Sayur Hambar Bapak

Asap mengepul tebal dari arah dapur, bau hangus serta bapak yang bergerak panik membawa segayung air dari wc menyambut pagi hariku. Dengan kesadaran yang masih setengah terkumpul, kulihat bapak menyiram ketel kami yang sudah astaga hitamnya. Dari ketel itu juga, kutahu dari mana asalnya asap menyesakkan ini. Bibirku kelu, hampir ada kebakaran yang menjadi sarapan pagiku hanya karena bapak memasak.

Bapak batuk-batuk sambil memaksakan senyumnya saat melihat aku mematung di depan pintu dapur. “Maaf sarapan  kamu gosong, Ran.” Ujar Bapak penuh sesal dengan senyum kaku.

“Qiran sarapan di kampus saja, Pak,” Aku berjalan mendekat melihat apa yang sudah menghitam di atas ketel. “Bapak masak apa?”

Alamak, benda tak karuan hitam apa itu? Aku membatin.

“Bapak nyoba masak telur kesukaan kamu, resep almarhum Bunda. Tapi malah gosong.” Ucap bapak. Dapat kurasakan nada penyesalan di antara kalimatnya.

“Bapak enggak perlu masak lagi buat Qiran, Qiran bisa kok cari makan atau masak sendiri.”

Bukannya aku tidak menghargai usaha bapak, tapi daripada dapur kami nanti senasib dengan telur pagi ini lebih baik bapak menjaga jarak dari dapur. Aku juga tidak mau memikirkan yang paling buruk terjadi pada bapak. Beliau adalah sosok yang terbiasa berkutat dengan pekerjaan kantoran, bukan ahli dalam urusan memasak. Raut kecewa tercetak di wajah bapak, wajah yang mulai renta dan termakan usia itu semakin kurus kulihat setiap harinya. Sejak kematian bunda setahun lalu, keluarga kecil kami memang terguncang karena kini hanya menyisakan aku dan bapak di rumah. Gelak tawa kehangatan kala ibu memasak dan menyiapkan makanan untuk aku dan bapak setiap harinya sudah lenyap.

Bapak menggaruk tengkuknya yang kutebak bahkan tak gatal sedikitpun, beliau berjalan canggung melewatiku lalu memasuki kamarnya.

Siang hari setelah aku selesai kuliah, kudapatkan pesan dari bapak kalau beliau mengajakku makan siang dan sudah menunggu di gerbang kampus. Sontak aku berlari seperti dikejar setan di siang bolong, menarik atensi setiap orang. Dengan napas putus-putus kulihat bapak duduk di atas motor matic-nya yang keluaran lima tahun lalu, senyum hangatnya  membuatku tak bisa berkata-kata. Antara jengkel dan terharu dengan kejutannya.

“Bapak ngapain sih repot-repot datang ke kampus Qiran? Panas tahu, jalan ke sini juga macet kalau jam makan siang, nanti Bapak pulang ke kantornya telat.” Ceroscosku sambil meraih helm yang bapak sodorkan.

“Anak Bapak ini memang cerewet, persis Bundanya.” Ejek Bapak.

“Bapak ihh! Qiran serius nih.” Sahutku sebal.

“Bapak enggak boleh ngajak Qiran makan bareng, yah?”

Oke, kalimat barusan sudah telak membuatku tidak enak pada Bapak. Kuhela napas berat dan menuruti kemauan bapak, siang itu.

Malam harinya aku sedang berleha-leha di atas tempat tidur sambil asik memainkan ponsel, hingga suara panci yang beradu dengan keramik membuatku kaget bukan main. Kutebak itu dari dapur dan pastinya, bapak.

Aku berjalan pelan menuju dapur berusaha mengintip apa yang bapak lakukan. Samar-samar kudengar suara seorang wanita dan kutemukan bapak tengah menatap serius layar ponselnya yang beliau sandarkan pada toples kopi. Sekarang dapat kutebak dan pasti tidak salah lagi kalau bapak tengah melihat tutorial memasak dari internet.

“Garamnya satu sendok gitu emang enggak bakal keasinan, ya? Qiran enggak suka makananan yang keasinan soalnya.” Bapak bergumam pada dirinya sendiri.

Tawaku hampir pecah saat kulihat bapak kesulitan membedakan bumbu-bumbu dapur hingga memotong sayuran dengan perhitungan bak tengah memotong kayu untuk furniture. Rasa hangat menjalari hatiku, betapa beruntungnya aku memiliki bapak seperti beliau.

“Akh!” Pekikan bapak membuatku panik dan sontak berlari ke arahnya.

“Bapak kenapa? Bapak kok ceroboh sih!” Ucapku saat melihat darah mengalir dari luka sayatan di jari Bapak.

Bapak mendesis kesakitan dan memaksa bibirnya tersenyum padaku, “Qiran belum tidur? Bapak enggak apa-apa kok, sudah biasa.”

Kuamati jari keriput itu dan mendapati siluet bekas luka-luka sayatan di jari bapak.

Mataku memanas, perasaan sesak penuh rasa bersalah melihat jari-jari bapak yang sering terluka karena memaksakan dirinya memasak untukku.

“Bapak enggak usah masak lagi pokoknya!” Seruku tegas.

Seperti anak kecil yang baru dimarahi, bapak menunduk dalam. Kutarik bapak duduk di ruang tamu dan mengobati lukanya.

“Bapak mau Qiran makan masakan rumahan lagi.”

Setelah mengatakan kalimat itu, bapak menarik tangannya yang selesai kuobati lalu kembali berjalan ke dapur. Terdengar suara pisau yang beradu dengan talenan, dan bapak yang tampak mengusap matanya berulang kali.

“Bapak nangis?” Tanyaku dengan suara serak ikut menangis.

“Bapak enggak nangis Ran, ini bawangnya bikin perih mata aja kok. Kamu tidur aja duluan.”

***

Pagi ini, kulihat bapak di antara kumpulan ibu-ibu yang mengerumuni gerobak tukang sayur yang memang sering berkeliling di komplek rumah kami. Kulihat bapak berbaur dengan mudah tanpa canggung. Matanya meneliti tiap barang yang akan dia beli dengan seksama, dan tanpa sadar malah memborong apa saja yang ditawarkan padanya. Aku bahkan sangsi apa yang akan bapak lakukan dengan ikan gurame besar yang ia beli akibat rayuan tukang sayur yang mengatakan ikan itu bisa sangat enak jika hanya digoreng dengan garam saja.

“Bapak mau bikin hajatan?” Tanyaku saat melihat dua keresek besar yang dijinjing bapak.

Bapak tersenyum kecil, “Mau bikin kejutan makan malam buat Qiran, kamu enggak ada kuliah hari ini?”

“Ada kok, kayaknya Qiran pulang habis Isya, soalnya ada rapat UKM—“ Kalimatku terhenti saat baru menyadari sesuatu.

Jika aku pulang setelah Isya dan bapak di rumah memasak lagi, apa yang akan terjadi?

Pikiranku berimajinasi liar dengan bayangan bapak yang menggoreng ikan gurame sebesar itu sampai minyaknya menyembur bak lava panas. Atau lebih menyeramkan lagi, bagaimana jika insiden telur goreng gosong tempo hari terulang lebih parah dengan gurame?

Bapak melangkah santai ke dapur sambil bersiul riang meninggalkanku dengan keringat dingin khawatir.

“BAPAAAKK!!”

Setelah memastikan ikan gurame itu aman di dalam kulkas dan bapak yang kuceramahi habis-habisan akan bahayanya menggoreng ikan, aku bersiap pergi kuliah sore. Kutunjukkan raut ancaman serius jika bapak berani menuruti saran mamang sayur tadi pagi.

“Qiran bakal usahain pulang habis Magrib, Bapak masih ingat kan apa wejangan Qiran?”

“Iya Ran. Bapak janji enggak bakal goreng gurame kesayangan kamu itu.” Cibir bapak.

“Qiran serius loh, Pak!” Rengekku gemas.

“Iya iya sudah sana kamu pergi kuliah, entar telat.”

Kucium tangan bapak dan berpamitan. Rasanya firasatku buruk saat akan meninggalkan bapak, namun kuenyahkan karena yakin bapak akan baik-baik saja.

Sepanjang perkuliahan aku tidak bisa berkonsentrasi, aku terus mengirimi bapak pesan namun tak ada balasan apa pun. Saat perkuliahan selesai, kuputuskan absen untuk rapat UKM setelah maghrib nanti. Sebelum pulang, kutunaikan salat Magrib di musala kampus, hingga ponselku berdering saat aku baru selesai shalat.

“Bu Lastri?” Untuk apa tetanggaku yang terkenal suka bergosip ini menelepon, lagipula darimana dia tahu nomor ponselku? Oh iya, kan satu grup arisan, batinku.

“Assalamualaikum Bu Lastri, ada apa ya?”

“Neng Qiran cepet pulang, Neng!!!” Panik Bu Lastri dari seberang sana.

“Bu Lastri jangan panik dulu, Bu! Ada apa?” Ujarku malah lebih panik.

“Bapak Neng Qiran! Itu tuh aduh, API!!!” Teriak Bu Lastri.

Sontak aku langsung mematikan telepon dan berlari kencang ke pangkalan ojek terdekat. Dengan panik kumarahi tukang ojek itu agar mengebut.

Sesampainya di rumah, kulihat sudah banyak orang yang berkumpul depan rumah dan Pak RT yang menggedor-gedor pintu rumahku sambil memanggil-manggil bapak yang tak menyahut. Asap hitam pekat membumbung tinggi dari halaman belakang rumahku.

“BAPAAKK!!!”

Kuterjang beberapa pemuda yang coba menahanku lalu mengeluarkan kunci cadangan dari tas, dengan panik aku berlari ke arah dapur bersama beberapa orang yang siap dengan seember air. Namun, tidak menemukan bapak dan dapur kami masih baik-baik saja. Sayup-sayup kudengar alunan suara Nike Ardilla dari halaman belakang, kubuka pintu yang menghubungkan dapur dan halaman belakang lalu menemukan bapak yang sedang berjongkok di depan api unggun sambil membakar ikan gurame tadi pagi.

Sebuah radio menyala di dekat pintu yang baru kubuka dan memainkan lagu-lagu Nike Ardilla kesukaan bapak.

“Lho, Qiran? Ada Pak RT juga? Kenapa ramai gini sambil bawa ember?” Bapak menatap kami kebingungan dengan wajahnya yang sudah menghitam akibat asap.

“BAPAAAAK IHH” Aku berteriak kesal lalu memeluk bapak ketakutan. Aku menangis histeris saat semua orang bernafas lega karena bersyukur tidak terjadi kebakaran seperti yang dikira sebelumnya. Kumpulan orang yang menonton rumahku sudah bubar menyisakan aku dan bapak.

Tanpa rasa bersalah sedikit pun, Bapak mulai menyajikan makanan di meja dan aku hanya duduk menatapnya kesal sambil sesegukan menangis.

“Bapak engak apa-apa kok Ran, sudah nangisnya.” Ucap bapak.

“Bapak ngapain sih bakar ikan sampai kayak rumah kita kebakaran?! Qiran kira Bapak celaka …” Sahutku disambung tangisan keras.

“Iya Bapak minta maaf, habisnya kamu enggak izinin Bapak goreng ikannya.” Kilah Bapak.

Senyuman riang bapak saat dengan bangga menyajikan masakannya membuat hatiku menghangat.

“Ikannya agak gosong, biar Bapak bersihin dulu yang gosongnya. Tuh kamu coba aja dulu sop buatan Bapak.”

Aku mengangguk, kuambil kuah dan isian sayur dari sop buatan bapak kepiringku dan menyuapnya dengan lahap.

“Enak Pak! Enak banget…” Seruku sambil terus melahap isi piring dengan semangat.

Bapak mengambil sesendok kuah sup di mangkok lalu mencicipinya.

“Ini hambar, Ran!” Ucap Bapak.

Aku menggeleng sambil terus mengunyah, “Ini enak Pak, karena Bapak buatnya pakai cinta buat Qiran. Persis masakan Ibu, Qiran sayang Bapak.” Tangisku pecah.

Bapak mengusap matanya yang berair lalu menyodorkan wadah garam padaku.

“Kamu jangan maksain, Bapak juga sayang Qiran.”

 

Rekomendasi

Leave A Reply

Your email address will not be published.