May Die (Bagian 1 & Bagian 2)

Bagian 1 : Prolog

1 Mei 2016, XX.XX WIB

“Hei bertahanlah! Tekan terus lukamu, tetap bersamaku!”, aku berteriak sambil menyeret tubuh Dian yang telah terkulai lemas di jalanan yang ganas ini.

“Cukup… tinggalkan aku pergilah, sudah tidak ada harapan untuk omongannya terpotong oleh muntah darah yang keluar dari mulutnya, bersamaan dengan suara ledakan yang sangat besar di seberang jalan saat itu.

Ledakan itu membuatku pening dan pusing beberapa saat. Ini pertama kalinya aku mendengar suara ledakan yang sangat dekat dengan telingaku. Cukup sulit diriku untuk memfokuskan pandangan yang aku tau sekarang Dian mulai berhenti bergerak, dia sudah mati.

Ku edarkan pandangan berusaha memfokuskan mengetahui keadan sekitar. Hingga aku menyadari sebuah acungan pistol berada tepat di depan kepalaku, seorang lelaki dengan pakaian polisi lengkap mengacungkan pistol tersebut tepat didepan kepalaku.

Darah mulai terasa mendidih tetapi rasa dingin lebih dominan kurasakan. Jantung berdegup kencang, instingku mengatakan untuk kabur dan lari dari tempat ini tetapi tubuhku tidak dapat bergerak sedikitpun.

Kurasa ini akhirnya.

Bagian 2

30 April 2016, 15.00 WIB

“Jadi…telah tiba saatnya” suara seorang lelaki berbisik padaku di tengah kerumunan orang banyak dalam ruangan gudang yang sesak ini. Ruangan ini dipenuhi aroma yang tidak karuan.Bagaimana tidak sekitar dua ratus buruh berkumpul disini setelah pekerjaan mereka yang cukup berat.

“Hey!” lelaki itu memukul pundakku “Kau melamun lagi, perhatikan nomor antrian mu, sekarang sudah masuk nomor seratus. Sebentar lagi giliranku dan giliranmu, ” lanjut lelaki itu memperhatikan wajahku yang sekarang menunjukan ekspresi terkejut.

Ah yah nomor antrian, kami semua sudah menunggu hari ini. Hari dimana kami dapat terlepas dari kekangan borgol yang mengikat leher kami. Borgol ini tidak seperti yang kau bayangkan dengan rantai di dalamnya. Borgol ini hanyalah sebuah kalung dengan sebuah nomor identitas ketenagakerjaan mu di dalamnya. Menandakan bahwa kau adalah budak seseorang—maaf maksudku buruh, namun apa bedannya.

Borgol ini tidak hanya menempatkan nomor identitas. Borgol ini juga dibekali dengan beberapa fitur yang semakin mengekang kebasan para buruh, maksudku pelacak, jam sisa kerja, bahkan sebuah alat kejut listrik di dalamnya—ya alat kejut.

“BN0103124” terdengar suara seorang wanita dari speaker di sekeliling ruangan ini.

“Hey ini giliranku, sampai jumpa kawan. Mari kita berjuang demi menyuarakan keadilan kita,” ujar lelaki tersebut dengan senyum bersemangat di wajahnya dan berjalan kearah pintu keluar. Terlihat disana ada pihak perusahaan yang melepaskan borgol di lehernya.

“Yah semoga beruntung,” sudah empat tahun lebih semua buruh dipelakukan seperti ini. Meski ku baru menjalani sistem ini selama dua tahun tetapi sudah sangat terlihat bahwa kami diperlakukan layaknya budak. Namun bagaimanapun diperlakukan seperti ini sepadan dengan sistem pendanaan yang mereka berikan.

Dulu kami menuntut untuk menaikan upah buruh. Mereka menyetujuinya memberikan upah lima juta rupiah setiap bulan dengan dana tambahan lainnya. Beruntung pikir kami tetapi konsekuensi yang diberikan pemerintah benar-benar busuk. Mereka menetapkan sistem perbudakan pada buruh.

Kami memiliki data kepemilikan yang dipegang oleh perusahaan masing-masing, dengan buruh harus tetap bekerja selama 16 jam setiap harinnya tanpa diberikan hari libur. Tetapi kami diberikan satu hari kebebasan dan satu hari pemotongan jam kerja, yaitu sekarang dan besok 1 mei sebagai hari buruh internasional.

Hari tersebut dijadikan ajang yang paling dimanfaatkan oleh para buruh, untuk mencapai kebebasan. Mereka antara memilih untuk menjadi demonstran atau menghabiskan waktu bersama keluarga. Sejauh ini ku telah mengambil kebebasan dengan keluargaku, tapi ku mulai merasa muak akan sistem ini, hari ini aku akan mengambil jalan para demonstran.

“BN0103126” cukup lama ku melamun hingga ku menyadari bahwa nomorku telah dipanggil.

Ku berjalan kearah pintu keluar yang terlihat sangat besar, pintu itu berbentuk seperti pintu hangar pesawat dengan dua pintu. Di bawah pintu itu terdapat sebuah pintu yang berukuran lebih kecil dengan pos penjaga dan lima orang penjaga berada di depan pos tersebut.

Para penjaga itu melihat kearahku saat ku berjalan mendekati pintu. Pandangan mereka sebetulnya membuatku merasa tegang. Ini baru keduakalinya aku berhadapan dengan mereka. Berhadapan dengan tiga orang penjaga dengan senjata api dan dua orang pendata buruh merupakan hal yang cukup menegangkan bagiku.

“BN0103126, tuan Farid benar?” salah satu seorang pendata bertanya padaku sambil membolak-balik sebuah map berisikan data diriku selagi pendata yang lain berusaha melepaskan kalung di leherku.

“Keluarga atau Demonstran?” lanjut pendata tesebut.

“Demonstran” jawabku dengan menatap wajah pendata tersebut. Pendata tersebut hanya mendengar tanpa menunjukan ekspresi apapun.Lalu ia mengeluarkan sebuah kain merah dan memberikannya pada seorang pendata yang berusaha melepaskan kalung dileherku yang sudah terlepas. Sekarang pendata itu mengikatkan kain merah itu di lengan kananku, sepertinya kain itu untuk menandakan bahwa aku seorang demosntran.

Pintu kecil itupun dibuka, tanpa perlu diberitahu sekarang aku sudah tahu jika aku harus keluar dari tempat ini. Di luar entah mengapa terlihat banyak orang sedang berkumpul, orang-orang dengan pita merah yang sama dengan ku, para demonstran. Dari kejauhan ku dapat melihat orang-orang itu berkumpul dan membicarakan sesuatu. Di antarannya aku dapat melihat seorang lelaki yang sebelumnya menegurku didalam. Yah dia BN0103126. Dia melihat dan segera berlari kearahku dengan senyuman diwajahnya.

“Hei… akhirnya kau memilih di jalan yang benar kawan?” ujarnya sambil berusaha menjabat tanganku.

“Ahh yah aku terlalu lelah dengan pekerjaan ini, uh…nomor 126” balasku dengan balik menjabat tangannya.

“Hei jangan sebut namaku dengan angka-angka itu. Lihat kalung itu sudah tidak ada dileherku.” Ujarnya sambil menunjukan lehernya “sekarang panggil saja aku Dian” lanjutnya

“Farid” balasku padannya

“Farid yah, sudah bekerja selama tiga tahun di tempat ini dan aku baru tahu nama mu sekarang,“ lelaki tersebut tertawa sambil melepas kan tangan ku dan berjalan menjauh dengan tetap menatapku, memberikan isyarat untuk mengikutinya.

Kami pun berjalan kearah kerumunan para demostran itu. Mereka terlihat seperti membicarakan sesuatu yang sangat penting. Tentu saja mereka akan melakukan sebuah aksi kan.

“Hei dapat orang baru disini namannya Farid” ujar Dian pada kerumunan itu yang membuat salah satu orang keluar dari kerumunan. Kupikir ia ketua dari gerakan ini. Ia memiliki perawakan cukup besar dengan janggut dan rambut gondrongnya. Kupikir orang ini memiliki sikap yang keras.

“Ah orang baru yah, selamat datang-selamat datang” lelaki itu menjabat tangan ku dengan senyuman dan suara yang lembut keluar dari tenggorokannya. Entah mengapa persepsiku terhadap orang ini buyar seketika setelah mendengar suarannya.

“Kau bisa menyebutku Joseph, aku pemimpin grup 13 ini”  ujar lelaki tersebut melihat kearah para demonstran. Ternyata perkiraanku benar dia pemimpin kelompok ini.

“Jadi Farid sebelum kita menuju pokok bahasan, apa kau siap untuk terjun dalam dunia yang kejam ini” tanyannya yang kini menujukan wajah serius kearahku, ia terus melihat kearah mataku dengan tatapan serius, kenapa dia menatapku dengan padangan seserius itu? Maksudku kita hanya akan melakukan tidakan demo biasa kan, menyuarakan orasi-orasi dan mengharapkan pemerintah mendengar kita. Tentu saja aku siap.

Aku hanya mengagguk karena wajah intimidasinya membuatku tidak dapat mengatakan sepatah katapun.

“Baiklah kalau begitu” ujar lelaki tersebut yang sekarang pergi ke tengah-tengah kerumunan itu lagi.

“Persediaan dan barang untuk perlawanan akan dikirimkan pada alamat kalian masing-masing. Kemungkinan akan datang pada besok siang, selama barang itu belum datang perisapkan lah mental kalian, keberanian kalian. Ucapkan selamat tinggal karena mungkin ini akan menjadi saat-saat terakhir bagi kalian” lelaki tersebut berbicara ditengah kerumunan dengan tampang yang serius. Kerumunan orang-orang ini juga terlihat sangat amat sangat serius dan tegang diwajahnya.

Sejujurnya aku bingung ini memang pertama kali aku berada di dalam kelompok demonstran. Dua tahun aku hanya memilih untuk keluargaku, saat mayday memang menjadi hari yang sangat meriah. Orang-orang berpesta dan membunyikan kembang api dimana-mana , aku masih belum mengetahui hidup para demonstran.

“Baiklah semuannya, sekarang bubar dan besok berkumpul dengan segala persiapan yang telah kalian siapkan pukul tiga sore disini, dan kita akan memulai aksi kita dengan kendaran yang ada disini nanti,” ujar lelaki tersebut dengan nada yang leih tinggi dari sebelumnya.

“Suarakan api kemerdekaan!,” lanjut lelaki tersebut dengan berteriak yang diikuti dengan teriakan para demonstran yang mulai membubarkan diri.

Melihat keseriusan orang-orang sepertinya aku tidak memahami bagaimana proses demonstrasi ini berjalan. Sebenarnya bagaimana sistem ini berjalan? Ada apa dengan persiapan-persiapan aneh ini? dan ada dengan perpisahan terakhir? Banyak hal yang tidak ku ketahui mengenai hal ini.

“Dian, maaf tapi ku pikir banyak hal yang tidak ku ketahui tentang sistem ini. Bisa kau jelaskan padaku?” aku berkeputusan untuk bertanya pada Dian tentang rasa bingungku.

“Oh iya kau baru yah, sebelumnya apa keahlian mu? Maksudku apa kau bisa mengoprasikan senjata api? Bagaimana dengan senjata tajam? Atau kendaraan mungkin?” Dian menanyakan hal yang malah membuatku semakin bingung dan semakin resah dengan apa yang sebenarnya terjadi.

“Tunggu dulu, apa yang sebenarnya terjadi, kenapa kau tiba-tiba mananyakan hal itu?” tanyaku dengan ekspresi sangat bingung dengan pernyataannya.

“Kau benar-benar tidak tau tentang keadaan kita yah” ujarnya. “Baik aku akan menjelaskannya, lagi pula ini kali kedua aku selamat dari hari ini”

“Selamat?” tanyaku bingung.

“Selamat dari apa yang akan kita hadapi besok,” jawabnya “jadi begini Farid, apa saat kau menikmati hari-hari mu di mayday mendengar suara kebang api? Jika iya, itu bukan kembang api, itu suara hujan senjata api.

Akan sangat mengejutkan untukmu memang, tapi begini sistemnya. Ingat sejarah dulu para buruh memerjuangkan gajinya demi mencapai gaji yang sepadan? Bahkan melebihi kebutuhan kita, pemerintah menyetujuinya dengan beberapa kondisi, salah satunya dengan menghapuskan sistem demokrasi para kaum buruh. Tetapi pemerintah tidak ingin terlihat citra jelek di masyarakat sehingga ia memberikan kebebasan pada hari tertentu yaitu saat mayday.

Tetapi pemerintah mengetahuinya pekerjaan ini akan banyak orang yang mengincar sedangkan lapangan pekerjaannya akan sangat minim. Buruh akan semakin tua dan jenuh. Jadi pemerintah membuat sistem, sistem busuk disebut demonstran. Kau pikir ini demo biasa? Bukan, ini hanyalah akal-akalan pemerintah untuk membuat pergantian buruh di perusahaan masing-masing.

Cara mereka pun busuk dengan kedok mengangkat para calon buruh. Menggunakan pakaian polisi di lokasi demonstran nanti dan memfasilitasi mereka untuk dapat menyerang para buruh demonstran, sehingga dapat menggantikan posisi mereka.” jelasnya.

Dengan sangat terkejut aku mendengar pernyatan tersebut kupikir sistem perbudakan ini sudah sangat buruk. Tetapi hal ini lebih parah lagi, apa untungnya bagi kami para buruh ? Hanya dijadikan sapi perah dan dibuang begitu saja? Apa untungnya jika hidup kami tidak sebegitu berarti dan hanya dibayarkan dengan uang yang tidak sepadan jika seperti ini.

“Apa…apa untungnya untuk kita jika begini?” tanyaku dengan masih menahan rasa syok dalam diriku

“Keuntungan yah, kau mau tahu gaji ku sekarang? Setelah mengikuti demonstran sebanyak dua kali, sekarang gajiku sebanyak sepuluh juta perbulan, belum termasuk tunjangan lainnya. Jadi jika ditannya kenapa aku mengambil keputusan mengikuti hal ini, karena pekerjaanku saja menurutku tidak sepadan dengan gajinya. Jadi aku ingin menaikannya lebih jauh lagi. Saat sudah mencapai lima puluh juta, aku akan berhenti” ujarnya dengan santai. Dia bahkan terdengar seperti menikmati semua hal ini. Ini benar-benar salah, tidak seharusnya aku mengambil jalan ini. ini salah, aku harus keluar dari sistem ini.

“Tidak ini tidak benar! Aku tidak menginginkan hal ini. Aku harus berbicara dengan atasan” jawabku dengan berusaha melihat jam yang ternyata sudah menunjukan pukul lima sore. Semua pihak perusahaan sudah pergi meninggalkan lokasi buruh pada jam ini.

“Maaf kawan sudah tidak ada jalan kembali, sebaiknya kau persiapkan dirimu,” ujar Dian meninggalkan diriku.

Napasku mulai tidak beraturan. Berusaha memahami apa yang telah terjadi, sebuah keputusan bodoh! Sangat bodoh yang seharusnya tidak aku lakukan! Dasar bodoh!!

Bersambung……..
Cerpen ini ditulis oleh Muhammad Noor Fuad Jurusan Ilmu Komunikasi Konsentrasi Jurnalistik UIN Bandung.

Leave A Reply

Your email address will not be published.