Bau Nyale, Tradisi Berburu Cacing Warna di Nusa Tenggara

JURNALPOSMEDIA.COM-Pagi itu laut seperti marah, ia menyapa warga tak henti-henti dengan ombak birunya. Hanya berbekal jaring, warga meledek laut beserta isinya untuk secepatnya menyudahi pasang. Hingga jam 4 pagi laut belum juga mau bersahabat, warga yang sudah seharusnya melakukan tradisi Bau Nyale masih asyik bercanda dengan air.

“Sudah surut harusnya, tapi ini masih pasang, mungkin sebentar lagi,” Ungkap salah satu pemburu Nyale, Mella (21).

Masyarakat datang berjubel membawa senter dan jaring, berharap dapat Nyale dengan cuma-cuma meski laut masih pasang, mungkin ia belum mengizinkan. Nyale dicari pada dini menjelang pagi hari untuk memantapkan kualitasnya. Konon, jika matahari sudah menyentuh laut, nyale yang didapat akan lembek dan mudah putus.

“Nyale lebih bagus saat jam 3-6 pagi, pokoknya pas matahari belum terbit,” Ujar salah seorang warga yang ikut mencari Nyale.

Festival Bau Nyale merupakan salah satu budaya setahun sekali yang diadakan oleh masyarakat Lombok, Nusa Tenggara Barat. Festival Bau Nyale 2020 diadakan di pinggir Pantai Seger Kuta Mandalika, Lombok Tengah, 14-15 Februari 2020.

Dikutip dari Hariannusa.com, Bau Nyale merupakan sebuah peristiwa dan tradisi yang sangat melegenda serta mempunyai nilai sakral yang tinggi bagi Suku Sasak. Perayaan Bau Nyale berkaitan erat dengan sebuah cerita rakyat yang berkembang di daerah Lombok Tengah bagian selatan.

“Ini merupakan sebuah kebanggaan bagi kami masyarakat Lombok Tengah dan Nusa Tenggara Barat yang juga menjadi kebanggaan nasional,” Jelas Ketua Umum Dekranasda Provinsi NTB, Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah.

Bau Nyale merupakan tradisi menangkap Cacing di laut pada pagi hari, “Bau” yang artinya mengumpulkan dan “Nyale” yang berarti cacing. Cacing ini hanya datang pada bulan dan waktu tertentu, namun biasa ditemukan pada dini hingga pagi hari.

Setelah mengumpulkan Nyale, masyarakat biasanya mengolah Nyale menjadi makanan. “Bisa digoreng, dibakar atau dimakan langsung dari laut, tergantung kita maunya apa,” Jelas salah satu warga.

Masyarakat percaya cacing ini bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit, atau jika cacing tersebut diletakkan pada area persawahan, maka lahan tersebut akan tumbuh subur. Selain erat dengan budaya, perayaan ini juga merupakan ajang tahunan untuk mempromosikan budaya dan adat yang sudah lama dipegang erat oleh Suku Sasak kepada wisatawan lokal maupun asing.

Setelah air sudah mulai berangsur surut, masyarakat turun ke bibir pantai untuk mencari cacing berwarna – warni ini, biasanya cacing berwarna dominan hijau dan merah muda. Setelah diamati, ternyata laut pada pagi itu tidak marah, ia hanya menghantarkan para cacing untuk sampai ke bibir pantai.

 

Penulis merupakan mahasiswa Semester 8 Jurusan Ilmu Komunikasi Jurnalistik UIN Bandung 

Leave A Reply

Your email address will not be published.