Browsing Category

Puisi

Amarah menikam Menusuk sukma semesta batinku Kali ini apa yang membuatnya geram? Menerus mengundang murka Bukankah dunia ini fana? Alam beserta setannya pun kan binasa Edelweiss dan mawar yang indah sekalipun akan hancur Kawan dengan segala…
Selengkapnya...

Kruschev

Tak pernah peduli destalinisasi. Yang ku butuh detol dan nasi. Jalur kiri mu sudah luntur. Anak kemarin sore terkena guntur. Dataran tiongkok kau hina. Petani vietnam merana. Dasar, iblis terhina! Bintang sudah tak merah. Tentara salju…
Selengkapnya...

Wasiyyah

Malam itu bulan terbelah menjadi dua, satu tergantung di langit dan yang lainnya menjadi mangkok! cap ayam jago. Menjadi wadah dari percampuran keringat ayah dan kasih sayang ibu Ibu: Nak! Kepalamu dua dasawarsa Potonglah rambutmu Bukankah…
Selengkapnya...

Kepada Ibu

Di tengah ingar-bingar dunia dan kekhawatiran di masa depan, Pelukmu Ibu, adalah sebaik-baiknya rebah dan rumah. Di antara orang-orang yang hidup tanpa hati dan tinggi diri, Dadamu Ibu, adalah sebenar-benarnya lapang yang ku kenal. Disemua…
Selengkapnya...

Sore Itu, Puan

Sore itu, Puan Di sela-sela rusuknya yang mengambang Yang di setiap rima jantungnya menghangatkan yang lain Tercium aroma yang menusuk syaraf setiap ingatan. Padamu tubuh ini terhampar Sore itu, Puan Gurat garis di dahimu terhalang daun…
Selengkapnya...

Pergi

Aku akan pergi Tanpa bisa kau lihat lagi Aku akan pergi Tanpa bisa kau ikuti lagi Aku akan pergi Tanpa bisa memegangmu lagi Maafkan aku, kau pasti sedang sedih saat itu, Tapi ini sudah waktunya Untuk aku pergi Tapi Ingatlah aku Sebagai…
Selengkapnya...

Balada Gadis (S)ayu

Pelita kian meredup Seakan berkata tentang fakta yang tertutup Membiarkan bau bangkai terhirup Sebab angin meniup Apapun makhluk hidup Seorang gadis ayu terbujur kaku Terhimpit kayu kering Ada sungai merah disekitarnya Beserta luka yang…
Selengkapnya...