Wayang Golek, Bertahan Walau Tergerus Zaman

(Jurnalposmedia/ Dian Aisyah)

JURNALPOSMEDIA.COM— Wayang golek adalah salah satu kesenian khas Indonesia asal pulau Jawa. Seperti yang dikutip Wikipedia, kesenian wayang golek berkembang di pesisir utara Pulau Jawa pada awal abad ke-17, dimana kerajaan Islam tertua di Pulau Jawa, yaitu Demak tumbuh disana. Menurut legenda yang berkembang, Sunan Kudus menggunakan bentuk wayang golek awal ini untuk menyebarkan Islam di masyarakat.

Wayang golek memang bukan sekedar kesenian yang indah untuk disaksikan. Lebih dari itu, wayang golek memiliki nilai-nilai luhur yang terdapat dalam masyarakat Sunda. Nilai-nilai yang dimanifestasikan dalam bentuk wayang tersebut menjadi kearifan lokal yang dijunjung tinggi oleh masyarakat. Selain itu, bagi para dalang wayang juga menjadi instrumen penyampai pesan-pesan demi membangun nilai gotong royong dan keharmonisan masyarakat.

Hal tersebut menjadi kewajiban para dalang dalam menjalankan warisan tradisi dan kesenian budaya Indonesia melalui wayang golek. Dalam perkembangan dunia seni dan budaya Indonesia, wayang merupakan salah satu bentuk kesenian yang begitu populer, mengingat cerita-cerita yang ditampilkan merupakan cerita-cerita yang begitu melegenda dalam masyarakat.

Wayang golek dibuat dari kayu lame dengan cara diraut dan diukir hingga menyerupai bentuk yang diinginkan. Untuk menggambar bagian-bagian wajah serta motif digunakan cat. Proses ini merupakan proses yang sangat rumit dan penting karena warna akan menghasilkan karakter wayang yang nantinya akan dimainkan oleh para dalang. Biasanya warna wayang golek berputar pada warna dasar merah, putih, prada dan hitam.

Sejarah tersebut menunjukan bahwa boneka kayu tersebut sangat berpengaruh besar di negeri ini. Saat ini wayang golek hidup beriringan dengan zaman, namun sedikit demi sedikit eksistensinya mulai terkikis. Hanya segelintir orang yang bisa mempertahankannya. Hal ini bisa dimaklumi jika dibandingkan dengan bermacam benda yang serba canggih saat ini. Namun inilah fase mengkhawatirkan, dimana benda bersejarah sangat banyak dilupakan.

Hanya sedikit generasi bangsa ini untuk melestarikan kesenian yang sudah bertahun-tahun tumbuh di tanah air itu. Kepunahan ini terjadi karena sedikitnya pihak yang tertarik dengan adanya pagelaran wayang golek. Sehingga seni wayang golekpun hanya tampil pada perayaan-perayaan tertentu.

Soleh (55), salah seorang pengrajin wayang golek yang masih mempertahankan kecintaannya pada karya seni. Di usianya yang tak lagi muda, ia masih mampu membuat ribuan karya bersejarah tersebut. Saat itu aku singgah di toko souvenir miliknya di Jalan Raya Cibiru, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung, untuk sedikit berbincang mengenai karyanya membuat wayang golek.

Dengan diiringi suara hujan kami berbincang mengenai awal mula kecintaanya pada sebuah wayang golek. Soleh mengaku dirinya sudah 30 tahun lebih menekuni bidangnya membuat karya seni. Soleh mengeluhkan, permintaan wayang golek semakin berkurang dalam beberapa tahun terakhir.

Dulu, kata Soleh antusiasme warga masih tinggi terhadap wayang golek, sehingga banyak pesanan untuk acara syukuran pernikahan atau sunatan. Kini sebagian besar pementasan berasal dari kegiatan pemerintah atau acara bersponsor. Demi mempertahankannya ia selalu ikut pemeran karya seni.

Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung dinilai tidak konsisten menjalankan Perda Nomor 05 Tahun 2012 dan Kepwal nomor 059 Tahun 2013. Pelaku seni budaya tradisional Kota Bandung harus berjuang sendiri demi menjaga, melestarikan dan mengembangkan seni budaya tradisional. Banyak sekali kesenian dan kebudayaan tradisional di Kota Bandung, menurut Ketua Bidang Seni Budaya Kompepar (Kelompok Penggerak Pariwisata) Kota Bandung, Wawan Supriadi, diambang kepunahan dan mati suri.

Kepedulian pemerintah sangatlah penting untuk melestarikan dan memperhatikan budaya kita, setidaknya dapat menadi acuan dan motivasi bagi masyarakat Indonesia untuk melestarikan dan mengembangakan budaya wayang golek. Indonesia termasuk Negara yang penuh warna-warni budaya dari sabang sampai merauke penuh dengan budaya, semakin berkembangnya zaman dan tidak adanya filter budaya barat serta pengaruh globalisasi yang tak terbendung membuat kesenian kita kian menghilang.

Di tengah menurunnya antusiasme warga terhadap kesenian tradisional khususnya wayang golek, Soleh berharap, pemerintah setempat bisa memberikan dukungan agar budaya apresiasi wayang golek di Jawa Barat tidak terputus. Ia juga mengharapkan agar masyarakat dapat memiliki rasa cinta akan kebudayaan Indonesia khusunya wayang. Mengingat wayang merupakan warisan leluhur yang berpengaruh besar di zaman dahulu.

 

Rekomendasi

Leave A Reply

Your email address will not be published.