Bingkai Diorama Kehidupan

 

Syahdan, tertoreh secangkir kopi di sudut meja. Pandangan tersudut pada seorang pria yang sudah berkepala empat. Tetesan kopi hitam yang menempel pada sudut bibir tebalnya. Kacamata silindris yang selalu tersimpan menemani kedua matanya. Kini, selembar kertas putih berada dalam genggamannya. Kulit sawo matang yang tersapu mentari pagi seakan ada sedikit kecerahan saat ia duduk manis di atas kursi rotan sembari membaca aksara tinta hitam. Ia termenung saat membaca kalimat akhir dari selembar kertas putih yang bertuliskan :

Yas, apa kau ingat masa dimana kitorang layaknya seorang Marcopolo? Sungguh itu sebuah kekonyolan. Tapi kitorang berlagak bak Marcopolo dengan alasan yang jelas. Kitorang rindu akan kebersamaan.

TTD

Thomas & Piyaga

Sejenak ia terdiam. Otaknya terus berputar hingga ke dalam bagian temporal. Denyut nadi terasa berhenti saat terjun masuk kedalam sebuah kenangan. Dalam hatinya mungkin ia berpikir mengapa Tuhan menciptakan sekeping hati begitu rapuh dan mudah terluka saat ia dihadapkan dalam sebuah kenangan kebahagiaan yang menusuk relung kekosongan hati di dalamnya. Menimbulkan segudang tanya, menghimpit bayangan dan menyesakkan dada. Sesak karena hal itu dalam logika sehat tak dapat terulang kembali. Bagai sayap yang telah hancur, berserakan. Hanya bayangan yang ia dapat. Otaknya terus teringat akan hal beberapa puluh tahun lalu yang pernah ia jalani. Otak tuanya yang terus memaksakan diri untuk mengingat dan masuk kembali dalam bayangan penuh kenangan akan sebuah perjuangan.

***

Pantulan sinar mentari tepat dihadapan bola mata Isayas paruh baya bak gelondongan kayu terbakar. Terlihat pancaran semangat bagai seutas tali yang terus menyambung tanpa sebuah akhiran. Bebatuan tajam dengan ganasnya menghujam telapak kaki kecil Isayas. Dengan tangan terkepal dan kaki tanpa alas, ia tetap tak menghiraukan begitu tajamnya bebatuan dalam jalan setapak, bahkan banyak pula tumbuhan liar bagai duri mawar yang mungkin sengaja melukai pelipis kaki si kulit sawo matang.

“Hai kamong!” teriak Isayas, mungkin ia berteriak karena suara kecilnya tak mau kalah dengan desisan angin dan daun dalam hutan yang saling bergesekan seakan merekalah yang menjadi penyahut ketika alam berbicara.

“Hai Isayas! Cepat kamari, kitorang menunggu kau!” teriak Thomas, yang tak lain kakak kandung Isayas.

“Santai lah kaka, ini baru setengah perjalanan. Setelah itu kitorang harus menempuh satu setengah hari. Belum lagi saat senja datang kitorang harus beristirahat ditengah hutan dengan perbekalan seadanya. Pagi datang kitorang meneruskan perjalanan, dan saat senja kembali lagi mungkin kitorang sudah sampai. Beruntunglah orang diluar sana yang masih sempat mengenyam pendidikan tak sesulit disini, kaka. Tapi kebanyakan dari dorang yang sering tara menghargai fasilitas dan jerih payah orang tua yang telah diberikannya untuk dorang,” gumam Isayas dengan sedikit nafas terengah.

“Dengar ade, setiap bunga akan mekar ketika saatnya tiba seperti forsythia, camelia, dan bunga-bunga lain. Bebungaan itu tahu kapan dorang akan mekar, tidak seperti kebanyakan dari kitorang yang selalu ingin mendahului yang lain. Apakah kalian merasa tertinggal dari saudara kita yang ada di ibu kota? Apakah kalian merasa menyia-nyiakan waktu sementara saudara kalian mulai melangkah menuju kesuksesan? Jika kalian berpikir begitu, ingatlah bahwa kalian memiliki masa mekar sendiri, begitu juga dengan saudara kita yang jauh nun di ibu kota sana. Musim kitorang belum datang. Namun, ia akan datang ketika kuncup terbuka. Mungkin kuncup itu mekar lebih lama daripada yang lain, tetapi ketika sampai pada waktunya kita akan mekar begitu indah dan menawan seperti bebungaan lain yang telah mekar,” gumam Piyaga, yang tiada lain merupakan kakak tertua Isayas.

Sejenak suasana menjadi sunyi senyap mendengar lontaran kalimat pembicaraan Isayas dan Piyaga. Daun dan pepohonan ibarat saling bercengkrama tertiup hembusan angin lalu mengatup bak putri malu yang tersentuh. Keadaan saat itu seperti seekor gagak yang menghujam paruhnya ke dalam bangkai yang sama.

Matahari terasa tepat satu jengkal diatas kepala. Peluh mulai bercucuran dari dahi Isayas. Suasana dimana titik emosi sedang memuncak. Amarah yang terus bergejolak. Penyesalan akan mengapa mereka harus sesulit ini untuk menempuh pendidikan. Sulit bagai mencari jarum dalam jerami. Tetapi dalam benak, mereka harus mensyukuri apapun yang telah Tuhan beri. Harapan mereka agar bisa berteleportase sungguh hanya angan belaka bagi Isayas dan kedua kakaknya. Lebih tepatnya, itu sebuah hal mustahil seperti mereka mendambakan sekolah yang berdiri dengan tegak di hutan daerah Manokwari.

“Tak terasa waktu sudah senja. Cepat kamari, kitorang pasang tenda untuk sekedar merebahkan badan sejenak. Kumpulkan kayu hutan. Kalian mengerti?” perintah Isayas seperti komandan.

Hawa dingin hembusan angin dengan cuaca kebekuan yang mengiris sendi tulang. Sesekali mata Isayas tetap terjaga dalam kesunyian yang merayapi malam. Pandangan yang terasa buram, tak ada yang berani membandingkan derau angin malam dengan desahan bayi yang nyenyak dalam buaian. Menatap malam dengan cahaya gemerlap bintang yang bertaburan. Nampak dalam bayangan, kasih cinta dan kebersamaan yang selalu tertuang setiap waktu bersama hanya untuk menimba secarik ilmu dengan tujuan mengejar harapan. Tampaknya bagi Isayas untuk menggapai dunia pendidikan itu sesulit metamorfosis kupu-kupu dalam fase si sayap indah yang akan keluar dari kepompong. Dalam hati kecilnya ingin melepas penat dalam deburan ombak dilaut lepas dan memicingkan mata ke langit biru walau sekedar melihat kerumunan burung albatros yang saling bergurau.

Setelah kantuk menghanyutkan roh nya ke alam mimpi, tak terasa pancaran sinar memantul kedalam tetes embun yang membasahi daun eucalyptus dan manoa pinnata. Isayas dan kedua kakaknya meneruskan perjalanan ke Desa Bahamyenti. Desa Bahamyenti inilah tempat di mana mereka mencari sebuah ilmu, membaca setiap huruf, menulis dalam secarik kertas. Perilaku tangan dan tatapan mata yang menjadi saksi bisu akan usaha dan kehadiran mereka ke dunia bagai air danau tenang yang memantulkan cahaya mentari dalam sejuknya angin pagi. Dalam perjalanannya menuju sebuah bangunan yang sering disebut sebagai sekolah, ia berharap bahwa ayahnya melihat dan bangga akan perjuangannya walau melalui tirai keabadian.

Kicauan burung menambah semangat pagi. Desau angin membuat otak segar kembali. Hutan kini berganti dengan hamparan padang rumput dengan ribuan ilalang seakan melambaikan sambutan kepada Isayas. Disisi kanan dan kiri tersuguh eloknya cemara yang kokoh berdiri dalam tanah hijau perbukitan. Langit biru pertanda kedamaian, tak tampak pula awan kumulus nimbus yang biasanya menghancurkan cuaca indah dengan awan yang terlihat bagai kapas putih.

Padang rumput kini berganti menjadi hamparan tanah dengan jejak telapak kaki kerbau dan orang yang berlalu lalang. Aktivitas kehidupan manusia sudah mulai terlihat di Desa Bahamyenti, mulai dari pemanggul jerami, penarik kerbau bahkan pedagang. Tak satupun dari mereka yang mau meninggalkan momen berharga ini, momen dimana mereka tak akan mereka temui di hutan daerah Manokwari.

Senja datang kembali, kaki kecil mereka yang terus berjalan tiada henti. Kepastian belum saja menghampiri. Bagai menunggu bangkai kasuari yang telah mati, mereka menapaki jalan tanpa setengah hati. Mereka beranggapan bahwa hidup itu seperti permainan catur, harus dijalani dengan hati-hati, sama hal nya dengan nasib yang tengah mereka jalani. Kini, mata mereka dihadapkan pada sebuah bangunan tua dengan tiang bendera yang menjulang tinggi. Mereka menatap bangunan tua dengan pondasi kayu yang sudah termakan usia. Dan bangunan inilah yang akan menjadi saksi sejarah kehidupan bagi mereka, terutamanya bagi Isayas si kulit sawo matang.

***

Ia terdiam untuk kedua kalinya. Sepertinya ia merindukan Isayas paruh baya. Masa di mana dirinya hidup dalam beribu tahap perjuangan, menyelesaikan permasalahan, hidup dengan jalinan kekeluargaan. Air mata kerinduan Isayas seakan pecah menggema bagai suara merantai diatas tebing saat ia keluar dalam pemikiran fase sebuah kenangan. Kini ia mengerti akan sepucuk surat yang ia terima dari kedua kakaknya. Tak terasa air mata menetes bagai titik-titik embun syahdu yang membongkarkan rahasia mawar layu. Kenangan itu bagai lagu yang dikumandangkan oleh kesunyian, disingkirkan oleh kebisingan, dan dilipat oleh kebenaran, lalu lagu itu disembunyikan oleh kesadaran siang dan dinyanyikan kembali dalam sukma malam.

Rekomendasi

Leave A Reply

Your email address will not be published.