Rendahnya Kualitas Pendidikan Indonesia

JURNALPOSMEDIA.COM – Pendidikan, kata yang tidak asing terdengar di telinga kita. Sebuah topik yang banyak dibicarakan orang, terlebih di kalangan pelajar maupun mahasiswa. Apalagi di situasi seperti saat ini, pendidikan menjadi salah satu aspek yang terkena dampak pandemi Covid-19 yang menginfeksi seluruh belahan dunia.

Tidak heran jika topik ini semakin sering dibahas, misalnya seperti bagaimana pola pendidikan di saat pandemi? Akankah pandemi menghambat proses pembelajaran? Dan berbagai macam pertanyaan lainnya.

Memang benar akan ada banyak sekali pertanyaan, keraguan, dan kekhawatiran yang muncul. Namun ada sebuah pertanyaan yang menurut saya sangat penting, terlintas dalam benak saya dan mungkin sebagian orang juga berpikir demikian. Ketika kita membahas mengenai pendidikan di Indonesia.

Terlepas dari masalah pendidikan yang baru muncul akibat pandemi (mengingat sebelum permasalahan Covid-19 ini muncul pun sudah banyak permasalahan pendidikan lainnya). Apakah pendidikan di Indonesia itu semakin baik setiap tahunnya?

Jika kita melihat kondisi yang terjadi akhir-akhir ini, mungkin sebagian besar dari kita berpendapat bahwa mutu pendidikan masyarakat Indonesia itu cenderung masih lemah. Begitu banyak contoh yang memperkuat argumentasi tersebut, misalnya begitu mudahnya masyarakat kita percaya pada berita-berita bohong.

Menurut data dari Centre for International Governance Innovation (CIGI) IPSOS 2017, sekitar 65 % masyarakat Indonesia mudah percaya berita hoax. Bahkan menurut data dari Kemkominfo, Indonesia berada di peringkat 7 dunia sebagai negara yang paling mudah percaya berita bohong.  

Contoh lainnya di mana masyarakat takut untuk bersaing. Beberapa waktu lalu ramai dibicarakan berita mengenai 500 tenaga kerja asing asal Tiongkok yang akan didatangkan di tengah pandemi Covid-19.

Dalam kasus ini, saya tidak akan membahas bagian Covid-19. Namun saya ingin menyoroti ketidakmampuan tenaga kerja lokal bersaing dengan tenaga kerja asing yang secara tidak langsung berkaitan dengan kualitas pendidikan di negara kita. 

Dikutip dari regional.kompas.com, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Bidang Good Corporate Governance (GCG) dan Corporate Social Responsibility (CSR) Suryani Sidik Motik merasa miris mendengar rencana kedatangan 500 TKA China. Ia mengatakan seharusnya perusahaan membuka peluang penyerapan tenaga kerja lokal untuk mengurangi angka pengangguran selama pandemi virus Corona yang terus bertambah.

Menanggapi hal tersebut, Dirjen Binapenta dan PKK Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) Aris Wahyudi mengatakan, perusahaan yang akan mendatangkan 500 Tenaga Kerja Asing (TKA) asal China sudah berupaya mencari pekerja lokal.

Bukan bermaksud untuk merendahkan bangsa sendiri, namun pernyataan di atas jelas membuktikan bahwa tenaga kerja lokal memiliki kemampuan yang lebih rendah dibandingkan tenaga kerja asing. Saya kutip kembali pernyataan lainnya, masih dalam berita yang sama:

Meski ada kekhawatiran adanya persaingan antara TKA dan tenaga kerja lokal, namun Aris menilai hal itu sebagai persaingan biasa di dunia kerja. Ia mengingatkan, tidak ada perusahaan yang tidak akan menghadapi kompetitor di era bisnis saat ini. ‘Hari ini di kolong langit mana yang tak ada persaingan? Kita harus sadarkan masyarakat akan makna law of the survival of the fittest dari Charles Darwin,’ kata dia.”

Menurut saya agak aneh jika tidak mau menggunakan tenaga kerja asing karena takut tenaga kerja lokal kalah bersaing. Sehingga memilih tenaga kerja lokal saja untuk mengerjakan proyek tersebut. Lantas mau bagaimana solusinya?

Tenaga kerja lokal saja tidak memiliki kemampuan yang mumpuni dalam mengerjakan proyek tersebut. Menurut saya permasalahannya bukan pada tenaga kerja lokal atau asing, tetapi lebih kepada ketidakmauan tenaga kerja lokal untuk meningkatkan kemampuan mereka.

Jika mereka tidak ingin hal ini terjadi maka seharusnya yang dilakukan oleh tenaga kerja lokal bukanlah menyalahkan pemerintah karena mengirim TKA. Tetapi sadar diri karena kemampuan mereka terbatas dan bukan hanya itu saja, mereka juga harus mau belajar sehingga dikemudian hari, pemerintah tidak perlu lagi mengirimkan tenaga kerja asing karena tenaga kerja lokal mampu bekerja sendiri tanpa bantuan tenaga kerja asing.

Contoh terakhir, mudahnya masyarakat kita di provokasi oleh suatu golongan atau oknum tertentu yang “pandai” memanfaatkan situasi serta kondisi dalam masyarakat. Supaya keinginan dan tujuannya dapat tercapai, juga membuktikan tingkat pendidikan di Indonesia yang masih lemah. 

Dengan melihat beberapa contoh di atas, tanpa perlu melihat survey lebih lanjut pun rasanya kita dapat menyimpulkan bahwa pendidikan di Indonesia belum menunjukkan perubahan kearah yang lebih baik. Karena itu penting bagi kita untuk melakukan perubahan di bidang pendidikan secara bersama-sama.

Pemerintah melakukan bagiannya dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan, kita sebagai pelajar maupun mahasiswa juga mau belajar untuk terus meningkatkan kualitas diri serta kemampuan kita.

Jangan hanya terus menyalahkan pemerintah atau orang lain, terus berkoar-koar, bahwa mutu pendidikan di Indonesia masih rendah. Tetapi kita, para mahasiswa dan pelajar tidak pernah mau belajar dengan baik. Jangan pernah menuntut hak tanpa pernah melakukan kewajiban kita dengan baik. Keduanya harus seimbang.

Pendidikan tidak hanya berbicara mengenai kognitif (yang lebih berorientasi pada nilai), karena pendidikan itu luas tidak hanya berbicara mengenai nilai yang tertera di rapor. Setelah mendapat nilai bagus, bangga, dan ya sudah selesailah semua itu.

Tidak! Pendidikan itu berbicara mengenai tindakan nyata yang positif, akibat ilmu dan pengalaman yang didapatkan selama proses pembelajaran berlangsung.

Menurut saya percuma saja jika hanya pintar berteori. Tanpa mempraktikan ilmu yang selama ini di dapat di sekolah atau di lingkungan pendidikan lainnya. 

Hal paling mudah dan sederhana yang dapat dilakukan oleh kita sebagai pelajar maupun mahasiwa adalah menerapkan ilmu yang kita peroleh selama ini, misalnya ketika kita menerima dan mendengar sebuah informasi yang diterima di media sosial.

Jangan memiliki kebiasaan seperti orang di luar sana yang dengan cepat menyebarkan berita baru tersebut tanpa mengecek langsung kebenarannya. Gunakan ilmu dan kecerdasan kita miliki. Bukankah itu tujuan utama kita belajar selama ini?

Tujuan kita belajar bukan semata-mata hanya untuk pandai berteori. Tetapi supaya kita dapat berpikir secara logis, rasional dalam menelaah setiap berita yang kita dengar. Agar kita tidak mudah diprovokasi, ditipu, dan dibohongi oleh suatu golongan atau oknum tertentu.

Kita juga perlu belajar untuk tidak cepat berpuas diri, kita tetap perlu selalu belajar karena zaman ini terus berkembang. Satu-satunya cara untuk menghadapi persaingan bukanlah mengindari persaingan, melainkan belajar, meningkatkan kemampuan, dan kapasitas diri untuk menghadapi persaingan serta memenangkannya.

Jadi kita sebagai generasi penerus bangsa dapat meningkatkan kualitas Pendidikan di negeri ini, dimulai dari diri kita sendiri. Sebuah perubahan mustahil terjadi tanpa adanya kerja sama yang nyata antara pemerintah dengan kita, pemuda, generasi penerus bangsa.

Penulis merupakan mahasiswa di Sekolah Tinggi Desain Indonesia

Rekomendasi

Leave A Reply

Your email address will not be published.