Saya Yang Ditinggalkan

Hembusan angin yang kencang, matahari yang menyinari pemukiman, serta suara hewan ternak yang berlarian di sekitar rumah antik yang terpencil. Ditempati oleh seorang remaja perempuan bernama Saya, mungkin bagi beberapa orang yang pertama kali mendengarnya ini sangat asing dan aneh. Hidup yang terus dilanda kenangan buruk yang menyelimuti dirinya, karena ditinggal seorang kekasih yang ia cintai sejak kecil, pria itu bernama Yosa.

Tetesan air mata yang tak hentinya menyerang hati perempuan itu, ketika membaca selembar kertas lusuh dari sang kekasih yang ia simpan selama 10 tahun terakhir, yang bertuliskan:

“Saya, jika seandainya aku pergi, engkau tidak perlu memikirkan aku lagi. Karena jika kau masih merindukan aku, itu akan memberatkan hidupmu, biarkan tuhan mencari jalan hidupmu. Biarkan tuhan yang mencari pria yang selalu menemani hidupmu sampai akhir.”

Salam hangat,

Yosa

Sejenak ia pun menatap jendela, dan memandang halaman yang diguyur hujan deras dengan tatapan kosong. Kepalanya terus ditutupi dengan rasa sedih yang luar biasa akan kehilangan seseorang yang dicintai. Sejak kecil, mereka bertemu di sebuah warung yang ada di sekolah dengan tatapan malu dan canggung. Di sekolah, Saya dikenal sebagai perempuan yang pintar dan cantik bagaikan mutiara, banyak laki-laki yang jatuh cinta dengan kelebihannya. Seorang pria yang berasal dari keluarga tidak mampu dan pendiam, Yosa juga dikenal sebagai laki-laki yang pintar dan tampan. Saat kecil, mereka secara tidak sengaja bertemu di sebuah kantin sekolah. Mereka saling bertatapan dengan perasaan malu dan canggung.

Saya pun mencoba berbicara dengannya, “Hai, Namaku Saya, siapa namamu?,” bertanya sambil memberi dia segelas air, laki-laki itu menjawab dengan perasaan kaget dan malu, “Na..namaku Yosa”. Saya mencoba mengungkapkan perasaannya kepada lelaki tersebut, “Aku suka dengan sifatmu yang murah hati, maukah kamu jadi pacar ku?.” Belum sempat memberikan jawaban, bel tanda masuk berbunyi, ia pun dengan terburu-buru dengan menjawab, “Nanti saja kita bahas itu”.

Kisah cinta mereka dimulai ketika bel pulang berbunyi. Saat itu, saya menunggu jemputan ayahnya ke sekolah, namun tak kunjung datang. Yosa yang membawa motor, mulai menghampirinya. “Kamu tidak ada jemputan? Maukah aku antar pulang kau ke rumah?”, Saya pun tanpa ragu menerima tawaran tersebut.

Di perjalanan, mereka saling mengobrol soal hubungan mereka, “Gimana? Sudah ada jawabannya?, tanya Saya kepada Yosa, ia pun menjawab. “Boleh, tapi kamu jangan sakit hati karena kehidupanku ini,” Saya pun memeluknya dengan rasa senang. Yosa membawa Saya ke rumahnya, ia pun menunjukkan rumah yang ditempatinya. Rumah yang hanya terdiri dari kayu, atap yang bolong, dan kotor, membuat banyak perempuan enggan menjadi kekasihnya. Namun, itu tidak membuat Saya benci, baginya seorang pria sejati akan selalu menemaninya sampai akhir tanpa peduli kondisinya.

Rekomendasi

Leave A Reply

Your email address will not be published.