Trotoar Cukup Lengang untuk Kata dan Kita

“Pergilah, aku sedang tidak ingin berbicara, kepadamu sekalipun.”

“Apa kamu juga akan meminta aku pergi walaupun aku cuma duduk diam di sini bersama mu?”

Elena tidak menjawab, kembali ia pandangi kendaraan yang lalu lalang di depannya, tubuhnya ia pasrahkan pada sandaran kursi di trotoar jalan ini. Abigail pun sama.

“Mengapa hidup begini tidak adilnya kepada ku bi?”

Abigail tetap diam memandangi kendaraan yang lalu lalang, mereka hanya meninggalkan asap-asap tak kasat mata untuk Elena dan Abigail atau bahkan untuk pengendaranya, atau bahkan untuk semua penduduk bumi juga barangkali, entahlah, Abigail sedang tidak memikirkan itu, ia hanya ingin duduk berdua dengan Elena.

“Kamu pernah merasakan kecewa bi?”

Abigail hanya menjawab lirih dalam hati, mulutnya tetap bungkam.

“Setiap kali kamu tersenyum karena laki-laki lain Elena, aku kecewa sesering itu, pernah kamu merasakannya? atau memikirkannya?”

Elena mengalihkan pandangannya ke arah Abigail, ia pandangi wajah Abigail yang tanpa ekspresi menatap lalu lalang kendaraan di depannya, kemudian Elena menjatuhkan kepalanya pada bahu kiri Abi, air matanya turun tanpa dipinta. Abigail cukup terkejut, tapi wajahnya masih tetap menghadap jalanan. Kini bukan hanya air mata Elena yang dirasakan Abigail, tapi juga suara tangisnya mulai terdengar samar-samar.

Abigail masih tanpa ekspresi, kembali ia bersuara dalam hati.

“Berhentilah bersikap seperti ini Elena, bagaimana mungkin aku bisa tahan melihat kamu menangisi sesuatu yang terkutuk itu, cinta. Bukankah sudah pernah aku sampaikan kepadamu, kamu harus siap dengan kebinasaannya? jatuh cinta kan memang membahagiakan, tapi ketika cintanya hilang, siap-siaplah, hanya tinggal jatuhnya saja, itulah kebinasaan yang aku maksud dulu Elena, kamu tidak juga mengerti rupanya. Apakah sikapku selama ini kepadamu tidak juga membuatmu mengerti? hanya dengan tidak mengucapkan atau menyatakannyalah kebinasaan tidak akan menghampiri, tapi kekecewaan lah yang akan datang menghampiri dan bersahabat baik dengan mu. Semua ada risikonya Elena, tinggal kamu pilih risiko mana yang mampu kamu pikul? kamu tidak mengerti juga rupanya.”

“Mengapa tuhan tidak menciptakan dunia ini dengan keindahan, kemudahan, dan kesenangan saja Abi? Mengapa?” Suara Elena terdengar lembut di telinga kiri Abigail, meskipun sedan.

Tangan Abigail membelai rambut Elena dengan lembut, Abigail masih saja tanpa ekspresi dan Elena masih menangis. Tak lama kemudian seseorang datang mendekat membawa gitar, tanpa perintah Elena maupun Abigail, orang itu bernyanyi. Setelah menerima apa yang diinginkan, orang itu mengucapkan terima kasih, tersenyum, lalu pergi meninggalkan Abigail dan Elena.

“Disini semakin dingin, Elena.” Abigail akhirnya bersuara, tapi ia tetap tidak menatap Elena.

“Kamu tidak benar-benar ingin duduk diam bersamaku disini Abi, pergilah.” Elena mengangkat kepalanya lalu menyeka matanya.

Abigail diam tanpa ekspresi.

“Atau mungkin aku yang harus pergi?” Elena menatap Abigail

Abigail melepas jaket yang ia kenakan, menjatuhkannya di pangkuan Elena lalu berdiri untuk kemudian pergi meninggalkan Elena seorang diri.

Rekomendasi

Leave A Reply

Your email address will not be published.