‘Jamila dan Sang Presiden’, Kisah Nyata Perdagangan Perempuan

JURNALPOSMEDIA.COM- Setiap tanggal 10 Desember dunia international memperingati Hari HAM Sedunia. Tanggal tersebut dideklarasikan oleh PBB pada tanggal 10 Desember 1948. Berbicara mengenai pelanggaran Hak Asasi Manusia, banyak pelanggaran HAM yang terjadi di seluruh dunia yang menginspirasi orang untuk membuat film tentang kisah perjuangan mereka. Salah satunya yaitu film Jamila dan Sang Presiden.

Film ini disutradarai oleh Ratna Sarumpaet dan Sam Sarumpaet bahkan Ratna sendiri yang menjadi penulis cerita tersebut. Film ini telah berhasil membuka mata dunia mengenai pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia. Sebuah film drama yang dirilis pada tahun 2009 dibintangi oleh Atiqah Hasiholan dan Christine Hakim. Film ini menceritakan kisah hidup seorang pekerja seks komersial (PSK) yang dipenjara karena membunuh seorang mentri.

Kisah seorang pelacur bernama Jamilah (Atiqah Hasiholan) yang sejak kecil sudah menjadi korban perdagangan anak. Ketika kecil dia dijual ayahnya kepada mucikari. Tetapi beruntung karena ibunya menyelamatkannya dan menitipkannya kepada Ibu Wardiman ( Jajang C.Noer) yang merupakan keluarga terhormat di Jakarta.jamila dititipkan agar terhindar dari ayahnya dan bisa hidup nyaman.

Namun seiring berjalannya waktu paras Jamilah yang cantik membuat nafsu dua orang lelaki yaitu anak dan ayah dirumah. Akhirnya secara bergiliran merenggut kesuciannya. Karena sudah tidak tahan terhadap pelecehan tersebut, akhirnya jamilah membunuh anak laki-laki Ibu Wardiman dan Suaminya. Setelah itu Jamilah kabur dari rumah dan tinggal di pasar lagi-lagi dia kabur karena ada yang ingin memperkosannya. Hingga jamilah tertangkap karena dikira PSK dan bertemu dengan PSK baik hati bernama Suci. Dari sinilah jamilah tumbuh menjadi seorang PSK.

Seorang perempuan bernama Jamila tiba-tiba menjadi headline di semua pemberitaan nasional. Ia mengaku membunuh seorang pejabat tinggi negeri dan menolak mengajukan pengampunan hukuman mati dari Presiden. Jamila dimasukan dalam penjara yang dipimpin oleh seorang sipir perempuan yang sangat ditakuti, Ibu Ria (Christine Hakim). Di penjara inilah cerita jamila bergulir membuka sebuah luka bernama perdagangan manusia yang dialami oleh Jamila dan jutaan anak di Indonesia.

Selama ini Jamila mencari adiknya yang terjerat dalam sindikat prostitusi anak, yang akhirnya mengantar Jamila ke penjara. Konflik di dalam penjara dengan Ibu Ria makin meruncing, sementara tekanan dari luar juga mejadi tidak tertahankan. Jamila semakin terpuruk, hukuman matinya semakin dekat.

“Ini tentang kekuasaan, kekuasaan lelaki diatas ketidak berdayaan perempuan sebuah alasan yang membuat anak-anak perempuan wajar kehilangan kebahagiaannya. Wanita dikejar-kejar diperebutkan dan akhirnya merusak generasi anak bangsa,” kutipan dialog dari film Jamila dan Sang Presiden yang menggambarkan betapa kekuasaan diatas segalannya bahkan merenggut kehormatan wanita yang sangat dijaganya.

Ide cerita Jamila dan Sang Presiden berawal dari tiga tahun lalu UNICEF meminta Ratna Sarumpaet, sutradara handal yang juga aktivis perempuan, untuk menjalankan sebuah penelitian mengenai woman trafficking di Indonesia. Sampai saat ini masih banyak kisah-kisah pelanggaran HAM yang tidak terkuak atau belum tuntas. Mari bergerak buatlah gerakan yang membuat masyarakat sadar dan tidak hanya diam melihat pelanggaran HAM tersebut.

 

Rekomendasi

Leave A Reply

Your email address will not be published.