Diskusi Foto Jurnalistik & Lingkungan, Terkait Isu Sampah Plastik

JURNALPOSMEDIA.COM– Hari ke empat sekaligus hari terakhir rangkaian acara T(h)uman Photo Exhibition, yang digelar oleh Badan Otonom Photo’s Speak UIN Bandung. Juga, melaksanakan diskusi fotografi dan lingkungan diadakan di Teras Sunda, Cibiru, Kota Bandung. Diskusi tersebut diisi oleh dua pemateri, yaitu Greenpeace dan Beawiharta, Sabtu, (1/2/2020).

Pemateri dari Greenpeace, Klistjart Tharissa atau kerap dipanggil Caca yang juga merupakan organisasi kampanye lingkungan Internasional. Ia mengungkapkan perasaannya mengenai pemilihan isu sampah plastik ini sangat amat tepat karena sedang menjadi concern banyak orang.

“Isu sampah ini memang lagi rame banget, cara kita mengurangi konsumsi sampah tuh dengan cara bawa tumblr, kotak bekel dan tas belanja sendiri. Selain mengurangi sampah plastik, kita bisa lebih hemat juga dalam hal ekonomi,” ucapnya.

Caca melanjutkan, bahwa tugas untuk kita semua adalah bagaimana cara mensosialisasikan isu sampah ini kepada masyarakat agar sama-sama menjaga lingkungan dari sampah ini. “Salah satu sosialisasi ke masyarakat yakni dengan cara pameran kaya seperti ini. Tetapi selebihnya harus dimulai dari diri sendiri agar masyarakat bisa mencontohnya,” lanjutnya.

Senada dengan Caca, pemateri lainnya yang merupakan Freelance Photographer, Beawiharta. Ia menuturkan bahwa plastik ini adalah ancaman dan sebagai komunikan kita harus menyampaikan pesan ini ke khalayak.

“Melalui foto jurnalistik ini kita menyampaikan sebuah pesan. Pesannya macam-macam seperti pameran di sini yang menyampaikan pesan bahwa plastik itu berbahaya. Lalu, maknanya harus cukup kuat sehingga masyarakat dapat menerima pesan yang hendak disampaikan,” ungkapnya.

Beawiharta juga memberikan banyak pembekalan soal fotografi, khususnya bagaimana caranya agar foto kita dapat bercerita, “Foto bercerita adalah keharusan karena foto yang tidak bercerita hanya akan menjadi sampah visual. Adapun, yang paling utama agar foto kita bercerita adalah kita harus menguasai issunya. Lalu dikaji kepada diri kita sendiri, karena kita juga butuh editor yang sangat kejam dan ketat sampai fotonya mengeluarkan cerita,”

“Semoga acara ini bisa dibikin tahunan dan setelah pameran ini selesai jangan lalu selesai, kalian harus berani me-review sendiri soal acara ini,” tutupnya.

Rekomendasi

Leave A Reply

Your email address will not be published.