Senjata Kata-kata Sosok Widji Thukul

JURNALPOSMEDIA.COM – Sosok aktivis, seniman, sekaligus pejuang yang mendobrak pintu pembelengguan kebebasan berbicara terlahir di Solo pada 1963 silam. Ia adalah Widji Thukul. Aksi dan kata-katanya yang dibalut dalam puisi adalah senjata untuk mengungkapkan berbagai ketidakadilan serta pengingkaran harkat dan martabat manusia.

Dalam sebuah mimbar perayaan hari kemerdekaan 1982, Widji lewat puisinya menyindir kemerdekaan yang hanya bisa dirasakan segelintir orang saja di negeri ini. Dikutip dari berbagai sumber, kegemaran Widji dalam berdeklamasi muncul sejak SD dan makin terasah di tingkat SMP.

Sampailah pada saat Widji bergabung dengan kelompok Teater Jagat. Ia mengamen dengan puisi serta keluar-masuk kampung dan kota. Jejak perlawanan Widji sebagai aktivis dan penyair pun banyak terlihat. Sempat dalam suatu aksi, Widji tertangkap dan dihajar bertubi-tubi oleh aparat. Mata kanannya bengkak dan membiru hingga terancam buta.

Kejadian tersebut membekas dalam batin Widji yang ia curahkan dalam Maklumat Penyair, dengan penggalan sebagai berikut.

Pernah bibir pecah ditinju
Tulang rusuk jadi mainan tumit sepatu
Tapi tak bisa mereka meremuk: kata-kataku!

Widji pun diketahui pernah menjadi pimpinan Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (Jakker). Jakker adalah organisasi yang bergerak melawan pemerintahan represif Orde Baru melalui jalur kesenian rakyat. Sejak awal era 1990-an hingga 1998, penyair dan aktivis pro-demokrasi ini memang dianggap berbahaya oleh pemerintah Orde Baru.

Widji Thukul yang bernama asli Widji Widodo ini pun dinyatakan hilang sejak 1998 dan hingga kini belum ditemukan. Widji diduga menjadi salah satu korban penculikan oleh aparat Kopassus Mawar yang juga menyeret beberapa nama aktivis pada kerusuhan Mei 1998.

Widji bukanlah penyair yang hanya piawai menyuarakan kata-kata puitis. Dia dan kata-katanya adalah penggerak massa yang tertindas. Kata-kata puitisnya kerap menjadi penyemangat para aktivis saat memperjuangkan kebenaran. Salah satunya dalam puisi berjudul Peringatan yang baitnya seolah jadi komando bagi demonstran hingga kini.

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!

Rekomendasi

Leave A Reply

Your email address will not be published.