Terabaikan

“Andaikan bertambah lagi satu superhero di dunia ini, mungkin polisi hutan masuk ke dalam daftar nama salah satunya. Eksistensinya memang tak setara dengan POLRI, Brimob, bahkan TNI. Namun yang perlu kita ketahui bahwa ada orang yang sepanjang harinya tidak pernah ada di rumah, mendapati telfon warga yang mengabarkan ada banteng  masuk ke dalam kandang sapi, mengejar-ngejar pemburu, dan nestapa melihat hutan yang tanpa sepengetahuannya sudah hangus terbakar api.”

Dua laki-laki. Satunya mengudarakan dua sampai tiga peluru, sementara satunya lagi mengusap peluh yang menetes dari dahinya. “Mereka berhasil kabur lagi pik.”, wajahnya bermuram durja. Belakangan ini pemburuan banteng seolah menjadi teror terbesar setelah pembakaran pohon-pohon di kawasan taman nasional yang hendak dijadikan ladang perkebunan. Menariknya, konsekuensi terbesar dari pemburuan liar tak mengalahkan hasrat si pemburu untuk tidak melakukan pelanggaran. Setengah jam sudah aksi kejar-kejaran itu berlangsung.

Samar-samar dari balik pohon, pemburu terlihat sedang duduk sambil menenteng senapan angin. Atip tak tinggal diam, diudarakan lagi tembakan agar pemburu bubar. “DUARRRRRR…” tembakan kali ini terdengar lebih keras dari yang sebelumnya. “HEY BARUBAR DIA!!!”, hanya ada suara orang berlarian dan kemudian diikuti suara hening. Tidak ada langkah kaki lagi di dalam kawasan, dan semoga saja memang benar-benar tidak ada.

Jejak kaki banteng membekas sepanjang tepi pantai. Deru motor bersahut-sahutan bersamaan dengan gulungan ombak. “Kumaha Pak Atip?” tanya satu dari sembilan orang lelaki yang menunggu kedatangan mereka berdua di saung milik warga. “Beres boy, kabur.”, jawab Opik yang sedari tadi membersamai Atip. “Hayu Pak, ngopi dulu atuh biar gak salah paham”, sodor Yanda yang statusnya adalah junior baru di tempat kerjanya itu. Mereka kemudian tertawa bersama, melepas lelah, menyiapkan kembali tenaga yang bisa saja harus mereka keluarkan di waktu yang tak pernah mereka ketahui.

***

“Siap 86 pak, sebentar lagi saya menuju TKP”. Mantan petani yang kini menjadi polisi hutan itu hanya menyunggingkan senyuman datar sambil memutar gelas kopinya searah jarum jam, lantas menyeruput kembali kopi yang beberapa detik sebelumnya sempat terabaikan. Rasa-rasanya, kopi di hadapannya menjadi dingin usai menjawab panggilan yang masuk ke dalam gawai bututnya yang lebih mirip mobil-mobilan itu.

“Hmm…..masuk hutan lagi pak?”, istrinya yang sudah berusia lebih dari setengah abad bergegas keluar membawa sekarung penuh cengkih untuk dijemur di halaman rumahnya. Ia sama sekali tidak menampakkan wajah kepada suaminya itu. “Baru juga kemarin sore pulang pak, sekarang sudah pergi lagi”, keluhnya.

“Hanya manusia-manusia pilihan Tuhan yang sanggup melakukan pekerjaan semacam ini bu.”, senyap lamat-lamat masuk ke dalam rongga bilik mereka. Hening. Namun, diatas sana Tuhan sedang tersenyum.

Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Administrasi Publik semester 5

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.