Lebaran untuk Siapa?

Anak-anak penjaja minuman, suara dan belas kasihan bertebaran di pinggir jalan. Langkah-langkah riangnya membelah kepadatan antrian kendaraan yang berhenti menunggu giliran untuk melaju di persimpangan jalan arteri Ibukota. Pemandangan seperti ini lazim di temukan pada jam-jam sibuk.

Sambil berdiri di trotoar jalan, aku mengamati mereka. Mereka berjalan menghampiri satu demi satu pengemudi, memasang wajah melas di samping kaca penumpang. Menawarkan aneka minuman kemasan. Memetik senar-senar ukulelenya untuk mengiringi alunan suara sumbang. Setelah lampu berganti warna menjadi kuning, semuanya buru-buru berlari, kembali berkerumun di trotoar jalan, tidak jauh dari tempat ku berdiri.

Sambil menghitung uang hasil menjual minuman kemasan, salah satu di antara mereka berkata “lebaran itu bukan cuma buat mereka yang bisa beli baju baru”.

“lebaran juga bukan cuma buat mereka yang kaga pernah bolong puasa sama sholat teraweh”. Anak itu melanjutkan sambil memasukan uang yang tadi di hitung ke dalam saku celananya.

Anak-anak yang lain mendengarkan dengan seksama, dari ekspresinya, terlihat mereka sangat antusias mendengarkan.

“Malahan lebaran juga bukan cuma buat mereka yang dapet kemuliaan di malam yang lebih baik dari seribu bulan”.

Sambil merapikan susunan minuman kemasannya, anak itu melanjutkan “Tapi… merah merah, ntar lanjut lagi”.

Serentak mereka mengalihkan tatapannya kepada lampu lalu lintas yang berubah warna menjadi merah. Aku masih berdiri mengamati dari sini. Mereka kembali berpencar berlarian. Kembali menghampiri satu demi satu pengemudi, memasang wajah melas di samping kaca penumpang. Menawarkan aneka minuman kemasan. Memetik senar-senar ukulelenya untuk mengiringi alunan suara sumbang.

Selagi mereka melakukan yang harus mereka lakukan, aku membeli beberapa kilo buah. Ketika sedang memilih-milih buah untuk di timbang, lampu lalu lintas sudah berubah warna menjadi hijau dan anak-anak itu sudah berkumpul kembali di tempat tadi, kali ini aku semakin dekat dengan mereka karena letak tukang buah ini dekat sekali dengan tempat mereka berkerumun.

“Tapi lebaran juga buat mereka yang kaga sempet mikirin kenikmatan hidangan di meja makan kaya kita…” anak itu tidak lagi menghitung uang, sepertinya tidak ada yang membeli minuman kemasannya sebab susunan minuman itu masih rapih.

“…lebaran juga buat mereka yang engga peduli sama sesama. Lebaran juga buat mereka yang engga peduli sama kesenjangan, ketidak adilan, dan kesewenang-wenangan”.

Salah satu anak yang dari tadi mendengarkan dengan serius bertanya “apakah lebaran juga buat mereka yang memiliki mental pengemis di hari raya? Juga mereka yang mendidik anak keturunan mereka dengan mental seperti itu? Bukannya lebaran adalah kemenangan? Dan bukannya seorang pemenang engga punya mental seperti itu?”

Mendengar semua itu membuat jalanan terasa lengang padahal banyak kendaraan lalu lalang. Selesai aku membayar buah yang ku pilih, aku berjalan menuju kerumunan itu.

“Ini buat kalian”. Mereka semua menatapku yang tiba-tiba datang lalu menyodorkan dua kantong plastik penuh berisi buah-buahan.

Rekomendasi

Leave A Reply

Your email address will not be published.