Misi Kemanusiaan Palang Merah Indonesia di Tengah Pandemi

JURNALPOSMEDIA.COM – Tepat pada 17 September 2020, Hari Peringatan Palang Merah Indonesia (PMI) menginjak tahun yang ke-75. PMI memiliki peranan penting dari awal pembentukan hingga sekarang. Dalam menjalankan misinya, para relawan selalu memegang teguh tujuh prinsip dasar Gerakan Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah.

Di masa pandemi ini, relawan PMI menjadi salah satu garda terdepan dalam penanganan dan pencegahan Covid-19. Para relawan bekerja ekstra mengedukasi masyarakat untuk melakukan pencegahaan mandiri Covid-19 serta mengajak masyarakat untuk menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Dalam perjalananya, organisasi kemanusiaan ini telah banyak membantu masyarakat terutama dalam pelayanan kesehatan. Seperti halnya transfusi darah, bantuan bencana alam dan penolong pertama korban konflik atau perang.

Telah berkiprah lebih dari lima dekade, berikut sejarah dan peranan penting PMI di tengah masa pandemi Covid-19 yang masih melanda tanah air.

Sejarah Palang Merah Indonesia (PMI)

Palang Merah Indonesia (PMI) adalah sebuah organisasi perhimpunan nasional di Indonesia yang bergerak dalam bidang sosial kemanusiaan. PMI mempunyai tujuh prinsip dasar Gerakan Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah. Yaitu, kemanusiaan, kesamaan, kesukarelaan, kemandirian, kesatuan, kenetralan, dan kesemestaan.

Palang Merah Indonesia tidak memihak golongan politik, ras, suku ataupun agama tertentu dan tidak pernah memandang perbedaan. Dalam tugasnya, PMI selalu memprioritaskan keselamatan jiwa di atas segalanya.

Menilik pada sejarahnya, sebelum Perang Dunia II pada 12 Oktober 1873, pemerintah kolonial Belanda mendirikan palang merah di Indonesia bernama Nederlands Rode Kruis Afdeling Indie (NERKAI) yang kemudian dibubarkan saat pendudukan Jepang.

Adapun perjuangan mendirikan PMI diawali pada 1932 yang dipelopori Dr. R. C. L. Senduk dan Dr. Bahder Djohan dengan membuat rancangan pembentukan PMI. Rancangan tersebut mendapat dukungan luas terutama dari kalangan terpelajar Indonesia.

Namun, saat diajukan dalam sidang konferensi NERKAI pada 1940, rancangan tersebut ditolak mentah-mentah. Pada saat penjajahan Jepang, permohonan itu kembali diajukan tetapi tetap ditolak. Pada akhirnya, Presiden Soekarno mengeluarkan perintah untuk membentuk badan Palang Merah Nasional pada 3 September 1945.

Atas perintah Presiden, dua hari kemudian Menteri Kesehatan Republik Indonesia Kabinet I, Dr. Boentaran Martoatmodjo, membentuk lima orang panitia yang terdiri dari Dr. R. Mochtar sebagai ketua, Dr. Bahder Johan sebagai penulis, serta Dr. Joehana, Dr. Marjuki dan Dr. Sitanala sebagai anggota.

Perhimpunan Palang Merah Indonesia pun berhasil terbentuk pada 17 September 1945. Peristiwa sejarah tersebut merupakan tonggak lahirnya PMI yang hingga saat ini dikenal sebagai “Hari Palang Merah Indonesia”. Pengurus besar PMI dibentuk dengan Ketua Umum, Drs. Mohammad Hatta. Ia pun dikenal sebagai Bapak Palang Merah Indonesia.

Pada 15 Juni 1950, keberadaan PMI diakui secara internasional oleh Komite Palang Merah Internasional (ICRC). Waktu pun berlalu, hingga pada 2018 PMI sudah berstatus badan hukum dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 1 tahun 2018 tentang Kepalangmerahan.

Peran PMI di Tengah Pandemi

Bantuan PMI pada masa lampau tidak jauh berbeda dengan bantuan kemanusiaannya pada saat ini. Distribusi bantuan, pun dapur umum menjadi ciri khas PMI sejak dulu. Begitupula pelayanan kesehatan, pertolongan pertama, pelayanan tranfusi dan donor darah telah dilaksanakan PMI sejak awal pendiriannya.

Di masa pandemi ini, berbagai langkah dilakukan PMI untuk membantu pemerintah dalam melayani masyarakat, khususnya yang terkena Covid-19. Salah satunya, dengan memodifikasi mobil ambulans untuk mengevakuasi pasien yang terkena virus tersebut.

Mobil itu dimodifikasi sesuai dengan kriteria dari Kementrian Kesehatan RI dan siap diterjunkan untuk mempercepat penanganan.

Selain itu, para relawan membuat dapur umum untuk membuat makanan gratis yang akan dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan. Hal itu dilakukan karena banyak masyarakat yang bekerja di luar rumah. Seperti ojek online (ojol) dan supir angkutan umum.

Dalam memberikan layanan, personil PMI harus menyiapkan mental untuk menghadapi tantangan baru. Salah satunya, relawan yang sedang bertugas di Bogor, Thalita Laudza Winata. Ia mengatakan, dari awal Maret 2020 timnya sudah memberikan pelayanan disinfeksi ke beberapa instansi, pemukiman, tempat ibadah dan pasar.

“Bantuan lain yang diberikan berupa pemberian vitamin, sembako di beberapa kecamatan terus pemberian toren dan alat cuci tangan. Juga, pemberian paket PHBS berupa masker dan sabun,” tuturnya.

Ia beserta timnya akan melakukan sosialisasi ke masyarakat tentang edukasi informasi dan komunikasi tentang Covid-19. Nantinya, kata Thalita, juga akan diadakan pemberian bantuan non-tunai berupa masker, poster cara mencuci tangan yang benar, serta layanan konsultasi hotline dengan beberapa dokter.

Palang Merah Indonesia sebagai salah satu garda terdepan memiliki peranan penting dalam memulihkan kesehatan masyarakat Indonesia. Untuk itu, kita perlu bergotong-royong membantu para relawan dengan cara menaati protokol kesehatan dan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Selamat Hari Palang Merah Indonesia yang ke-75, “Setetes Darah Anda, Nyawa Bagi Sesama”.

Rekomendasi

Leave A Reply

Your email address will not be published.