Perempuan Berbaju Merah

Ketika aku sedang mengendarai mobilku pada pukul 23.00 di jalanan kota yang nampaknya sudah sepi, aku melihat seorang wanita berbaju merah yang berdiri di kejauhan, melambaikan tangan nampak seperti meminta pertolongan. Karena terkejut, aku langsung menginjak rem. Lalu aku menepi ke bahu jalan dan keluar dari mobil.

“Ada apa Nyonya?”

“Tolong saya, anak muda! Saya baru saja kecelakaan di sana. Mobilku rusak parah dan aku khawatir dengan anak-anakku yang berada di dalam mobil.”

“Baiklah, Nyonya. Saya akan menolongmu. Di mana mobilmu berada?”

Lalu ia menunjuk ke arah semak-semak yang tidak jauh berada dari tempat mobilku terparkir. Sebenarnya aku hendak menolak permintaan tolong tadi. Karena aku tidak melihat tanda-tanda kecelakaan yang ada pada wanita tersebut. Ia mengenakan gamis baju rapi berwarna merah panjang menutupi kaki (serupa gaun atau daster). Rambutnya yang sampai bahu masih bersih sekali. Dan wajahnya tampak tidak ada lusuh sedikit pun. Ia bersih, kecantikannya masih terjaga dan itu bisa dilihat dari raut wajahnya yang dibaluri make up yang sempurna dan sama sekali tidak menampakkan seseorang yang baru saja mengalami kecelakaan.

Ia membawaku ke tempat di mana mobilnya mengalami kecelakaan. Di semak-semak itu, aku lihat mobil putih yang bagian depannya sudah tidak berbentuk, sangat ringsek, rusak parah, dan sudah tampak seperti bukan bagian depan mobil. Ia memberitahuku bahwa kedua anaknya ada di belakang mobil. Syukurlah, aku lihat bagian belakang tidak rusak terlalu parah dan keduanya selamat. Hanya luka lecet kecil di bagian sikut dan lututnya.

Aku membuka pintunya. Aku lega, melihat kedua anaknya yang cantik-cantik ini masih aman. Aku melihat kedua anak kecil itu serupa perempuan tadi. Dengan bulu mata yang lentik dan mata yang tidak terlalu belo. Mereka kembar. Lalu aku membawa mereka keluar mobil. Ketika aku hendak memberitahu kepada nyonya tersebut bahwa anaknya baik-baik saja, wanita tersebut tidak berada di dekatku. Aku tak tahu ia kemana. Mungkin ia sedang mengecek bagian mobil yang lain.

“Kalian tidak apa-apa, Nak?”

“Kami baik-baik saja Paman, hanya saja aku merasa sedikit sakit di bagian paha kiriku.”

“Baiklah akan aku obati nanti.”

“Kemana ibu kami, Paman?”

“Mungkin sedang mengecek mobil bagian lain, apakah ada orang selain kalian yang juga ikut dalam mobil ini?”

Lalu aku memeriksa mobil secara keseluruhan untuk memastikan. Aku juga telah mengecek mobil ke sekelilingnya, juga tidak ada orang lagi. Aku mengecek bagian dalam mobil yang paling belakang, hingga ke bagasi pun aku cari tak ada apa-apa dan siapa-siapa lagi.

Pada akhirnya aku megecek bagian depan. Aku membuka pintu mobil depan bagian samping kiri. Aku melihat korban lain seorang wanita berbaju putih dengan kepala yang sudah remuk tak karuan dan bajunya yang putih sudah berlumuran darah. Anak-anak menangis. Aku bertanya siapakah wanita yang ada di bagian depan tersebut kepada anak-anak. Tapi anak-anak tidak menjawab. Mereka hanya menangis sambil berteriak. Ibu jangan tinggalkan aku… Ibu jangan tinggalkan aku…

 

Penulis merupakan mahasiswa semester 4 jurusan Sosiologi UIN Bandung

Rekomendasi

Leave A Reply

Your email address will not be published.