Hafidzah UIN Bandung, Ai Nurdianti: Al-Qur’an Bisa Mengubah Hidup Seseorang

JURNALPOSMEDIA.COM –  Mahasiswi Program Studi Pendidikan Kimia Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Bandung, Ai Nurdianti telah menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Quran, Kamis (7/5/2020). Mahasiswi semester 8 itu mulai menghafal Al-Qur’an sejak bangku Sekolah Dasar (SD). Dimulai dengan menghafal juz ke-30 dan surat-surat pilihan.

Hingga menginjak Sekolah Menengah Atas (SMA), ia berhasil mengkhatamkan hafalan Al-Qur’annya sebanyak 3 juz, yakni juz 30, 29 dan 28. Tak heran, sejak dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) Ai sudah ditawari beasiswa Daarul Qur’an sebagai prestasi dalam menghafal Al-Qur’an.

Rasa tertariknya dalam menghafal Al-Quran tidak berhenti ketika Ai lulus dari SMA, Ai semakin bersemangat untuk mengkhatamkan Al-Quran ketika berkuliah. Hal itu menjadikannya penerima beasiswa BTQ for Leader dari Daarul Qur’an. Ai percaya selalu ada jalan terbaik dari Sang Maha Kuasa dalam keinginannya untuk mengkhatamkan 30 juz.

“Ini jalan dari Allah, selama punya niat yang baik terutama menghafal Al-Quran, Allah akan selalu menjaga niat kita. Allah memberi jalan, Allah memberi teman dan lingkungan tanah rantau yang bisa memotivasi, dan bisa merealisasi niat aku dari awal,” ujar mahasiswi asal Tasikmalaya ini. Jumat (8/5/2020).

Sebagai salah satu mahasiswi yang tinggal di Mahad Rumah Tahfidz UIN Bandung, Ai lebih termotivasi dalam menjaga hafalannya dengan program setoran hafalan Al-Qur’an dari hari Senin hingga Kamis, sedangkan hari liburnya diisi dengan murojaah atau mengulangi hafalan.

Dalam proses menghafalnya, Ai biasa melakukannya saat sore hari, “Proses penghafalan dilakukan setiap sore sampai Magrib, itu untuk menghafal hafalan baru. Ketika Isya, maka diulangi kembali supaya ketika Subuh disetorkan sudah lancar, dan murojaah juga ketika sebelum Subuh atau ketika Tahajud. Tekniknya, misal jika dalam 1 halaman ayat Al-Qur’an ada 10 ayat, maka dihafal secara membagi dua jumlah ayat, dihafal per 5 ayat, sebelum 5 ayat awal hafal dan lancar maka tidak dilanjutkan ke 5 ayat selanjutnya,” jelasnya.

“Intinya, menghafal Al-Quran itu adalah niat yang lurus, ikhlas karena Allah, memohon kepada Allah untuk dimudahkan. Insyaa Allah jika niat baik kita terus ada di hati, Allah akan memberikan jalan. Entah itu jalannya berupa teman, lingkungan, ataupun guru-guru yang bisa menghantarkan keinginan untuk mengkhatamkan Al-Qur’an 30 juz,” tutur Ai.

Padatnya kegiatan kuliah dan organisasi tidak mematahkan semangat dan niat Ai untuk menghafal dan mengkhatamkan Al-Quran, “Untuk menguatkan hafalan, sering-sering lakukan murojaah supaya lancar. Berdoa kepada Allah agar ingatan kita dikuatkan dan diberikan selalu niat yang lurus rida lillahi ta’ala dalam menghafal Al-Quran ini,” katanya.

“Sangat Masyaa Allah sekali berkah Al-Qur’an, sangat terasa. Buktinya saat kuliah, saya mendapatkan beasiswa yang saya tidak diharuskan membayar UKT dan saya juga mendapatkan uang bulanan, dan percayalah bahwa menghafal Al-Qur’an adalah suatu perjuangan untuk investasi kedua orang tua di akhirat kelak,” sambungnya.

Karena itulah Ai berprinsip bahwa “Al-Quran tidak bisa diubah isinya, tetapi Al-Quran dapat merubah hidup kita”. Ai berpesan untuk selalu memanfaatkan waktu dan semoga hal ini dapat memotivasi banyak orang.

“Semoga hal ini bisa memotivasi, dan manfaatkanlah waktu kuliah ini sebaik mungkin dengan aktivitas yang bermanfaat dengan memperdalam lagi ilmu agama dan jadilah investasi terbaik bagi kedua orangtua di akhirat kelak,” pungkasnya.

Sumber: Rilis Humas UIN Bandung

Rekomendasi

Leave A Reply

Your email address will not be published.