Diskusi Insos Hima Jurnalistik Bahas Quarter Life Crisis Hingga Fenomena Beauty Privilege dalam Karir Jurnalisme

JURNALPOSMEDIA.COM – Bidang Intelektual dan Sosial Hima Jurnalistik UIN Bandung berkolaborasi dengan Modifia mengadakan diskusi bertema “Quarter Life Crisis, Beauty Privilege & Career Journalism” pada Sabtu lalu (6/2/2021).

Adapun Modifia merupakan wadah yang dibentuk guna membantu individu berkembang ke arah yang lebih baik. Advisor Modifia, yang juga merupakan Dosen Psikologi di UIN Bandung, Agus Mulyana menjadi pemateri yang membahas krisis identitas di seperempat abad kehidupan atau lebih dikenal dengan Quarter Life Crisis (QLC).

“Quarter Life Crisis merupakan suatu (perasaan) khawatir atau cemas yang terjadi pada setiap orang pada rentan usia 20-30 tahun. Quarter Life Crisis (QLC) yang dialami oleh setiap orang juga berbeda-beda, tergantung dengan situasi yang dihadapi orang tersebut,” Jelas Agus. Ada beberapa aspek yang memicu QLC. Seperti kemampuan diri, tujuan hidup, relasi, pasangan, penghasilan serta pekerjaan.

Ia menyebut, QLC dapat diatasi dengan sejumlah cara. Yakni melakukan identifikasi terhadap tiga karakter yang melekat pada diri. Lalu diet mental, mengadopsi sikap baru, berlatih menanggapi (responding) daripada (reacting), memilih tujuan dan menikmati perjalanannya. Serta menjaga semuanya tetap terkendali, dan mengupayakan untuk menulis setiap rencana.

Meski terjadi di usia 20-30 tahun, ia mengungkap bahwa QLC juga dapat terjadi di usia yang lebih muda atau lebih tua. Selanjutnya, kiat melakukan diet mental disebutnya dapat diawali dengan mengenali diri sendiri.

“Pandangan orang lain mengenai kita adalah sebagian kecil dari diri kita, karena sesungguhnya kita selalu memakai topeng dalam berinteraksi dengan siapapun itu. Jadi, langkah terbaik untuk melakukan diet mental yaitu dengan mengenali dulu diri sendiri dan menjauhi hal-hal yang bisa mempengaruhi mental kamu dalam menghadapi Quarter Life Crisis itu,” lanjutnya.

Selain Agus, turut dihadirkan pula reporter dari stasiun TV SCTV dan Indosiar, Jeannete Lee. Pemaparan kedua membahas tentang fenomena ‘beauty privilege’ dalam karir jurnalisme.

Jeannete menekankan jika seorang jurnalis tidaklah harus berlatar belakang pendidikan Jurnalistik atau Ilmu Komunikasi. Melainkan terbuka luas untuk siapapun dari jurusan apa saja, “Asalkan sesuai dengan passion kalian. Juga untuk menjadi jurnalis itu, kalau menurut pendapatku pribadi kalian cukup punya tiga ini aja, yaitu selalu berpikir kritis, jangan malu untuk bertanya, dan banyak membaca,” tuturnya.

Anggapan adanya keharusan seorang jurnalis untuk berparas cantik atau tampan, langsung dibantah Jeanne. Ia menjelaskan, yang dituntut dari seorang jurnalis adalah kerapiannya, “Di sini aku enggak bilang harus tampan atau cantik ya. (Jadi) tergantung dari temen-temen sendiri mau memilih (beranggapan) yang mana,” tandasnya.

Rekomendasi

Leave A Reply

Your email address will not be published.