Trauma Delva

Setahun setelah hari pencoblosan, dapur siang itu pengap, ibu sedang memasak ikan tongkol pemberian tetangga, sedangkan Delva sedang asyik di depan televisi bututnya menonton berita.

“Ibu, sekarang banyak sekali penindasan, maksudku banyak orang yang dihukum tanpa diadili, apa kita salah memilih pemimpin?” keluhnya.

Ibu hanya tersenyum, senyum yang menutupi kebohongan. Ibu merupakan orangtua yang bekerja sendiri sejak ayah ditangkap pemerintah 9 tahun lalu karena terlalu kritis.

***

Di negara bernama Beshka, Delva tinggal. Beshka menjalankan pesta demokrasi setiap 3 tahun sekali, namun trauma yang dihasilkan dari perayaan semu tersebut bisa bertahun-tahun.

Setiap ganti pemimpin, negara ini seperti mengulang kesalahan lama dan menambah masalah baru. Para simpatisan dan pencoblos dipaksa maklum pada pemimpin yang baru, padahal mereka dijanjikan mimpi tinggi untuk mendapatkan kemakmuran sebagai warga negara.

Siang itu, di depan televisi butut Delva terpaku. Ia melihat kelakuan pemimpin dan strukturalnya yang amburadul. Pemberitaan waktu itu tentang penangkapan seorang pria yang menghajar anggota staf pemerintah lewat kata-kata yang mengungkapkan perbedaan pendapat. Padahal, mereka teman dekat. Tapi karena perbedaan jabatan, sang pria kena tangkap.

Delva teringat ayahnya yang juga ditangkap karena menolak sawahnya dijadikan gedung. Mekipun ayah hanya seorang petani, ia sangat mengagumi buku. Ayah seringkali membawa buku-bukunya sambil menyawah.

Delva tampak murung, tangannya gemetar membayangkan bagaimana kalau ia merupakan salah satu orang yang bertanggung jawab atas kekacauan ini.

Pemerintahan nampak berjalan sebagaimana mestinya, korupsi merajalela, oligarki menginjak kepala, dan pelanggaran birokrasi terus terdengar di berita. Delva terdiam di depan televisinya.

“Satu tahun lalu, aku mencoblos salah satu kandidat, apakah aku ikut membebaskan penindasan?” pikir delva. Ia dihantui rasa bersalah karena ikut pesta demokrasi.

Satu tahun lalu, merupakan tahun pertama Delva bisa mencoblos, ia masih sangat polos. Modal semangat dan kepolosan, Delva mengikuti rekam jejak, visi misi, hingga akhirnya menjadi salah satu simpatisan partai.

Rasa trauma yang dialaminya bukan tanpa dasar, setahun lalu ia memilih menjadi simpatisan suatu partai yang mengusung calon presiden, yang kini jadi presiden sungguhan. Kini Delva merasa bersalah atas itu, ia seperti ikut bertanggung jawab atas ribuan orang yang ditindas pemimpinnya.

“Apakah Delva ikut bersalah?” pertanyaan itu berputar-putar diatas kepalanya. Ia seperti digiring masuk ke neraka, seolah tindakan jarinya satu tahun lalu salah besar.

Kini Delva tidak lagi bisa bebas beropini di koran, majalah, sosial media, bahkan di pikirannya sendiri. Delva terganjal status simpatisan partai yang di elu-elukannya setahun lalu.

***

Tahun berganti cepat, Delva yang seperti biasa hanya duduk di depan televisi bututnya, kini kembali menjalani gejolak di dalam kepalanya. “Aku harus milih atau enggak ya tahun ini?”

Delva akhirnya berkomitmen untuk tidak memilih tahun ini, karena calon-calon yang ditawarkan, menurutnya, masih berada dalam lingkaran sang pemimpin yang dipilihnya tahun lalu. Tak mau masuk ke lubang yang sama, Ia akhirnya memutuskan memilih untuk tidak memilih.

Alasannya enteng; ia tidak mau menggunakan jarinya untuk menindas lagi. Begitu pemikirannya. Pun sepak terjangnya di media sosial berubah, tiga tahun lalu beranda media sosialnya berisi ujaran-ujaran semangat yang dialamatkan pada salah satu calon. Sekarang, isinya hanya kritikan yang tajam.

 

Penulis merupakan mahasiswa semester 8 Ilmu Komunikasi Jurnalistik UIN Bandung

Rekomendasi

Leave A Reply

Your email address will not be published.