Rahman dan Rahim Allah untuk Garut

Beberapa hari lalu aku dapat kabar dari media sosial tentang bencana alam yang paling parah terjadi di kota asalku, apalagi dalam pemberitaan tersebut disebutkan beberapa kecamatan yang terkena bencana, salah satunya tempat dimana rumahku berdiri tegak, dan aku pun dengan cekatan langsung menelepon ibu vialine adik,dengan rasa was-was yang masih bisa aku redam, dan alhamdulillah-nya keluargaku selamat. Ternyata rumahku tak terjangkau oleh sungai yang murka itu.
Memang beberapa hari ini sesuai dengan yang diberitakan, bahwa bumi priangan sering diguyur hujan lebat dan beberapa daerah khususnya di priangan timur menjadi saksi derasnya air hujan tersebut, yang mengakibatkan beberapa bencana terjadi, dari mulai banjir, longsor, dan entah apalagi nanti.
Pada malam harinya hujan lebat kembali mengguyur kota tempatku menimba Ilmu, Bandung. Ketika itu aku sedang di jalan menuju arah pulang ke kosan setelah melakukan rutinitasku seharian, sebagai seoarang mahasiswa jurnalistik yang sedang magang, aku pun dipaksa berhenti oleh hujan yang deras itu. Pada akhirnya kupilih warung kopi pinggir jalan sebagai tempat pemberhentian, karena tak bawa jas hujan dan juga keyakinan hujan ini tak akan cepat reda.
Aku pun memesan kopi dan beberapa batang rokok untuk kujadikan teman saat menunggu kepastian si hujan reda, di warung itu hanya ada aku, bapak-bapak yang ikut meneduh.
Selang beberpa menit setelah aku memesan, kutaksir umurnya sekitar 70-an, dan ibu-ibu pemilik warung yang umurnya terlampau lebih muda dari si bapak itu.
Kopi yang aku pesan datang, bersamaan dengan pesanan si bapak, wedang jahe kemasan yang sudah di seduh. Sambil membuka HP untuk hiburan dan yang pertama aku buka adalah instagram yang sudah di banjiri time linenya oleh foto-foto bertulilskan “#PRAYFORGARUT” aku pun yang masih belum beranjak dari pemberitaan tadi malam, semakin tersentuh lebih dalam yang masuk lewat celah pori-pori yang sudah tebuka oleh dinginnya malam kala itu.
Aku mencoba memecah kesunyian di warung itu dengan membahas bencana alam yang sedang ramai diberitakan dengan si bapak tua, dan ku tau si bapak itu ternyata memiliki keilmuan yang cukup tinggi dariku lewat perkenalan yang tidak di sengaja tadi. Ia adalah salah satu dosen sastra di perguruan tinggi terkemuka di Bandung.
Dan terpaksa aku pun meluncurkan beberapa pertanyaan padanya. Apakah kata mampu mengucapkan kedahsyatannya? Apakah sastra mampu menuturkan kedalaman dukanya? Apakah ilmu sanggup menemukan dan menghitung nilai-nilai kandungannya?
Wajah si bapak yang keriput dengan air liur yang selalu membusa dari salah satu sudut bibirnya hampir membuatku marah. Karena tak bisa kubedakan apakah ia sedang berduka atau tidak. Sebab, barang siapa tidak berduka oleh ngerinya bencana itu dan oleh kesengsaraan para korban yang jiwanya luluh lantak terkeping- keping, akan kubunuh. “Jakarta jauh lebih pantas mendapat bencana itu dibanding Garut!,” aku menyerbu.
“Kamu juga tak kalah pantas memperoleh kehancuran,” bapak tua itu menyambut dengan kata- kata. Bagi orang yang pertama kali bertemu, itu akan menyakitkan hati dan marah besar.
“Jadi, kenapa harus Garut yang asri dengan pepohonan itu, bukan aku dan Jakarta?”
“Karena kalian berjodoh dengan kebusukan dunia, sedang para korban di Garut sana dinikahkan dengan surga.”
Dalam hati aku menggerutu, aku orang Garut pak.
“Orang Garut yang selama bertahun-tahun terakhir amat dan paling menderita dibanding kita senegara, kenapa masih disapu ke kubangan kesengsaraan sedalam itu?”
“Penderitaan adalah setoran termahal dari manusia kepada Tuhannya sehingga derajat orang Garut ditinggikan, sementara kalian ditinggalkan untuk terus menjalani kerendahan.”
“Termasuk Bapak….”
Cuh! Ludahnya melompat ketanah.
Sial, gerutuku, ku hadapi dengan sabar
“Kalau itu hukuman, apa salah mereka? Kalau itu peringatan, kenapa tidak kepada gerombolan maling dan koruptor di Jakarta? Kalau itu ujian, apa Tuhan masih kurang kenyang melihat kebingungan dan ketakutan rakyat Garut selama ini, di tengah perang politik dan kesengsaraan ?”
Bapak tua tertawa terkekeh-kekeh. Tidak kumengerti apa yang lucu dari kata-kataku. Badannya terguncang-guncang.
“Kamu mempersoalkan Tuhan de? Mempertanyakan tindakan Tuhan? Mempersalahkan ketidakadilan Tuhan?” katanya.
Aku menjawab tegas, “Ya.”
“Kalau Tuhan diam saja bagaimana?”
“Akan terus kupertanyakan. Dan aku tahu seluruh bangsa Indonesia terkhususnya masyrakat di Jawa Barat ini akan terus mempertanyakan.”
“Sampai kapan?”
“Sampai kapan pun!”
“Sampai mati?”
“Ya!”
“Kapan kamu mati?”
“Gila!”
“Kamu yang gila. Kurang waras akalmu. Lebih baik kamu mempertanyakan kenapa ilmumu sampai tidak mengetahui akan ada Banjir bandang disana. Kamu bahkan tidak tahu apa yang akan kamu katakan sendiri lima menit mendatang. Kamu juga tidak tahu berapa jumlah bulu ketiakmu. Kamu pengecut. Untuk apa mempertanyakan tindakan Tuhan. Kenapa kamu tidak melawanNya. Kenapa kamu memberontak secara tegas kepada Tuhan. Kamu menyingkir dari bumiNya, pindah dari alam semestaNya, kemudian kamu tabuh genderang perang menantangNya!”
”Aku ini, muslim!” teriakku, “duduk di sini, hanya untuk beteduh, ngobrol dengan bapak untuk sekedar melepas kesunyian di warung ini, dan menghindarkanku dari tindakan menuduh Tuhan adalah diktator dan otoriter….”
Bapak tua itu malah melompat- lompat. Yang tertawa sekarang seluruh tubuhnya. Bibirnya melebar-lebar ke kiri-kanan mengejekku.
“Kamu jahat,” katanya, “karena ingin menghindar dari kewajiban.”
“Kewajiban apa?”
“Kewajiban ilmiah untuk mengakui bahwa Tuhan itu diktator dan otoriter. Kewajiban untuk mengakuinya, menemukan logikanya, lalu belajar menerimanya, dan akhirnya memperoleh kenikmatan mengikhlaskannya. Tuhan-lah satu-satunya yang ada, yang berhak bersikap diktator dan otoriter, sebagaimana pelukis berhak menyayang lukisannya atau merobek-robek dan mencampakkannya ke tempat sampah.Tuhan tidak berkewajiban apa- apa karena ia tidak berutang kepada siapa-siapa, dan keberadaanNya tidak atas saham dan andil siapa pun. Tuhan tidak terikat oleh baik-buruk karena justru Dialah yang menciptakan baik-buruk. Tuhan tidak harus patuh kepada benar atau salah, karena benar dan salah yang harus taat kepadaNya.de, ade , apa yang kamu lakukan ini? Sini, sini…”-ia meraih lenganku dan menyeret ke tiang besi yang ia pakai sandaran-”Kupinjamkan tiang ini kepadamu….”
“Apa maksud pak?,” aku tidak paham.
“Pakailah sesukamu.”
“Emang untuk apa?”
“Misalnya untuk membenturkan kepalamu….”
Sinting! aku pun semakin menjadi-jadi, apa si bapak ini waras tanyaku dalam benak.
“Membenturkan kepala ke tembok adalah tahap awal pembelajaran yang terbaik untuk cara berpikir yang kau tempuh.”
Ia membawaku duduk kembali.
“Atau kamu saja yang jadi Tuhan, dan kamu atur nasib terbaik untuk manusia menurut pertimbanganmu?,” ia pegang bagian atas bajuku.
“Kamu tahu Muhammad?”, ia meneruskan, “Tahu? Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam, tahu? Ia manusia mutiara yang memilih hidup sebagai orang jelata. Tidak pernah makan kenyang lebih dari tiga hari, karena sesudah hari kedua ia tak punya makanan lagi. Ia menjahit bajunya sendiri dan menambal sandalnya sendiri. Panjang rumahnya 4,80 m, lebar 4,62 m. Ia manusia yang paling dicintai Tuhan dan paling mencintai Tuhan, tetapi oleh Tuhan orang kampung Thaif diizinkan melemparinya dengan batu yang membuat jidatnya berdarah. Ia bahkan dibiarkan oleh Tuhan sakit sangat panas badan oleh racun Zaenab wanita Yahudi. Cucunya yang pertama diizinkan Tuhan mati diracun istrinya sendiri. Dan cucunya yang kedua dibiarkan oleh Tuhan dipenggal kepalanya kemudian kepala itu diseret dengan kuda sejauh ratusan kilometer sehingga ada dua kuburannya. Muhammad dijamin surganya, tetapi ia selalu takut kepada Tuhan sehingga menangis di setiap sujudnya. Sedangkan kalian yang pekerjaannya mencuri, kelakuannya penuh kerendahan budaya, yang politik kalian busuk, perhatian kalian kepada Tuhan setengah-setengah, menginginkan nasib lebih enak dibanding Muhammad? Dan kalau kalian ditimpa bencana, Tuhan yang kalian salahkan?”
Tangan bapak itu mendorong badan saya keras-keras sehingga saya jatuh dari bangku yang aku duduki.
“Bapak,” kataku pelan. Karena aku sangat yakin bapak tua ini, bukannya tak waras, tapi keilmuannya yang sangat tinggi, yang membuat ia bisa berbicara seperti itu,
“Tetapi terlalu mengerikan, pak, dan kesengsaraan para korban sukar dibayangkan akan mampu tertanggungkan.”
“Dunia bukan tempat utama pementasan manusia. Kalau bagimu orang yang tidak mati adalah selamat sehingga yang mati kamu sebut tidak selamat, buang dulu Tuhan dan akhirat dari konsep nilai hidupmu. Kalau bagimu rumah tidak ambruk, harta tidak sirna, dan nyawa tidak melayang, itulah kebaikan; sementara yang sebaliknya adalah keburukan, berhentilah memprotes Tuhan, karena toh Tuhan tak berlaku di dalam skala berpikirmu, karena bagimu kehidupan berhenti ketika kamu mati.”
“Tetapi kenapa Tuhan mengambil hamba-hambaNya yang tak berdosa, sementara membiarkan para penjahat negara dan pencoleng masyarakat hidup nikmat sejahtera?”
“Mungkin Tuhan tidak puas kalau keberadaan para pencoleng itu di neraka kelak tidak terlalu lama. Jadi dibiarkan dulu mereka memperbanyak dosa dan kebodohannya. Bukankah cukup banyak tokoh negerimu yang baik dan justru Tuhan bersegera mengambilnya, sementara yang kamu doakan agar cepat mati karena luar biasa jahatnya kepada rakyatnya malah panjang umurnya?”
Gusti Nu Agung!,” aku mengeluh, “Kami semua dan aku sendiri, pak, tidaklah memiliki kecanggihan dan ketajaman berpikir setakaran dengan yang disuguhkan oleh perilaku Tuhan.”
“Kamu jangan tiba-tiba seperti tidak pernah tahu bagaimana pola perilaku Tuhan. Kalau hati manusia berpenyakit, dan ia membiarkan terus penyakit itu sehingga politiknya memuakkan, ekonominya jatuh dan kebudayaannya penuh penghinaan atas martabat diri manusia sendiri, maka Tuhan justru menambahi penyakit itu, sambil menunggu mereka dengan bencana yang sejati yang jauh lebih dahsyat. Yang di Garut bukan bencana pada pandangan Tuhan. Itu adalah pemuliaan bagi mereka yang nyawanya diambil malaikat, serta pencerahan dan pembangkitan bagi yang masih dibiarkan hidup.”
“Bagi kami yang awam, semua itu tetap tampak sebagai ketidakadilan….”
“Alangkah dungunya kamu!” bapak tua membentak, “Sedangkan ayam menjadi riang hatinya dan bersyukur jika ia disembelih untuk kenikmatan manusia meski ayam tidak memiliki kesadaran untuk mengetahui, ia sedang riang dan bersyukur.”
“Jadi, para koruptor dan penindas rakyat tetap aman sejahtera hidupnya?”
“Sampai malam ini, ya. Sebenarnya Tuhan masih sayang kepada mereka sehingga selama satu dua bulan terakhir ini diberi peringatan berturut-turut, baik berupa bencana alam, teknologi dan manusia,dengan frekuensi jauh lebih tinggi dibanding bulan-bulan sebelumnya. Tetapi, karena itu semua tidak menjadi pelajaran, mungkin itu menjadikan Tuhan mengambil keputusan untuk memberi peringatan dalam bentuk lebih dahsyat. Kalau kedahsyatan banjir bandang Garut belum mengguncangkan jiwa Jakarta untuk mulai belajar menundukkan muka, ada kemungkinan….”
“Jangan pula gunung akan meletus, pak!” aku memotong, karena ngeri membayangkan lanjutan kalimat bapak tua itu.
“Bilang sendiri sana sama gunung!” ujar Bapak tua sambil berdiri dan ngeloyor meninggalkanku.
“Bapak!” aku meloncat mendekatinya, “Tolong katakan kepada Tuhan agar beristirahat sebentar dari menakdirkan bencana-bencana alam….”
“Kenapa kau sebut bencana alam? Kalau yang kau salahkan adalah Tuhan, kenapa tak kau pakai istilah bencana Tuhan?”
Pak Tua benar-benar tak bisa kutahan, ia menyalakan motornya dan langsung tancap gas, karena hujan pun sudah reda 15 menit sebelum perbincangan itu berkahir, tak berasa waktu satu jam bisa membuat nalarku liar, kunyalakan rokok dan menghisapnya dalam-dalam untuk bisa kunikmati inci demi inci dari tembakau itu, lalu mengepulkannya senikmat mungkin, serta sesekali kuminum kopi yang tinggal setengah gelas lagi itu.
“Mungkin ini bentuk Rahman Rahim Allah pada masyarakat Garut,” ujarku dalam hati seraya melepaskan asap tembakau dari bibirku, fyuuuuuuhhhhhh.
*Penulis merupakan mahasiswa Jurnalistik semester VII, aktif di BEM-J Jurnalistik, Teater Pena

Rekomendasi

Leave A Reply

Your email address will not be published.