Senjakala Pamor Penjual Kaset, Masih Ada Ruang di Hati Penikmatnya

JURNALPOSMEDIA.COM – Keberadaan penjual kaset pernah menjadi primadona hiburan masyarakat pada masanya. Bagaimana tidak, dengan harganya yang relatif murah serta mudah dijangkau, dahaga masyarakat untuk menyaksikan hiburan bisa lekas terpenuhi.

Usaha penjualan kaset juga pernah menjamur dan mendongkrak industri perfilman tanah air. Waktu pun tak terasa berlalu. Siapa sangka, meski kini digempur teknologi yang semakin modern, para penjual kaset ini masih tetap eksis. Salah satunya, penjual kaset yang ada di Pasar Ujung Berung, Kota Bandung.

Saat dikunjungi, tampak sepetak lapak yang di kanan-kirinya terdapat pajangan kaset DVD/VCD/PS. Banyak varian yang dijajakan mulai dari kaset edukasi, film, kartun anak, dan kumpulan lagu-lagu populer. Satu buah televisi yang terhubung dengan DVD dan speaker pun dipampang untuk menampilkan ulasan kaset yang akan dibeli pengunjung.

Saat ditemui Jurnalposmedia, pemilik usaha kaset, Dendi Suryadi (37) pun angkat suara. Ia mengaku bahwa bisnis penjualan kasetnya masih diminati oleh masyarakat meskipun tidak seramai dahulu. Namun, Dendi tak menyangkal bahwa kini pamornya perlahan tergeser oleh kehadiran platform lain yang lebih modern.

“Soalnya zaman sekarang ada Youtube dan lain-lain. Jadi semua orang bisa melihat video, musik, dan hal apa saja di internet. Meskipun dianggap kuno atau tidak laku lagi, ya tapi buktinya masih eksis sampai sekarang. Walau saya rasa tidak sebanyak 10 tahun yang lalu,” tutur Dendi pada Selasa (3/11/2020).

Pada masanya, bisnis jual-beli kaset memang mendatangkan keuntungan yang besar. Tren hiburan lewat tayangan VCD dan DVD yang mulai booming sejak 2000-an ini membuat usaha penjualan kaset naik daun. Dendi sendiri mengungkap telah satu dekade menjalankan usaha ini. Diakuinya, hal itu bermula dari ajakan sang kawan.

“Awalnya saya tertarik dengan ajakan teman saya yang seprofesi. Nah, dari situ saya tahu kalau berjualan DVD, VCD, dan PS ini memiliki untung yang banyak. Modalnya pun terbilang kecil, awal-awal itu 10 jutaan, tapi yang cukup mahal ya sewa lapak ini,” terangnya.

Dendi membanderol harga kaset DVD/VCD/PS mulai dari Rp7.000, Rp10.000, Rp20.000, dengan batas harga di bawah Rp50.000. Pembeli kaset, kata Dendi, didominasi oleh kalangan remaja. Adapun kaset DVD film menduduki posisi pertama sebagai yang terbanyak dibeli.

Salah satu pembeli yang juga mahasiswi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Santi Apriliani juga berkunjung ke lapak kaset milik Dendi. Netranya tampak menyeleksi kaset pilihan yang akan dibelinya. Ia beralasan, kegemarannya membeli kaset karena telah terbiasa sejak ia kecil.

“Kaset-kaset seperti film juga bisa diputar ulang. Kalau di internet semisal streaming film itu kan biasanya lumayan (menguras) kuota internet. Saya juga suka nonton film, kalau ke bioskop kan nambah biaya. Kalo beli kaset kan hemat biaya. Ya jadinya seperti hobi mengoleksi (kaset) gitu,” katanya.

Perempuan berusia 22 tahun itu mengaku senang mengoleksi kaset yang memuat film barat dan drama Korea. Sisanya, kata Santi, ia mengoleksi kaset musik karena senang berkaraoke. Lebih lanjut, maraknya fenomena kaset bajakan juga tak luput dari perhatian Santi.

“Soal itu sebenarnya (saya) tahu akan kaset bajakan. Tapi bagi penjualnya sendiri ya (memang) sulit untuk mendapatkan kaset yang original. Ya mau gimana ya, soalnya sudah terbiasa sih dengan harga yang bersahabat begitu,” ungkapnya.

Kendati makin tergerus perkembangan zaman,  para pangusaha kaset berupaya mengikuti perkembangan teknologi. Dendi mengatakan bahwa penjual kaset mulai merambah penjualan secara daring untuk memperluas pasar. Dendi menuturkan, lapaknya masih bisa meraup omzet hingga Rp2 juta per bulan.

Menjelang akhir perbincangan, Dendi mengatakan bahwa dirinya masih nyaman dan akan bertahan dengan pekerjaan yang tengah ia jalani ini.

“Saya rasa sudah nyaman di kerjaan ini. Pasalnya istri pun kan di rumah berjualan masakan dan alhamdulillah laku tiap harinya. Jadi, keluarga juga mendukung apa saja yang saya kerjakan, dan mungkin di usia segini sudah cukup sulit untuk melamar ke perusahaan atau pabrik begitu. Jadi memilih tetap bertahan aja,” pungkasnya mengulas senyum.

Leave A Reply

Your email address will not be published.