The Hate U Give: Realitas Rasisme dan Perjuangan Melawannya

JURNALPOSMEDIA.COM – Saat kita berpikir segala sesuatu di zaman sekarang sudah serba maju, isu rasisme datang menepisnya. Tak heran, kita seolah masih hidup di zaman terbelakang yang senang menjauhi individu ataupun kelompok yang berbeda. Kaum minoritas pun seringkali mendapat imbas dari egoisme orang-orang yang merasa kaumnya superior.

Seperti yang dirasakan Starr (Amandla Stenberg) di film The Hate U Give. Film tersebut diadaptasi dari novel berjudul sama karya Angie Thomas. Daripada melawan, terkadang salah satu pilihan terbaik yang dilakukan sosok minoritas adalah bertahan.

Seperti halnya Starr, ia sebisa mungkin berusaha untuk tak terlihat mencolok agar tidak menimbulkan pertikaian baru. Kenyataan bahwa ia terlahir sebagai gadis berkulit hitam dan berada di lingkungan yang rasis pun dirasanya sulit. Ia tidak ingin mempersulitnya lagi.

Sedari kecil, Ayah Starr mengajari Starr serta adik dan kakaknya untuk tetap tenang dan tidak panik jika suatu saat nanti polisi memberhentikannya saat berkendara di mobil. Kebiasaan yang sudah mendarah daging, polisi berkulit putih kerap kali memandang orang berkulit hitam berbanding lurus dengan kriminalitas.

Ajaran sang ayah pun tertanam menjadi rasa sakit di hati Starr. Suatu ketika, Starr dan teman masa kecilnya yang bernama Khalil mengendarai mobil di malam hari tanpa melakukan kesalahan apapun. Namun, polisi berkulit putih memberhentikan mereka.

Polisi berkulit putih menginterogasi Starr dan Khalil dengan berbagai pertanyaan seolah menuduh keduanya melakukan tindak kriminal. Starr tetap tenang karena ajaran ayahnya, berbeda dengan Khalil yang sedikit memberontak sehingga ditembak polisi hingga mati.

Perlakuan rasisme dan diskriminasi tersebut menjadi pengalaman pahit bagi Starr. Hal itu kemudian mendorong Starr untuk membela hak-hak orang berkulit hitam sebagai manusia selayaknya. Perjuangan Starr yang dibantu keluarganya pun dimulai dengan terlibatnya mereka dalam berbagai aksi demo.

Mulai dari aksi demo melawan polisi yang dirasa tidak adil, hingga melakukan aksi tuntutan atas tidak ditindaklanjutinya polisi yang melakukan penembakan kepada Khalil.

Kasus George Floyd di Minneapolis, Amerika Serikat

Diskriminasi terhadap orang berkulit hitam tidak hanya ada di film saja. Namun, banyak sekali yang terjadi di dunia nyata. Kasus diskriminasi dan rasisme terhadap kulit hitam salah satunya menimpa George Floyd pada 25 Mei 2020 lalu. Peristiwa itu mengundang simpati banyak orang di dunia hingga mempopulerkan tagar #BlackLiveMatters.

Kronologisnya adalah saat George Floyd dituduh polisi berkulit putih atas pemalsuan uang hingga tuduhan itu berujung kematian. Leher George ditindih selama hampir sembilan menit lamanya. Ia berkali-kali mengucapkan “aku tak bisa bernafas”, namun sang polisi yang bernama Derek Chauvin itu malah tak memedulikannya.

Dilansir dari kompas.com, kejadian tersebut menjadi latar belakang adanya demonstrasi besar-besaran yang berkembang hingga setidaknya ke-350 kota seantero Amerika Serikat. Adapun 23 negara bagian harus mengerahkan Garda Nasional guna meredamnya. Selain itu, pekerja medis, pendemo, hingga tenaga medis pun mendapat kekerasan dari polisi di tempat aksi.

Sebagai manusia yang dibekali akal sehat, sudah seharusnya kita merangkul sesama tanpa melihat suku, ras, ataupun agamanya. Kejadian seperti ini harus dijadikan pembelajaran untuk ke depannya agar tidak terjadi kesalahan yang sama secara berulang-ulang.

Rekomendasi

Leave A Reply

Your email address will not be published.