Menagih Kesetiaan pada Kebenaran

Setidaknya sudah tiga hari saat tulisan ini saya buat, pemberitaan soal skandal Dwi Hartanto masih hangat dibicarakan. Sudut pandang pemberitaannya pun sudah kian beragam. Mulai dari pengakuannya sendiri soal ‘kekhilafannya’, menggali data dari dosen pembimbing Dwi saat S1-nya, kemudian merangsek ke sudut kesehatan mental, hingga terakhir saya lihat sudah mulai mendapat pernyataan dari sang ibundanya.

Sudut pandang ini sama sekali tidak akan Anda dapatkan saat Dwi Hartanto diberitakan pada 2015 silam, saat narasi tentangnya dibangun sedemikian mewah. Mahasiswa Asal Indonesia di Belanda Sukses Orbitkan Satelit, Peluncur Satelit Karya Anak Bangsa, Mahasiswa Indonesia di Belanda luncurkan satelit, Penerima Beasiswa Kominfo Berhasil Luncurkan Roket Belanda, Dari Belanda, Putra Indonesia Sukses Ciptakan Wahana Mutakhir Luar Angkasa, Penerima Beasiswa Kominfo Berhasil Luncurkan Roket Belanda.

Andai saja ragam sudut pandang itu dilakukan Detik.com, sebagai yang paling ngebut dalam pemberitaan anak bangsa ini pada 12 Juni 2015, mungkin sekarang kita akan fokus pada pemberitaan lain yang lebih penting seperti kelanjutan kasus Setnov, ijin Meikarta, dan lain-lain. Sehingga sekarang, mau tak mau, kita mesti disuguhi berita tentang kebohongan anak bangsa itu, yang kebohongannya tersebut pernah diijinkan nangkring di meja hidangan berita publik. Meja yang mestinya berisi hidangan yang tinggal lahap, yang tak mesti diragukan lagi kualitas hidangan tersebut.

Dalam hal lolosnya cerita karangan itu, seperti yang telah saya sebutkan di atas, Detik.com sebagai penerbit yang pertama. Kemudian pada 20 hari kemudian, Okezone.com menerbitkan Penerima Beasiswa Kominfo Berhasil Luncurkan Roket Belanda, dan sehari berselang, giliran Antara dan Tempo.co yang menerbitkan karangan itu, dengan memajang judul yang substansinya sama. Karena Tempo.co mengutip secara utuh dari Antara.

Cerita karangan itu pada intinya sama, walau diterbitkan oleh portal yang berbeda. Yah, sama-sama menerbitkan dongeng belaka. Namun kesimpulan itu hanya kita dapatkan saat ini. Setelah narasi itu ketahuan selingkuh dari fakta. Sehingga selama belum ketahuan, mungkin sampai sekarang tulisan itu masih disebut berita. Namun bagaimana kejanggalan itu bisa kita perhitungkan?

Saya coba merangkum narasi yang diterbitkan media-media online yang terkait di atas, beginilah ceritanya:

Dwi Hartanto adalah Kandidat doktor di Technishe Universiteit Delft (TU Delft) Belanda yang bersama timnya berhasil meluncurkan Satellite Launch Vehicle (SLV), yang bekerja sama dengan Ministerie van Defensie (Kementerian Pertahanan) Belanda pada 5 Juni 2015 pukul 12.00. Bedanya dengan roket lain saat itu adalah sudah mampu menstabilkan berbagai macam gangguan saat  dalam perjalanan peluncuran. Disebutkan juga, roket ini memecahkan rekor pada kategori ‘supersonic liftoff’ dan pencapaian titik jelajah apogee yang 23 persen lebih tinggi untuk jenis kelas roket yang sama.

Selain itu, roket tersebut menggunakan sensor yang dikendalikan oleh flight-module utama berbasis octa-core @3Ghz, dan sistem operasinya dinamai GadoGadoOS 64-bit. Dwi dan timnya juga berhasil mengembangkan dan mengorbitkan active nanosatellite generasi kedua di TU Delft yang diberi nama Delfi-n3Xt.

Uraian di atas adalah substansi narasi yang diterbitkan Detik.com, Okezone.com, Media Indonesia, Antara, Tempo.co. Sebagaimana yang pernah disebutkan Wisnu Prasetyo dalam KEBOHONGAN DWI HARTANTO, KEBOHONGAN MEDIA? Namun, ada dua hal yang berbeda. Pertama, hanya Detik.com yang menyebutkan kalau GadoGadoOS 64-bit itu mengadopsi nama sayur salad ala Yogya. Kedua, hanya Okezone.com mengutip pernyataan dari laman Kominfo.go.id. Namun pernyataan yang dikutipnya itu sudah tiada, alias 404 Not Found.

Apakah ada nilai berita di sana? Tentu saja. “Dwi Hartanto” yang hebat dan orang Indonesia inilah yang jadi nilai berita, sekaligus yang saya kira paling pantas untuk diangkat menjadi teras berita. Bukan tentang kecanggihan roketnya, bukan Belandanya, tapi orang Indonesia yang terlibat dalam proyek hebat tersebut. Sebab negara sekelas Eropa sudah sangat biasa untuk melakukan hal luar biasa ini.

Alih-alih ingin mengabarkan tentang anak bangsa yang hebat, beberapa media ini agaknya sudah terperangah terlebih dulu sehingga mengalfakan disiplin verifikasi. Apalagi kalau dikaitkan dengan gaya pemberitaan media online kita, yang berburu kecepatan. “Siapa cepat, dialah yang menjadi paling eksklusif.”

Idealnya, wartawan bukanlah perekam yang pasif yang mencatat apa yang terjadi dan apa yang dikatakan seseorang, melainkan sebaliknya, ia aktif. Wartawan berinteraksi dengan dunia realitas dan dengan orang yang diwawancarai, dan sedikit banyak menentukan bagaimana bentuk dan isi berita yang dihasilkan (Eriyanto, 2012: 119).

Agaknya pada kasus ini, wartawan maupun redaktur telah terjebak dengan interpretasinya sendiri sehingga tidak melakukan verifikasi yang lebih rigid. Kerigidan verifikasi itu bisa tercermin dari ragam sudut pandang yang diambil. Hal tersebutlah yang baru dilakukan saat ketahuan pernyatan Dwi Hartanto adalah palsu. Saya hanya menemukan satu sudut pandang saja dari pernyataan bohong yang diterbitkan media-media online di atas.

Saya jadi ingat cerita dalam Jurnalistik Teori dan Praktik (2005) yang ditulis oleh Hikmat Kusumangingrat dan Purnama Kusumaningrat. Ceritanya begini:

Suatu hari di kelas, di depan mahasiswa sang dosen memperlihatkan sebuah kaleng yang berlabel suatu jenis buah. Kemudian ia meminta mahasiswanya untuk menyebut tiga hal mengenai kaleng yang dipegangnya. Seorang mahasiswa mengatakan, “Benda itu dibuat dari metal. Isinya dapat dimakan.” Jawaban lainnya menyebutkan bahwa, “Isinya berwarna hijau karena labelnnya bertuliskan buncis.” Jawaban lainnya, “Kaleng beratnya 16 ons, kalau dilihat dari besarnya.” Kemudian jawaban terakhir menyebutkan bahwa kaleng itu berisi buncis karena demikian tulisan pada labelnya.

Nah, pertanyaan dosen itu merupakan bahan pengujiannya pada mahasiwa terhadap persepsi masing-masing. Dari sekian jawaban, hanya ada dua jawaban yang tepat. Yakni kaleng tersebut terbuat dari metal dan label bertuliskan buncis. Karena setelah mendapat jawaban itu, dosen membalikkan kaleng tersebut tak tak berisi apa-apa, bahkan dasar kalengnya pun sudah tidak ada.

Dari sana telah membuktikan bahwa seringkali wartawan terjebak oleh suatu fakta tidak akurat yang disengaja diciptakan oleh segelintir orang. Dalam hal ini fakta itu dibuat-buat oleh orang yang gemar dipublikasikan.

Walau demikian, harus diakui memang pada dasarnya wartawan tidak bisa melepaskan persepsinya tentang suatu peristiwa yang akan jadi bakal calon berita. Sebab, “Tahap paling awal dari produksi berita adalah bagaimana wartawan mempersepsi peristiwa/fakta yang akan diliput.” Demikian saya mengutip dari Analisis Framing (2012). Dari sinilah kita bisa melihat bagaimana wartawan telah misspersepsi tentang pernyataan anak bangsa itu.

Minta maaf pada pembaca

Dari kelima penerbit cerita palsu itu, hanya Tempo.co yang menambahkan pernyataan bahwa postingannya itu berisi fakta yang keliru. Begini bunyinya: Pada, Senin, 9 Oktober 2017, pukul 16.30 WIB, kami dari redaksi menyatakan bahwa fakta dalam berita ini tidak tepat. Selain media ini, tak ada yang menyatakan hal serupa. Setidaknya saat saya refresh berita itu pada 13 Oktober 2017.

Di era yang lebih mendukung untuk lebih interaktif ini, mestinya media bisa memberi pernyataan atas kekeliruan ini. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh misalnya majalah politik Amerika, The New Republic. Majalah itu telah banyak mencetak fiksi menjadi fakta yang dikarang oleh wartawan termudanya bernama Stephen Glass.

Baru pada Juli 1998, redaksi The New Republic menulis pernyataan maaf untuk pembacanya. Setelah terjadi banyak kemelut di dapurnya. Majalah yang terbit perdana pada 1914 ini mengakui fakta pahit, bahwa dari 41 tulisan karya Stephen Glass yang telah terbit, 27-nya merupakan tulisan rekayasa, baik sebagian atau pun seluruhnya.

Insiden ini menjadi momentum tersendiri bagi masyarakat yang mesti lebih skeptis atas pemberitaan media. Selain itu, ini adalah ujian sendiri bagi redaksi, yang berguna untuk mengukur diri, sudah sejauh mana redaksi menyelamatkan pembaca setianya dengan setia pada kebenaran?

Leave A Reply

Your email address will not be published.