Quarter Life Crisis: Kecemasan di Usia 25

JURNALPOSMEDIA.COM-Memasuki usia 25, tak jarang kawula muda mengalami semacam krisis identitas karena dirundungi berbagai pertanyaan ihwal tujuan hidup dan masa depannya. Bayang-bayang pekerjaan apa yang akan dilakoni setelah kuliah, hingga keinginan memiliki finansial pribadi menjadi kecemasan yang menghantui di usia ini.

Faktor eksternal yang seringkali membuat tertekan bisa berasal dari keluarga, lingkungan sosial, bahkan teman sebaya. Contoh kecil seperti tuntutan untuk bekerja sesuai jurusan yang diambil saat kuliah, padahal tidak sesuai dengan passion yang dimiliki.

Lalu, merasa minder terhadap teman sebaya yang gemilang dengan berbagai prestasi atau sudah memiliki keuangan pribadi yang stabil. Sementara itu, kamu sendiri rasanya belum bisa berbuat apapun. Tuntutan lingkungan sekitar akhirnya menjadi beban yang bahkan dapat membuat kamu stress.

Jika kamu mengalami hal di atas, dapat dipastikan kamu mengalami Quarter Life Crisis. Dilansir dari situs Cosmopolitan, sebuah studi menyebutkan Quarter Life Crisis adalah krisis seperempat kehidupan yang terjadi pada interval usia 25 hingga awal 30-an. Penyebabnya berasal dari perasaan tidak nyaman di semua bidang kehidupan, dari mulai karir hingga hubungan.

Tanda-tanda berikut ini menjadi sinyal bahwa kamu sedang mengalami krisis seperempat kehidupan:

       1. Bingung terhadap tujuan hidup

Hal ini memiliki arti bahwa kamu serba tidak tahu tentang dirimu sendiri, dari mulai apa yang kamu inginkan hingga tidak tahu apa yang harus dilakukan.

       2. Terlalu banyak keinginan tapi tidak terlaksana

Membuat resolusi yang terlalu banyak malah bikin kamu tidak fokus pada satu tujuan yang jelas. Akibatnya, resolusi yang kamu buat hanya menjadi list keinginan belaka tanpa ada satu pun yang terlaksana. Sekali pun terlaksana, hasilnya tidak optimal.

       3. Takut gagal saat melangkah

Wajar saja jika kamu merasa ingin keluar dari zona nyaman atau mulai bosan dengan kegiatan yang sedang dilakukan. Di usia ini kamu ingin mencoba hal baru, tetapi tiba-tiba kamu mengurungkan niat saat hendak melakukannya. Kamu berpikir langkahmu akan gagal dan akhirnya mematahkan ekspetasi yang telah dibayangkan.

       4. Sering membandingkan diri dengan orang lain

Jika temanmu berhasil dalam suatu hal, kamu merasa bangga padanya. Namun, dalam hatimu ada sepercik rasa iri karena kamu belum bisa seperti temanmu. Kamu sering membandingkan dirimu dengan orang lain di sekitarmu, dan pada akhirnya itu membuatmu merasa insecure.

       5. Selektif dalam memilih teman

Kamu sadar yang lebih penting dari pertemanan bukan lagi kuantitas namun kualitasnya. Kamu akan lebih selektif dalam memilih siapa yang lebih layak dijadikan teman.

       6. Memahami pentingnya komitmen

Dalam fase ini kamu akan lebih berhati-hati dalam membuat keputusan yang berpengaruh besar terhadap kehidupanmu. Hal itu karena kamu harus mempertanggungjawabkan dan mempertahankan apa yang sudah dipilih, seperti halnya menentukan tujuan hidup hingga pasangan hidup.

Mengutip dari Beritagar, Adam Smiley Poswolsky, penulis buku The Quarter-Life Breakthrough: Invent your Own Path, Find Meaningful Work, and Build a Life That Matters, memaparkan 5 kiat dalam mengatasi Quarter Life Crisis. Pertama, berhentilah membanding-bandingkan. Kedua, kejarlah apa yang berarti bagi kamu.

Ketiga, ubahlah keraguan menjadi aksi. Keempat, carilah komunitas yang mengetahui cita-cita kamu. Terakhir, lakukan ritual perawatan diri mingguan. Kecemasan di usia ini tidak perlu kamu khawatirkan secara berlebihan, hal ini normal terjadi pada setiap orang di usia seperempat baya. Jangan khawatir, karena kamu tidak sendiri.

Leave A Reply

Your email address will not be published.