Fenomena Dosen Rangkap Tak Sesuai Kompetensi

Proses pendidikan tidak akan terlepas dengan kurikulum. Pada kurikulum tersebut tercermin kompetensi apa yang akan dicapai oleh mahasiswa dari setiap matakuliah yang diajarkan. Harapannya setelah mahasiswa menempuh semua matakuliah yang ada di kurikulum tersebut. Kemudian lahirlah lulusan yang mempunyai kompetensi yang diharapkan di program studi tersebut khususnya dan di perguruan tinggi tersebut umumya.

Sebagai pendidik, dosen mengemban tugas dan tanggung jawab untuk mengembangkan potensi yang dimiliki mahasiswa. Baik segi pengetahuan, keterampilan dan sikap yang sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

Salah satu tugas dan tanggung jawab dosen, sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah No. 60 tahun 1999,  adalah melaksankan pendidikan dan pengajaran. Tugas ini merupakan utama seorang dosen yang harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Hal tersebut sebagai realisasi dari tugas utama suatu perguruan tinggi, yaitu melaksanakan suatu proses belajar mengajar dalam upaya mendidik mahasiswa.

Permasalahan yang muncul adalah rasio dosen dengan mahasiswa tidak seimbang dan latar belakang pendidikan dari dosen yang tidak sesuai dengan matakuliah yang diampu menyebabkan distorsi pencapaian kompetensi yang diharapkan. Sehingga sering kita jumpai, satu matakuliah diajar oleh dua dosen atau lebih, pada satu program studi tapi berbeda materi. Kondisi ini menyebabkan kompetensi yang dimiliki mahasiswa terkadang melenceng dari yang diharapkan oleh kurikulum yang sudah disusun.

Kondisi ini akan diperparah jika dosen mengajar lebih dari satu matakuliah, sehingga harus memaksakan mengajar dimatakuliah lain, meskipun tidak ada latar belakang pendidikan yang mumpuni. Memahami karakteristik dari matakuliah yang diajarkan sangatlah perlu. Apakah matakuliah ini termasuk matakuliah pra-syarat dari matakuliah selanjutnya atau bukan. Jika menjadi pra-syarat maka materi kuliah yang disampaikan harusnya menjadi dasar untuk menguasai materi pada matakuliah berikutnya.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan; apakah evaluasi kinerja dosen sudah diberlakukan dengan baik di UIN? Karena evaluasi kinerja dosen merupakan sesuatu yang sangat penting dalam upaya lembaga perguruan tinggi untuk mencapai tujuannya.

Dalam perkembangan yang kompetitif dan mengglobal setiap lembaga termasuk lembaga pendidikan UIN membutuhkan personel,terutama tenaga dosen yang berprestasi tinggi dan mumpuni dalam mengajar suatu matakuliah. Pada saat yang sama setiap personel memerlukan umpan balik atas kinerja mereka sebagai pedoman bagi tindakan-tindakan mereka di masa yang akan datang.

Oleh karena itu penilaian yang dilakukan seharusnya menggambarkan kinerja  personil. Hasil penilaian kinerja dapat menunjukan apakah SDM yang ada telah memenuhi tuntutan yang dikehendaki lembaga, baik dilihat dari kualitas maupun kuantitas. Informasi dalam penilaian kinerja personil merupakan refleksi dari berkembang tidaknya lembaga.

Kinerja dosen pada suatu perguruan tinggi merupakan perilaku nyata yang ditampilkan setiap dosen sebagai prestasi kerja yang dihasilkan  oleh dosen tersebut sesuai dengan peranannya. Tentunya untuk dapat menentukan kualitas dosen perlu adanya criteria yang jelas. Mitchell (1978) menyatakan bahwa kinerja meliputi beberapa aspek, yaitu aspek kualitas pekerjan, ketepatan waktu, prakarsa, kemampuan dan komunikasi. Karena kinerja dosen merupakan sesuatu yang sangat penting dalam upaya lembaga perguruan tinggi untuk mencapai tujuannya.

Di dalam dunia yang kompetitif dan mengglobal, setiap perguruan tinggi, seperti UIN memerlukan kinerja dosen yang tinggi. Pada saat yang bersamaan, dosen sebagai ujung tombak suatu perguruan tinggi memerlukan umpan balik dari lembaga atas hasil kerja mereka sebagai panduan bagi perilaku mereka di masa yang akan datang. Umpan balik terhadap kinerja dosen dapat dilakukan melalui evaluasi kinerja.

 

Rekomendasi

Leave A Reply

Your email address will not be published.