Dulunya Kandang Ayam, Kini Jadi Perpustakaan Alam

JURNALPOSMEDIA.COM- Perpustakaan mempunyai makna tersendiri bagi setiap orang yang gemar membaca. Berbagai macam buku dapat ditemukan, juga menjadi tempat pembelajaran selain sekolah atau kampus, khususnya bagi para siswa dan mahasiswa saat mengerjakan tugas-tugasnya.

Begitupula yang dirasakan Iman Sulaeman yang akrab disapa Dayak. Mahasiswa jurusan Sosiologi UIN Bandung yang juga aktif di Mahapeka ini pun merasakan betapa pentingnya perpustakaan untuk kalangan muda saat ini. Menurutnya perpustakaan bisa menjadi tempat yang mengasyikan. Terlebih di sana dapat mencari tahu segala hal. Karena itu, ia dan keluarga mendirikan sebuah perpustakaan yang tepat berada di depan rumahnya di Desa Mekarsari, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung.

Berawal dari sebuah ekspedisi NKRI 2017 bertempat di daerah Boven Digoel, Papua Selatan selama kurang lebih 4 bulan. Ia berkeinginan membuat perpustakaan di daerah tersebut untuk meningkatkan minat membaca orang-orang disana. Tetapi karena banyak kendala terutama mengenai pengelolaan tempat, keinginan tersebut belum dapat terwujud. Sepulangnya dari ekspedisi tersebut ia berkonsultasi dengan penggiat literasi yang fokus pada peningkatan minat membaca di daerah tersebut.

Kemudian setelah kembali menjadi relawan gempa di Lombok, ia kembali menggarap keinginannya tersebut. Sebelumnya ia hanya ingin menampung buku donasi dari sekitar untuk disalurkan ke perpustakaan di pelosok-pelosok yang masih bisa dipantau kegiatannya. Namun, sekembalinya dari Lombok kedua kali untuk menjadi relawan, keinginannya untuk membuat sebuah perpustakaan pun terwujud setelah berdiskusi bersama keluarganya.

Uniknya perpustakaan yang ia dirikan merupakan pengambilan lahan yang tadinya sebuah kandang ayam, lalu dirombak sedemikian rupa menjadi sebuah ruangan. Ia dan keluarga mengubahnya menjadi perpustakaan yang sering disebut “Perpus Alam” dengan slogan “Membaca Adalah Menanam”. Menurutnya membaca sama dengan menanam pengetahuan,
di mana perpustakaan sebagai toko benih dan otak menjadi lahan untuk menanam tersebut.

“Tadinya mau di lahan kosong, setelah di pikir-pikir pasti bakal banyak keluar biaya untuk bangunan, belum buat rak buku, karena kandang ayam nya juga sudah lama ga dipakai,” ujarnya.

Saat ini pun sudah mulai banyak terisi oleh buku-buku seperti novel dan buku pelajaran lainnya. Sistem peminjaman pun sudah diatur, tetapi untuk ke depannya ia akan menata kembali sistem pengelolaan nya. Nantinya ia akan membuat kartu anggota dan absensi  agar anak-anak yang sering datang tidak hanya membaca, tetapi juga membuat kegiatan lain yang dapat meningkatkan wawasan.

Mengenai pembangunan perpustakaan tersebut ia tidak menghadapi kendala yang besar, karena dana dan hal lainnya dari keluarganya. Untuk pengelolaan perpustakaan ini pun dipegang oleh keluarganya, banyak juga mahasiswa yang turut membantu mengajar. Berbagai donasi buku pun akan dengan senang hati diterima olehnya, bisa datang langsung ke perpustakaan, bisa juga melalui kantor pos.

Rekomendasi

Leave A Reply

Your email address will not be published.