Goenawan Mohamad: Jurnalis yang Puitis

“Definisi kesepian yang sebenarnya adalah hidup tanpa tangung jawab sosial”

JURNALPOSMEDIA.COM – Tidak ada yang lebih mengagumkan ketika membicarakan kebebasan berbicara selain dengan menjadi penyair atau jurnalis. Dalam keduanya kejujuran adalah kunci yang harus di junjung dan di aplikasikan kedalam sebuah karya. Karya-karya itulah yang nantinya akan dinikmati oleh masyarakat dengan keadaan sejujur-jujurnya. Adalah Goenawan Soesatyo Mohamad atau yang lebih akrab disapa Goenawan Mohamad, tokoh yang menekuni keduanya.

Dalam mengungkapkan pendapat, beliau sebisa mungkin berbicara seadanya dan jujur terbuka untuk dinikmati khalayak. Inilah mengapa perjalanannya dalam dunia kesusastraan dan kejurnalistikan akan selalu menyenangkan ketika dibicarakan.

Pria yang lahir di Batang pada tanggal 29 Juli 1941 ini sudah menyukai dunia kesusastraan sejak Ia duduk di kelas 6 SD. Berawal dari mendengarkan puisi di siaran RRI, Ia pun mulai mencintai sastra. Barulah di umur 17 tahun, Ia menulis sajak pertamanya, lalu dua tahun kemudian ia menerjemahkan sebuah puisi dari penyair asal Amerika, Emily Dickinson.

Semasa mudanya, Ia aktif dalam kesusastraan. Sebelum menjadi seorang jurnalis, Ia memilih jalan menjadi seorang penyair. Keaktifannya dalam dunia sastra membuatnya ikut dalam Manifesto Kebudayaan pada tahun 1964. Berawal dari kejujurannya menciptakan sajak-sajak, GM (sebutan akrabnya) tahu bahwa tulisan sajak tidak bisa secara universal dimengerti oleh orang-orang banyak. Oleh karena itu, mulailah ia menjadi jurnalis dan menulis di koran-koran seperti Majalah Indonesia.

Pendidikan politiknya di Belgia menciptakan pandangan politik GM kearah liberalisasi. Tulisan-tulisannya sarat akan kritik kepada rezim penguasa saat itu. Kehadirannya di Manifesto Kebudayaan, menjadikan dirinya dilarang untuk menulis di surat kabar apapun. Namun, semangat mencerahkan masyarakat tidak kunjung surut begitu saja, bermodal nama samaran, Ia menulis di Majalah Indonesia.

Ketika dirinya dilarang menulis oleh pemerintah, Ia rekap dalam bukunya yang berjudul Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang. Walaupun pernah diasingkan (tidak boleh menulis), Ia merasa perjuangan tidak boleh berhenti disitu saja. Setelah jatuhnya Orde Lama dan berganti menjadi Orde Baru, GM mulai kembali menulis di beberapa media.

Tulisan-tulisannya tidak berbeda jauh dengan apa yang Ia tulis ketika berada di era pemerintahan Orde Lama. Tulisannya yang khas, sarat akan kritik, menjadi musuh baru bagi pemerintahan saat itu. Ia pernah berkali-kali di ancam dan dibredel oleh pemerintah.

Jejak kejurnalistikannya dimulai ketika Ia di lantik menjadi Redaktur Harian KAMI (1969-1970), kemudian Redaktur Majalah Sastra Horison (1969-1974), Pemimpin Redaksi Majalah Ekspres (1970-1971), dan Pemimpin Redaksi Majalah Swasembada (1985).

Pada 1971, Ia menjadi salah satu orang penting di Majalah Ekspres. Tulisannya yang tajam tidak sejalan dengan pemegang saham utama media tersebut. Lalu, menganggap bahwa tulisan-tulisannya akan menjadi masalah di kemudian hari. Perbedaan pandangan ini menjadikan GM memutuskan untuk keluar dari Majalah Ekspres dan menapaki jejak untuk mendirikan sebuah media. Lalu, lahirlah media yang hingga saat ini masih eksis di panggung pemberitaan tanah air yaitu, Tempo.

Pencetusan Tempo lahir dari ketidakpuasan para wartawan pada saat itu. Integritas mereka di jegal dengan segala kepentingan politik para pemegang saham media dengan pemimpin Orde Baru saat itu, Soeharto. Ketidakpuasan tersebut di rasakan oleh para wartawan senior seperti Goenawan Mohamad, Bur Rasuanto, Usamah, Fikri Jufri, Cristianto Wibisono, Toeti Kakiailatu, Harjoko Trisnadi, Lukman Setiawan, Syu’bah Asa, Zen Umar Purba, Putu Wijaya, Isma Sawitri, Salim Said, dan lainnya.

Berdiri dengan Goenawan Mohamad sebagai ketua, Tempo hadir menjadi salah satu media yang siap berkiprah di dunia kejurnalistikan dengan berita-berita yang jujur. Pada zamannya, Tempo terbilang sebagai media yang ‘nakal’ oleh pemerintah, karena tulisan-tulisannya yang begitu sexy mengritik pemerintahan saat itu. Hal ini tentu menjadi pedang bermata dua bagi Tempo sendiri. Di satu sisi Ia hadir dengan wajah baru yang digandrungi masyarakat, namun di sisi lain siap berhadapan dengan pemerintah yang tak pandang bulu.

Tulisan-tulisan Tempo yang begitu energik dan khas ini sering di kait-kaitkan dengan majalah Time di Amerika. Cover pertama media ini hadir persis dengan majalah Time yang memiliki segi empat berwarna merah. Tentu saja ini menjadi pertanyaan masyarakat, “apakah Tempo memang mengikuti jejak Time?” jawaban Tempo sederhana. “Benar, Tempo meniru waktu, selalu tepat, selalu baru”. Jawaban ini menjadi sindiran halus sarat akan makna. Pernah pada 1973, Time menggugat Tempo karena covernya yang persis sekali. Namun, akhirnya bisa diselesaikan dengan damai.

Perjalanan karir Goenawan Mohamad dalam dunia kejurnalistikan, sebagian besar diarungi bersama Tempo. Tidak lepas dengan kesusastraan, Goenawan Mohamad mengenalkan sebuah terapan baru dalam dunia kejurnalistikan yang Ia padukan dengan sentuhan sastra bernama feature.

Ia menggabungkan keaktualan dan faktualan data ala jurnalistik ditulis dengan sastrawi dan enak dibaca. Namun terapan ini di tentang oleh kerabat kerjanya sendiri yaitu Bur Rasuanto yang menurutnya Tempo seharusnya lebih condong kepada news daripada  feature. Hingga disuatu waktu GM melemparkan air kopi ke wajah Bur yang akhirnya membuat Bur keluar dari badan Tempo. GM yang sedari dulu sudah jujur dalam menuliskan sesuatu, Ia terapkan dalam penulisan berita. Hasilnya, pembredelan demi pembredelan dilakukan pemerintahan Soeharto kepada majalah Tempo.

Pembredelan pertama, ketika Tempo menuliskan tentang kampanye partai Golkar di lapangan banteng yang berakhir ricuh. Soeharto yang notabene adalah motor penggerak Golkar tidak suka dengan pemberitaan tersebut, lalu membredelnya. Namun pembredelan itu dicabut ketika GM menuliskan permintaan maaf dalam secarik kertas dengan keterpaksaan. Di luar itu, GM kecewa karena Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) lah yang mengusulkan pembredelan tesebut.

Lalu, pembredelan kedua terjadi ketika Tempo mengkritik kebijakan Soeharto dan Habibie untuk membeli kapal bekas Jerman. Disinilah puncaknya ketika Tempo sudah tidak boleh lagi terbit oleh pemerintah. Dibalik itu, sebenarnya Tempo bisa saja terbit asalkan harus meminta maaf dan segala aktifitas pemberitaan Tempo harus diketahui pemerintah. Integritas wartawan yang independen di pegang teguh oleh GM sehingga Ia rela Tempo tidak lagi tayang di media.

Kejadian tersebut lantas membuat kemarahan yang amat besar kala itu. Beberapa wartawan senior PWI murka dan berdemo karena tidak adanya pembelaan dari PWI sendiri. GM yang tahu bahwa PWI sudah menjadi alat politik Soeharto, membentuk tandingannya bernama AJI (Aliansi Jurnalistik Independen) yang hingga saat ini eksis dan menjadi kelompok yang saling membela hak-hak wartawan yang dinodai.

Setelah kejatuhan Soeharto pada tahun 1998, Tempo hadir kembali dan GM kembali menulis bebas di kolom khasnya, yaitu Catatan Pinggir. Tulisan-tulisan yang penuh kritik ini selalu membekas di setiap pemerintahan saat itu. Bukan sebagai pesan cinta, namun serangan yang menggebu yang langsung mengarah ke hati. Tulisan-tulisannya ini Ia jadikan sebuah buku yang terkenal sampai sekarang sebagai kumpulan tulisan esai yang Ia tulis untuk Tempo.

GM tidak pernah berhenti menulis dan mengkritik pemerintah. Ia selalu berada di garis-garis yang bisa saja menjatuhkan dia ke jurang yang paling dalam, mungkin dia masih beruntung nasibnya tidak seperti Udin atau Wiji yang ‘dihilangkan’ oleh pemerintah. Kejujuran yang Ia tulis akan selalu membekas dihati dan benak para pembacanya, baik itu sebagai wartawan atau penyair.

Karya-karya Goenawan Mohamad:
  • Catatan Pinggir (Caping): 1976 – sekarang
  • Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang:1972
  • Seks, Sastra, Kita: 1980
  • Eksotopi:2002
  • Marxisme, Seni, Pembebasan: 2011
  • Interlude: 1973
  • Dan banyak lagi

Rekomendasi

Leave A Reply

Your email address will not be published.