Saat Tradisi Menjadi Dalih Mengakali Pemerintah

JURNALPOSMEDIA.COM – Bulan Mei ini, tampaknya menjadi puncak rasa geram dan amarah sebagian masyarakat Indonesia yang manut pada anjuran pemerintah untuk mencegah penyebaran virus Covid-19. Bagaimana tidak, mereka sudah berjuang menahan dirinya untuk tidak keluar rumah. Namun, usaha itu rasanya tak berarti apa-apa.

Mereka malah disuguhi pemandangan sebagian orang yang dengan bebas hilir mudik di tempat umum. Sudah diperingatkan jangan mudik dulu, jangan beli baju lebaran dulu, jangan silaturahmi secara langsung dulu, dan yang terpenting jangan keluar rumah dulu. Duh, untuk nurut saja sulitnya luar biasa.

Kiranya, apa yang menjadi akar dari persoalan ini? Tentu saja, tidak lain dan tidak bukan adalah tradisi kebanyakan masyarakat Indonesia yang sangat kuat. Lebaran harus memakai baju baru, lebaran harus mudik dan silaturahmi dengan sanak famili di kampung halaman. Belakangan ini pun, kita dibingungkan perbedaan makna mudik dan pulang kampung.

Tak lama, keluar aturan PSBB yang katanya akan sangat ketat saat diberlakukan. Pemerintah kita ini, seperti tidak tahu saja betapa lincahnya masyarakat Indonesia. Terbukti, aturan PSBB pun akhirnya dipecundangi sebagian orang. Contohnya, mereka yang ramai-ramai merayakan seremonial penutupan salah satu restoran cepat saji.

Dalihnya, di tempat itu dulunya banyak kenangan manis. Lantas, apa arti PSBB di mata mereka? Jelas tidak ada. Eh, mungkin ada, sih. Ada di kertas peraturan yang mungkin sama sekali tidak mereka baca atau lebih tepatnya hanya dianggap angin lalu.

Beralih pada aturan larangan mudik. Apakah berhasil? Jawabannya bisa kita saksikan sendiri. Sebagian orang jadi mendadak kreatif untuk mengakali larangan mudik. Taktik mereka sangat mind-blowing, luar biasa. Barangkali ada suara sumbang di luar sana yang bertanya, apa sih hak pemerintah mengatur tradisi yang sudah mendarah daging ini.

Merelakan kenangan manis di restoran saja tidak kuasa, apalagi menahan rindu. Jelas lah masyarakat tidak mampu. Bandara kesayangan masyarakat Jakarta juga menjadi saksi luapan rasa rindu tak terbendung di tengah PSBB, yang katanya akan ketat ini.

Sembari mengantre di bandara, sepucuk surat resmi ada di genggaman. Itu menjadi tanda sahnya mereka agar bisa terbang ke kampung halaman tercinta. Tentunya, harus digarisbawahi bahwa surat itu valid dan didapatkan lewat cara yang baik dan benar, ya.

Kemudian berbicara baju baru, apalah arti lebaran tanpanya? Rasanya pasti sulit menahan hasrat membeli ‘baju bedug’. Membeli langsung di pusat perbelanjaan rasanya lebih afdal, yha, meski di tengah pandemi ini. Banyak juga pasar yang dengan santai dan leluasanya berjualan layaknya hari biasa.

Di mana itu? Ah, di daerahmu juga pasti ada. Tak ingin berburuk sangka, tapi bagaimana lagi. Per tanggal 21 Mei 2020, 973 orang terdata positif Corona. Itu menyumbang data positif Corona di Indonesia yang mencapai 20.162 pada tanggal tersebut. Lalu, saat itu kemana petugas keamanan yang seharusnya “mengamankan” keramaian itu?

Terakhir, tentang silaturahmi secara langsung. Apa Corona membuat kita berhenti untuk melakukannya? Yang benar saja, masyarakat sudah bayar pajak bumi, masa tidak boleh untuk sekadar silaturahmi -ujar suara sumbang di luar sana-.

Petugas pasti sudah kewalahan untuk yang satu ini, di sisi lain sudah bosan disebut kaum yang pro kapitalis karena membiarkan mal dan pasar buka, namun masjid dan musala ditutup. Atau malah sudah percaya, bahwa budaya dan tradisi di Indonesia ini sudah mendarah daging dan tidak akan lepas walau esok atau lusa seluruh semesta sirna.

Rekomendasi

Leave A Reply

Your email address will not be published.