Didi Kempot dan Dendang Patah Hati yang Abadi

JURNALPOSMEDIA.COM – Tepatnya Selasa (5/5/2020) lalu, saya termasuk jutaan orang yang bersedih akan berpulangnya Didi Kempot. Bagaimana tidak, lagu-lagunya hampir setiap hari menemani. Perasaan yang aslinya sedang biasa saja, bisa langsung ambyar atau sedih ketika mendengar lagu milik beliau.

Tetapi lewat mendengar lagu-lagunya, patah hati tidak akan sebegitu mengesankan ini. Dalam cuitannya di media sosial atau kata-kata yang disampaikan, beliau selalu mengingatkan pada pendengarnya kalau patah hati tinggal dijogetin aja. Tapi maaf Pakdhe, patah hatiku kali ini tidak bisa aku jogetin.

Lewat lirik dalam tembangnya, ternyata patah hati tidak buruk-buruk amat. Namun tentu saja, lagunya tidak melulu tentang patah hati lho ya. Ada juga lagu berjudul “Suket Teki” yang saya ingat liriknya. “Wong salah ora gelem ngaku salah, suwe-suwe sopo wonge sing betah”, artinya “orang salah tidak mau mengaku salah, lama-lama siapa orang yang betah”. Seperti itu.

Mungkin saya termasuk sobat ambyar generasi baru, karena lebih jauh mengenal sosok Didi Kempot itu baru tahun lalu. Tepatnya di acara milik Gofar Hilman, Ngobrol bareng Musisi “Ngobam” bareng Didi Kempot. Acara itu ramai dipenuhi pemuda pemudi yang menamakan dirinya sad boys dan sad girls atau “sobat ambyar”. Seru sekali acaranya, ngobrol santai, tanya jawab dengan para fans, serta tentu saja nyanyi dan joget bersama.

Berbeda dengan saya, pimpinan Pondok Pesantren Mahasiswa Universal tempat saya menimba ilmu, Kiai Tatang Astarudin adalah penggemar Pakdhe sejak lama. Beliau sudah menyukai Pakdhe Didi sejak zaman kuliah, sekitar tahun 90-an ketika di Jogja dulu. Menurutnya, Pakdhe itu orang yang humble, kreatif, dan peduli. Hebatnya, beliau juga bisa mengangkat lagu campursari jadi disukai banyak kalangan.

Jika dulu campursari hanya dinikmati kalangan tua saja, kini semua kalangan bisa terhanyut menikmati campursari lewat lagu-lagunya Pakdhe. Walau nuansa lagunya melankolis, tetapi dibawakan dengan senyuman atau rasa bahagia. Ya memang begitu, maqam-nya sudah berbeda, bisa disebut itulah madzhab-nya Didi Kempot.

Beberapa tahun terakhir, pengaruh beliau mampu memunculkan musisi baru dengan genre musik yang sama. Seperti Cak Nan, Guyon Waton, Hendra Kumbara dan lainnya. Kini, lagu berbahasa daerah bukan lagi lagu yang “kolot” untuk didengarkan.

Dahulu, lagu berbahasa daerah itu identik dengan selera orang tua, kini kalangan muda dengan santainya dapat menyanyikan lagu berbahasa daerah. Jika di kalangan Youtuber, mungkin kita tidak asing dengan Bayu Skak, dia membuat lagu berbahasa daerah, begitupun dengan konten-kontennya.

Hadirnya Memberi Kesan Mendalam

Saat ini, kita semua kehilangan sosok musisi legendaris Indonesia, Didi Kempot. Saya teringat kembali akan lirik lagunya yang berjudul “Layang Kangen”. “Umpomo tanganku dadi suwiwi, iki uga aku mesti enggal bali”, atau “seandainya tanganku mampu menjadi sayap, sekarang juga aku akan pulang”.

Perjalanan beliau melalui Sewu Kutha dan melewati beberapa kali stasiun balapan, harus terhenti pada dua hari yang lalu. Kini, tangannya sudah menjadi sayap dan pulang menemui kakak serta ayahnya yang berpulang lebih dahulu.

Terima kasih kami sampaikan, jangan ambyar di akhirat sana ya, Pakdhe. Di sana, tidak ada lagi yang maidho, apalagi yang membuatmu lara ati. Kami bangga mengenalmu dan karya-karyamu abadi di hati kami para pendengarnya. Begitupun sikap rendah hatimu yang akan kami ikuti.

Sesuai pesan terakhirmu di media sosial, “opo wae sing dadi masalahmu, kuwat ora kuwat, kowe kudu kuat. Tapi misale kowe wis ora kuwat tenan, yo kudu kuat”. Kalimat itu berarti, “apa saja yang jadi masalahmu, kuat tidak kuat, kamu harus kuat. Tapi misalnya kamu sudah sangat tidak kuat, yha harus tetap kuat”.

Leave A Reply

Your email address will not be published.