Tempat Berbahaya di Luar Sana

Khiranz, 1957

Tempo hari nenek marah-marah, ia ingin membeli bahan pangan ke pasar tapi dilarang oleh Kepala Desa Khiranz. Menurutnya, Kepala Desa dengan ciri khas kumis tebal itu terlalu mencampuri urusan pribadi para warga.

“Dia kan tidak sepenuhnya salah,” ucapku pelan sembari menyesap teh pahit ciri khas nenek. Pasalnya, memang selama dua pekan ini kegiatan di luar rumah harus dibatasi. Aku tidak tahu pasti kenapa, tapi sepertinya aku tidak punya pilihan lain.

Sembari mencincang wortel, nenek menggerutu sebal. “Bocah 15 tahun sepertimu tahu apa sih?”

Benar juga, aku tidak tahu apa-apa. Kata Pamela, di luar sana berbahaya sekali. Ada wabah yang dapat merenggut nyawa siapapun tanpa terkecuali. Jujur saja aku penasaran wabah apa itu, Kepala Desa tidak pernah menjelaskan secara rinci kepada kami. Tapi sekali lagi, aku sepertinya tidak punya pilihan lain.

“Kau pasti rindu bermain dengan Pamela?” tanya nenek seolah bisa membaca pikiranku.

Aku mengiyakan, kemudian nenek menyuruhku pergi berkunjung ke rumah Pamela yang jaraknya hanya 10 menit jika aku tempuh menggunakan sepeda tuaku. Tapi aku menolak, aku terlalu takut. Kepala Desa dan beberapa bawahannya yang terlihat kekar itu sering mencegat warga di perbatasan.

Lagi-lagi nenek memasang wajah sebal. Ia tidak suka jika aku terlalu patuh akan kebijakan yang dibuat oleh pihak yang memiliki otoritas. Memang aku ini payah, padahal tidak ada transparansi seperti apa wabah di luar sana, tapi jujur saja aku takut mati. Nanti yang membantu nenek berjualan kue lapis siapa? hanya aku yang tersisa.

Kemudian nenek memakai mantelnya dan menjinjing tas belanjaan kecil. Tanpa kutanya dia berbicara dengan tegas, “Kita kehabisan stok makanan, mau tidak mau aku harus pergi agar kita tidak mati konyol oleh rasa lapar.”

Dengan berat aku melepas kepergian nenek.

Dan sayangnya, ia tidak pernah kembali.

Rekomendasi

Leave A Reply

Your email address will not be published.