Seorang Rektor yang Mengubah Dirinya Menjadi Tikus

“Kita harus membereskan semua ini.”

Aku sudah menjabat beberapa tahun ini menjadi rektor. Kini keadaan sedang tidak baik-baik saja, semua lapisan mahasiswa telah mendesak agar aku lengser dari jabatanku sebagai rektor di universitas terbaik. Hanya karena aku tidak bisa mengembalikan uang kuliah mereka yang baru berkuliah beberapa hari saja, dan kemudian terhenti di tengah pandemi seperti ini. Aku tidak mau.

Permberitaan diriku sudah tersebar kemana-mana dengan headline yang cukup untuk mengundang para mahasiswa untuk mengerahkan masa dan membakar emosi mereka. Aku tidak peduli dengan semua itu. Di saat seperti ini aku hanya butuh untuk bertindak satu hal, yaitu melenyapkan semua barang bukti yang ada. Dengan begitu soal penggelapan uang kuliah yang dibayarkan tidak akan terlihat jejaknya.

Aku mengumpulkan semua bawahan, mulai dari para ajudan hingga ke para dekanat yang ada di setiap fakultas. Mengarahkan mereka agar bisa menangkan mahasiswa mereka dan menyuruh mereka untuk meggalang bantuan untuk para mahasiswa yang tidak bisa pulang, dengan begitu setidaknya akan terkesan kita ini tidak merampas hak mereka. Kemudian aku menyuruh ajudanku untuk membawa berkas pembayaran uang kuliah yang telah masuk dan melenyapkannya.

Percobaan itu sia-sia belaka. Aku tidak mengerti mengapa gelombang masa terus menerus meningkat setiap harinya. Mereka tidak peduli dengan situasi seperti ini. Mengherankan.

Ternyata intrik-intrikku sudah tercium oleh mereka. Hal ini aku ketahui ketika mereka yang berdemonstrasi ke depan gedung rektorat dan membawa sejumlah bukti dan mendesak untuk menemuiku. Aku menitipkan kepada para ajudanku agar tidak memberitahukan keberadaanku di sini.

Kini diriku benar-benar terdesak. Aku tidak mungkin menemui para mahasiswa yang sudah berdemonstrasi di depan. Mereka terlalu banyak dan mungkin saja ketika aku sudah di luar mereka akan mencabik tubuhku, menghabisiku. Aku tidak ingin itu terjadi.

Aku mencoba untuk mencari jalan keluar dari gedung ini. Tidak mungkin menembus kerumunan dari depan. Kulihat sekeliling gedung ada pintu keluar darurat yang akan langsung menuju ke taman parkir. Ternyata mereka juga sudah menyesaki tempat itu. Sudah tidak ada lagi jalan keluar untuk berlari.

Kecuali aku berubah jadi bentuk lain agar bisa melarikan diri. Merubah diri menjadi apa? Seonggok tanah? Tidak mungkin. Yang paling memungkinkan untuk melarikan adalah menjadi seekor bintang. Ya, binatang.

Pikiranku masih berkutat tentang bagaimana caranya menjadi bintang. Kalaupun bisa, aku bisa menjadi bintang apa? Belalang? Kucing? Anjing? Tidak mungkin. Aku tidak ingin menjadi serangga. Aku juga tidak ingin menjadi kucing atau anjing. Kedua binatang itu terlalu dekat dengan manusia. Kehadiranku di gedung ini mungkin akan menjadi perhatian para ajudanku dan para pegawai kantor.

Mungkin yang paling memungkinkan adalah menjadi tikus. Dengan menjadi tikus, aku akan memiliki akselerasi cepat dan lincah dan mengetahui jalur-jalur tersembunyi di gedung ini sehingga bisa keluar. Lagi pula, siapa yang akan ingin memerhatikan tikus? Makhluk paling kotor ini juga menjengkelkan. Paling-paling orang akan melihatnya secara sekilas. Lalu membiarkannya masuk ke dalam got atau saluran-saluran menjijikan lainnya. Bukan begitu?

Baiklah, aku mending menjadi tikus saja agar bisa melarikan diri dari gedung ini. Walaupun tidak mengetahui caranya, aku pernah melihat mengubah diri menjadi bentuk lain. Hanya mencoba berkonsentrasi dengan memejamkan mata, ku tirukan adegan itu secara persis. Sambil berkonsentrasi keras, aku memjamkan mata. Keadaan di luar semakin tidak kondusif. Masa yang semakin banyak mulai merangsek masuk.

Beberapa saat kemudian aku berhasil menjadi seekor tikus. Kini tugasku hanya satu, hanya perlu mencari jalan keluar. Aku mengitari gedung ini, tidak sulit bagiku untuk menemukan jalan keluar melalui saluran air yang mampat. Insting tikusku terasa menggelikan tapi mengasyikan. Aku berhasil menemukan jalan keluar, mengikutinya, dan tiba-tiba sudah berada di luar. Bahkan tepat di lapangan parkir dan kebetulannya lagi saluran pipa ini berujung tepat di atas mobilku. Aku lega sekali.

Aku turun dengan melompat dari satu pipa ke pipa lain yang lebih rendah. Sangat mudah hidup menjadi tikus pikirku. Aku mencoba kembali menjadi manusia. Ternyata proses kembali menjadi manusia tidak semudah yang aku bayangkan. Aku coba memejamkan mata, dan berkonsentrasi. Itu tidak belum juga cukup berhasil merubah tubuhku kembali. Akhirnya aku memutuskan untuk memasuki mobil saja, untungnya di dalam ada supirku dan pintu samping bagian tengah tidak tertutup, biar aku coba lagi menjadi manusia di dalam saja.

Belum sempat tikus itu melompat masuk ke dalam mobil, ia tertendang oleh seseorang yang lewat. Kemudian terlindas mobil yang lewat dengan kecepatan tinggi. Sang tikus tewas secara tragis dengan isian terburai dan wajah yang tak berbentuk. Orang yang melintas melihat dengan tatapan jijik dan tak peduli. Kemudian berlalu dan mengabaikannya.

 

Penulis merupakan Mahasiswa Semester IV Sosiologi UIN Bandung

Rekomendasi

Leave A Reply

Your email address will not be published.