Diskusi Musik Bersama Musisi Bandung

JURNALPOSMEDIA.COM—  Musisi Bandung Dodi Haerudin menjadi pembicara dalam kegiatan diskusi bidang seni Hima Jurnalistik UIN Bandung yang berlangsung di Gedung Student Center, Selasa (10/04/2018). Diskusi tersebut membahas mengenai sejauh mana musik Indonesia berperan dalam membentuk opini publik diberbagai aspek kehidupan.

Diawal diskusi, Dodi Haerudin menyanyikan sebuah karya lagu yang berjudul ‘Tuhan Si Tuan’ sebagai penambah semangat untuk memulai diskusi. Ia menjelaskan musik Indonesia telah terisolasi diantara musik dunia barat, tetapi dengan keadaan seperti itu membuat Indonesia tidak terpengaruh, bahkan lebih mencintai musik negara sendiri.

Menurutnya, menjadi seorang seniman bandung seharusnya karya yang kita hasilkan akan lebih baik ketika ditampilkan. Sehingga karya itu mampu mendidik masyarakat atau memberikan sebuah pemahaman sehingga pola pikir masyarakat semakin baik.

“Generasi muda saat ini masih terlena oleh budaya luar, jika dulu Soekarno melarang adanya musik barat mungkin ini salah satu alasannya. Dengan jumlah 530 suku di Indonesia yang berbeda menjadi suatu kebanggaan untuk kita dibandingkan bangsa-bangsa lainnya. Mirisnya adalah mengapa musik yang dari dulu dipegang teguh oleh nenek moyang sekarang tidak banyak dijumpai,” katanya.

Lebih lanjut, ia mengatakan dalam melestarikan sebuah kebudayaan kita tidak perlu memainkan alat musik tradisional, tetapi cukup dengan mengapresiasi karya seseorang untuk memainkan musik. Hal tersebut bahkan sudah menjadi suatu penghargaan bagi pemain musik tradisional. Musik zaman dahulu mereka berkarya sesuka seniman, berbeda dengan saat ini, seniman bahkan mendapat tekanan dari sebuah label agar mendapat keuntungan yang lebih besar.

Menurut salah seorang mahasiswa Jurnalistik, Fakhri Fadhlurrohman mengungkapkan rasa bangganya dalam kegiatan diskusi seni tersebut. “Mengetahui dan paham perkembangan musik di indonesia dari zaman soekarno sampai saat ini. Dan harapannya perbanyak diskusi seperti diskusi literasi sosial dan politik atau keagamaan itu juga harus dikembangkan karena kita hidup di dunia jurnalistik yang akarnya dari menulis dan membaca.”  pungkasnya.

Rekomendasi

Leave A Reply

Your email address will not be published.