Panjat Pinang, Antara Tradisi dan Tragedi

JURNALPOSMEDIA.COM Sore itu merupakan sore yang meriah, warga beramai-ramai datang untuk menyaksikan ajang tahunan bergengsi yang diadakan setiap 17 Agustus di berbagai daerah di Indonesia. Namun, lain cerita bagi warga Jalan Merkuri Utara RT 05/03 Kelurahan Manjahlega, Rancasari, Kota Bandung. Sore yang awalnya mengundang tawa itu berubah menjadi duka saat Icim alias Icin terjatuh dari ketinggian 7 meter akibat batang bekas pohon pinang yang disulap menjadi “wahana” oleh warga setempat patah.

Ini merupakan ke-empat kalinya kecelakaan akibat seonggok pohon modifikasi yang seringkali dianggap dapat memberikan kebahagiaan. Dilansir dari kumparan.com, tercatat sejak 2014 sudah ada 4 korban tewas, 3 diantaranya akibat terjatuh dan 1 akibat tertimpa pohon tersebut. Ini merupakan data yang sangat mengkhawatirkan, pasalnya 4 tahun terakhir kemeriahan panjat pinang berubah menjadi duka. Pohon pinang yang dimodifikasi selicin mungkin, agar peserta sulit naik keatas dan mendapatkan hadiah impian. Ini merupakan salah satu faktor betapa berbahayanya lomba ini, disamping batang pohon yang licin karena sudah diberi oli, tingginya pohon juga mencapai 7 meter bahkan hingga 10 meter.

Tradisi ini memang sudah “menempel” pada bangsa Indonesia bahkan sejak zaman penjajahan Belanda. Dahulu orang Belanda seringkali mengadakan lomba panjat pinang saat adanya acara besar seperti pernikahan dan lain – lain. Namun, lomba ini diikuti oleh para pribumi yang memperebutkan pelbagai kebutuhan sandang maupun pangan yang dianggap mewah pada zamannya seperti keju, gula, dan kemeja.Sementara para pribumi saling menginjakkan kaki ke bahu teman mereka sedangkan, orang – orang Belanda yang melihat hanya tertawa diatas keringat mereka.

Peraturan perlombaan tak pernah berubah hingga sekarang, team siapa yang paling cepat sampai atas akan berkesempatan lebih awal mendapat hadiah yang paling besar, maka bisa dikatakan ini seperti pelecehan yang dilestarikan. Mengesampingkan hal itu masyarakat Indonesia sekarang sudah terbiasa dan menganggap panjat pinang sebagai hal yang lumrah dilakukan setiap tanggal 17 Agustus karena perlombaan ini mengandung makna kebersamaan dan semangat para pesertanya, maka dari itu seringkali lebih melekat sebagai tradisi tanpa peduli latar belakang perlombaan tersebut.

Walaupun ini merupakan tradisi, namun belakangan kita kerap kali melihat tradisi ini berubah menjadi tragedi. Tanpa perlu menghilangkan tradisi yang harus kita cari adalah solusi. Seperti lomba panjat pinang yang diadakan di Kampung Aur, Kelurahan Aur, Kecamatan Medan Maimun, Medan. Dilansir dari gosumut.com Masyarakat setempat mengadakan perlombaan panjat pinang di tengah sungai Deli setelah paginya mengadakan upacara di pinggiran sungai tersebut. Selain lebih safety untuk peserta lomba pannjat pinang ini juga memancing perhatian warga karena dianggap unik.

Namun, tetap saja pihak penyelenggara juga harus tetap memperhatikan keselamatan para peserta. Lalu bagaimana jika, di daerah lain ingin tetap mengadakan lomba panjat pinang namun tidak adanya sungai seperti di Kampung Aur ini? Pihak penyelenggara bisa menancapkan pohon pinang dengan posisi agak miring, dan menyiapkan kasur atau menyiapkan regu penangkap dibawahnya untuk mencegah sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.

Kita tidak wajib menghilangkan tradisi ini, agar generasi selanjutnya kelak mengetahui betapa bahagianya para peserta yang menerima hadiah dari lomba ini, agar sore – sore di 17 Agustus tetap meriah. Namun, tentu saja nyawa tidaklah sebanding dengan hadiah yang didapat tetapi seharusnya para pihak penyelenggara mencari solusi yang lebih efektif dan aman untuk para peserta agar tradisi tidak lagi berubah menjadi tragedi.

Leave A Reply

Your email address will not be published.