Papa

No matter where i go in life..

Who i get married to..

How much time i spend with guys..

How much i love my boyfriend..

You’ll always be my number one man…

 

Sincerely: Your Little Girl

 

Dinda kecil tak mengerti dengan semua ini, ia tak mengerti kenapa banyak orang datang ke rumahnya. Mata hitam mungilnya meneliti sekitar dan melihat ibunya di sudut ruangan sedang menangis histeris sambil meronta-ronta di pelukan sang nenek. Gadis kecil berusia tiga tahun itu melirik kakak perempuannya lalu kembali termenung, kenapa kakaknya ikut menangis? Kenapa kakaknya menangis begitu pilu dengan napas yang sudah tersenggal-senggal?

Dinda kecil duduk di pangkuan pengasuhnya lalu menengok ke belakang, pengasuhnya hanya diam sembari mengelus puncak kepalanya.

Hanya ada tangis.

Hanya ada jeritan.

Semua orang menatap iba pada Dinda kecil sembari menahan tetesan air mata mereka. Dinda terlalu kecil, ia masih lugu dan tak mengerti dengan apa yang takdir gariskan padanya. Tak berselang lama, terdengar lantunan ayat-ayat Al-Quran yang menggema di seluruh ruang. Dinda tak suka, Dinda tak suka mendengar lantunan itu terdengar penuh kesedihan. Dinda tak suka melihat ibunya masih terus menangis histeris, Dinda tak suka melihat kakaknya turut menangis pilu.

Dinda tak suka saat semua mata tertuju padanya. Melempar tatapan simpatik yang seakan menatap dirinya sangat menyedihkan.

“Mbak…” bisik Dinda kecil sambil menarik lengan baju pengasuhnya.

Pengasuhnya hanya menatapnya sekilas lalu mendekap Dinda semakin kuat. Puncak kepala kecilnya merasakan tetesan air mata yang semakin sering, sebenarnya ada apa ini?

“Mbak … kenapa Ibu sama Kakak nangis terus?”

Tak ada jawaban. Pengasuhnya malah semakin gencar menitikkan air mata.

“Dinda mau main bola sama Papa!” ucapnya.

Gadis kecil itu mengingat kenangannya bersama sang papa beberapa hari yang lalu.

Dinda kecil begitu semangat saat Papanya mengajak ia menonton pertandingan sepak bola di lapangan dekat rumah mereka. Gadis kecil berpipi gembul itu meloncat-loncat kegirangan saat melihat orang-orang berlarian sambil menendang bola di tengah lapang. Tangannya terus bertepuk tangan ceria lalu menatap Papanya yang turut tersenyum menatap tingkahnya.

“Papa, Dinda mau bola!” teriaknya kesal.

Sang Papa tak menjawab dan terus fokus menatap ke lapangan. Dinda kecil menggembungkan pipi gembulnya lalu berteriak lagi. “Papa! Dinda mau bola!”

Masih tak dijawab.

Sambil tersenyum jahil, Dinda kecil melangkahkan kaki mungilnya menuju tengah lapang. Menatap penuh minat pada bola yang tergeletak di tengah lapang lalu mulai menjulurkan kedua tangannya.

“Dinda mau bola…”

Hampir saja tubuh mungil itu menyentuh bola, sebuah tangan meraih tubuh Dinda dari belakang lalu membawanya berlari menjauh dari lapangan. Dinda kecil sontak berteriak sambil meronta-ronta dalam pangkuan Papanya lalu mulai menangis.

“DINDA MAU BOLA PAPA!!!”

“Dinda jangan nakal, kalau tadi gak ada Papa gimana? Dinda bisa kena tendang.” ucap Papanya lembut, tak ada nada amarah hanya ada kekhawatiran yang amat kental.

“Maaf Papa…”

Ingatan itu terlintas di pikiran Dinda, ingatan bagaimana pelukan Sang Papa terasa begitu hangat dengan aroma khas yang Dinda sukai. Pelukan yang akan selalu menenangkan tangis kecilnya, pelukan yang entah sampai kapan bisa ia rasakan.

Dinda melepas paksa dekapan pengasuhnya lalu berjalan ke tengah ruangan, menunjuk sosok tak bernyawa yang kini terbaring kaku dan berucap dengan keras. “Kenapa Papanya Dinda tidur terus?” tanyanya penuh kepolosan.

Seisi ruangan langsung sunyi senyap lalu teriakan Sang Ibu kembali terdengar semakin kencang.

Dinda kecil, masih tak mengerti.

“Papa bangun Papa! Ibu nangis terus, Dinda takuuut! Papa banguuun!” rengeknya.

Tangan kecil itu memukul-mukul jasad Papanya sambil terus menangis, Dinda menangis semakin kencang saat dirinya ditarik paksa menjauh oleh pengasuhnya.

“Gak mau! Dinda mau sama Papa! Gak mau!!”

Hari itu, terakhir kalinya Dinda melihat Papanya. Selama berhari-hari gadis kecil itu terus bertanya-tanya kemana Papanya pergi dan kenapa tak ada satu orang pun yang menjawab pertanyaanya, “Papa Dinda ke mana?”

Waktu berlalu begitu cepat untuk Dinda kecil, tawa polosnya tak lagi terdengar sejak kenyataan baru ia sadari.

Sejak ia tahu apa itu arti kematian.

Sejak ia tahu apa itu arti yatim dari julukannya saat ini.

Dinda kini telah tumbuh menjadi seorang gadis dewasa. Menatap nisan bertuliskan nama papanya dan rasa sesak kini ia rasakan…

Sudah genap 19 tahun ia hidup tanpa mengenal lagi sosok seorang Papa.

Dinda menatap gundukan tanah berhias nisan putih itu lalu mulai berucap, “Kenapa harus secepat ini? Bahkan Tuhan tidak memberikan waktu yang cukup untuk Dinda mengingat suara Papa, waktu itu kejam, Pa! Ia menggerus sisa ingatan Papa dari Dinda, bahkan Dinda lupa rasanya dipeluk Papa.”

Air matanya mulai menetes, rasa sesak semakin membludak meronta keluar dari hati Dinda.

“Papa … Dinda rindu.”

Rekomendasi

Leave A Reply

Your email address will not be published.