Memahami Dampak Pandemi Covid-19 Bagi Pelajar Disabilitas

JURNALPOSMEDIA.COM – Tiga Desember selalu diperingati sebagai Hari Disabilitas Internasional. Peringatan tersebut seakan mengingatkan bahwa di saat para pelajar mengeluh karena belajar secara daring, penyandang disabilitas justru berupaya maksimal agar dapat meraup pelajaran semampunya.

Pada Jumat (4/12/2020), Jurnalposmedia menghubungi seorang mahasiswi asal Indramayu, Fitri Atun Badroh (23). Ia adalah seorang penyandang disabilitas tunanetra, yang kini tengah menempuh pendidikan sarjana strata satu (S1) di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) jurusan Pendidikan Khusus.

Ia bercerita mengenai kesulitannya mengakses materi pelajaran, juga saat membaca isi materinya, “Ketika menghadapi aplikasi yang tidak mudah diakses. Serta tidak bisa dibacakan oleh screen reader. Ibaratnya, kita (seperti) jalan menuju tempat yang kita enggak tahu,” ungkapnya.

Saat ini ia merantau dan tinggal di Asrama Wyata Guna ramah disabilitas yang difasilitasi oleh Kementrian Sosial (Kemensos). Di kelasnya pun, hanya ia satu-satunya mahasiswi penyandang disabilitas. Namun ia mengaku belum mendapatkan banyak fasilitas dari kampus maupun pemerintah yang mendukung kegiatan belajar daringnya.

Oleh karenanya, ia mencoba berusaha beradaptasi lebih ekstra dengan mekanisme pembelajaran yang berbeda dari biasanya, “Kalau mendesak banget, cari orang awas terus minta bacain (materi pelajaran). Kalau enggak mendesak, mungkin cari alternatif lain, tapi prosesnya (akan) lebih lama,” jelas Fitri.

Walaupun memiliki banyak hambatan saat proses belajar daripada mahasiswa normal lainnya di masa pandemi, hal ini tidak membuat semangat Fitri pudar. Ia selalu mengingat betapa bangganya Ia bisa masuk ke kampus dan jurusan idamannya. Cita-citanya menjadi guru Sekolah Luar Biasa (SLB) dilandaskan pada optimismenya untuk turut membangkitkan semangat sesama penyandang disabilitas agar dapat meraih pendidikan terbaik.

Tak hanya itu, ia menuturkan bahwa dukungan dari keluarga dan teman begitu mengalir deras untuknya, “(Mereka) selalu ada ketika aku membutuhkannya. Contoh ketika ujian, terus tidak ada yang membacakan (materi pelajaran). Mereka rela datang ke kampus hanya untuk membacakan (kepada) saya,” terangnya.

Walau tidak dapat melihat dunia, maka buktikanlah dunia yang akan melihat kita. Ungkapan itulah yang menjadi pesannya kepada para penyandang disabilitas agar terus mengeksplorasi kemampuan dan tidak mudah patah arang.

Sehari sebelumnya pada Kamis (3/12/2020), Jurnalposmedia juga berkesempatan mendengar cerita dari seorang guru SLB Darul Hidayah, Anita Sumirat. Ia menjelaskan bahwa ada kurikulum tersendiri bagi siswa disabilitas, yang terdiri dari beberapa klasifikasi. Yaitu Tunanetra (anak dengan hambatan penglihatan), Tunarungu (anak dengan hambatan berbicara dan mendengar), Tunagrahita (hambatan keterbelakangan mental).

Lalu Tunadaksa (hambatan kelainan fungsi dari tubuh untuk melakukan gerakan-gerakan), Tunalaras (hambatan dalam mengendalikan emosi dan kontrol sosial) dan Autisme.

Metode Pembelajaran Bagi Pelajar Berkebutuhan Khusus

Anita mengungkapkan bahwa ada dua metode pembelajaran yang diterapkan. Yaitu secara daring dan luring, “(Ini) disebut dengan metode pembelajaran campuran (blended learning). (Selanjutnya) dalam blended learning memiliki tiga komponen penting, yaitu online learning, pembelajaran tatap muka, dan belajar mandiri,” terangnya.

Kiprahnya selama 15 tahun sebagai guru SLB, tidak begitu saja menjadikan sistem mengajar blended learning saat pandemi ini sebagai sesuatu yang mudah untuk dijalani, “Dikarenakan tidak adanya interaksi langsung antara siswa dan guru. (Sedangkan) Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) membutuhkan role model langsung atau aksi nyata. Di mana, terlihat ekspresi, gerak-gerik, body language, suara ibu guru, penekanan intonasi. Juga hal yang dapat menarik konsentrasi anak ABK fokus belajar,” jelasnya.

Lebih jauh, ketidakefektifan ini dirasakan oleh Anita sebagai pengajar karena tugasnya yang harus menyampaikan langsung materi pembelajaran kepada orang tua siswa. Meski begitu, Anita menyikapi kesulitan-kesulitan tersebut dengan tetap melakukan kunjungan rutin ke rumah siswa. Ia memberikan buku catatan pembelajaran dalam rangka mengetahui proses dan evaluasi belajar anak. Selain itu, ia tetap menjalin komunikasi dengan para orang tua siswa melalui pesan Whatsapp.

Sama dengan harapan setiap orang, Anita juga berharap agar pandemi segera berlalu. Sehingga dapat bercengkerama dan menjalin komunikasi yang hangat antara dirinya dan para murid kesayangannya, “Semoga diberi kesehatan pada semua siswa dan orang tua di rumah. Bersabar dan tawakal dalam menjalani hari-hari ke depan,” pesannya menutup obrolan.

Rekomendasi

Leave A Reply

Your email address will not be published.