja. Lantas, bagaimana Islam memandang kedudukan perempuan?

Hakikat Penciptaan Perempuan dalam Agama Islam

Dapat kita ketahui bahwa tolok ukur kemuliaan manusia bukanlah dari jenis kelamin, melainkan dari ketakwaannya. Dalam Al-Qur’an, terdapat ayat yang berkaitan dengan penciptaan laki-laki dan perempuan. Allah Swt. berfirman:

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari jiwa yang satu (nafs wahidah), dan dari padanya Allah menciptakan pasangannya.” (QS. An-Nisaa’: 1)

Al-Qur’an menggunakan ungkapan nafs wahidah ketika menjelaskan tentang penciptaan Adam dan pasangannya, atau penciptaan manusia secara umum. “Dia yang telah menciptakan kamu dari ‘nafs wahidah,” apakah yang dimaksud dengan nafs?

Nafs merupakan substansi dan hakikat manusia, di mana dengan nafs itulah manusia dapat dikatakan sebagai manusia. Ketika hidup di dunia, manusia tersusun dari dua sisi, yakni jasmani dan ruhani. Lalu, saat berada di alam barzah manusia hanya memiliki sisi ruhani.

Ayat di atas seolah ingin menyeru, “Wahai manusia (lelaki dan perempuan)! Kamu sekalian diciptakan dari substansi dan hakikat yang sama.” Maka dari itu, gender bukanlah tolok ukur atas segalanya, yang utama adalah ketakwaan kita terhadap Sang Pencipta.

Cara Islam Mengangkat Derajat Perempuan

Islam adalah agama yang berhasil mengangkat derajat perempuan, mengakui keberadaan mereka, dan memberikan hak kepada mereka setelah dijerat dalam pasungan ketidakbebasan. Berikut ajaran dalam agama Islam tentang memuliakan seorang perempuan.

Pertama, kedudukan anak perempuan dalam Islam

Dari sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dari Aisyah r.a, dia berkata:

Ada seorang wanita yang masuk menemuiku dengan membawa dua orang anak perempuan untuk meminta-minta, tetapi aku tidak mempunyai apa-apa kecuali hanya satu butir kurma. Lalu aku memberikan kurma itu kepadanya. Selanjutnya, wanita itu membagi satu butir kurma itu untuk kedua anak perempuannya sedang dia sendiri tidak ikut memakannya. Lantas, wanita itu berdiri dan keluar. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepada kami, maka aku ceritakan peristiwa itu kepada beliau, maka beliau pun berkata, ‘Barangsiapa yang diuji dengan anak-anak perempuan, lalu dia mengasuhnya dengan baik, maka anak-anak perempuan itu akan menjadi tirai pemisah dari api Neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis tersebut menunjukkan betapa istimewanya seorang anak perempuan yang lahir di tengah keluarga. Seperti yang tertulis di sana, “Barangsiapa yang diuji dengan anak-anak perempuan, lalu dia mengasuhnya dengan baik, maka anak-anak perempuan itu akan menjadi tirai pemisah dari api Neraka.”

Dapat dikatakan bahwa kehadiran anak perempuan niscaya menjadi penyelamat bagi kedua orangtua dari panasnya api neraka.

Kedua, kedudukan perempuan sebagai istri

Laki laki sebagai seorang suami, diperintahkan senantiasa berbuat baik kepada istri. Seperti firman Allah Swt. dalam surat An-Nisa ayat 19, “Dan bergaullah dengan mereka dengan cara yang baik.” Kemudian ada hadis riwayat Abu Daud yang berbunyi:

Rasulullah Saw. bersabda, engkau memberinya makan apabila engkau makan, memberinya pakaian apabila engkau berpakaian, janganlah engkau memukul wajah, jangan engkau menjelek-jelekkannya (dengan perkataan atau cacian), dan jangan engkau tinggalkan kecuali di dalam rumah.” (HR. Abu Daud No. 2142)

Yang dimaksud berbuat baik kepada istri di antaranya adalah memuliakan istri, tidak bertindak kasar (cacian, hinaan), dan tidak melakukan perbuatan yang melukai perasaan istri.

Ketiga, kedudukan perempuan sebagai ibu

Wahai Rasulullah, siapa orang yang paling berhak bagi aku untuk berlaku bajik kepadanya?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?” Nabi menjawab, “Ayahmu.” (HR. Bukhari, Kitab al-Adab No. 5971 juga Muslim, Kitabal-Birrwaash-Shilah No. 2548)

Dari hadis tersebut, kita dapat menarik kesimpulan bahwa sosok ibu adalah seseorang yang harus sangat kita hormati. Kita akrab dengan ucapan “surga di bawah telapak kaki ibu,” ungkapan itu secara tak langsung tersemat juga dalam hadis tersebut.

Seorang ibu rela bertarung nyawa saat melahirkan dan kemudian membesarkan kita dengan kesabaran. Sudah sepatunya kita menghormati semua perempuan dan tidak merendahkannya.

Lewat paparan ini, kita dapat mengambil pelajaran bahwa Allah Swt. menciptakan laki-laki dan perempuan bukan untuk saling menyombongkan diri mereka. Allah Swt. menciptakan laki-laki dan perempuan sebagai pelengkap satu sama lain.

Perbedaan laki-laki dan perempuan hadir untuk tujuan yang mulia. Dalam syariat Islam, laki-laki dan perempuan diberikan tanggung jawab, peranan, dan tugas yang berbeda untuk bekerja sama agar terwujud kehidupan sosial yang seimbang. Bukan untuk saling menjerat dan mengekang kebebasan.

Oleh karena itu, hendaknya laki-laki dan perempuan mengenali tugas, peranan, dan kewajibannya masing-masing. Apapun keyakinan yang dipegang, yang terpenting adalah kita tidak boleh merendahkan sosok perempuan, karena tanpa adanya mereka, kita tak akan ada di dunia ini.

Rekomendasi

Leave A Reply

Your email address will not be published.