Anissa Marifatillah, Menghadang Pandemi di Negeri Panzer

JURNALPOSMEDIA.COM – Terhitung sejak Agustus 2015, perempuan asal Tasikmalaya, Anissa Marifatillah (23) memulai karirnya di Jerman. Mulanya, ia mengikuti jalur Au Pair (red: sejenis program pertukaran budaya di Jerman). Setahun di Au Pair, Anissa melanjutkan sekolah khusus bahasa kemudian menempuh Ausbildung. Yakni pelatihan keahlian atau profesi di Jerman, sebagai perawat orang tua.

Di tanah rantauan yang hanya seorang diri, Annisa mengaku mampu menyelesaikan pendidikannya dalam kurun waktu tiga tahun. Pencapaian gemilang pun diraihnya, ia berhasil memperoleh nilai yang dirasanya sangat memuaskan. Kini, ia adalah seorang Fachkraft (red: tenaga ahli) perawat profesional di Jerman.

“Pernah asal bilang, enggak apa-apa SMP di sini (Salopa, Tasikmalaya), (tapi) mudah-mudahan nanti bisa masuk SMA di kota, terus lanjut ke luar negeri,” tuturnya kala mengingat harapannya di masa lalu. Lebih lanjut, Anissa mendedikasikan kelulusannya sebagai perawat di Jerman untuk orangtua, keluarga, serta orang-orang terdekatnya.

“Kelulusan ini benar-benar aku persembahkan untuk mama yang tak pernah berhenti berdoa dan untuk bapak di surga sana yang selalu ada dalam hati,” tambahnya saat diwawancarai Jurnalposmedia via WhatsApp, Kamis (18/6/2020). Ia pun menceritakan kisahnya sebagai perawat profesional di tengah kondisi pandemi yang tak lantas menggugurkan semangatnya.

Anissa menilai, kesempatan berperang sebagai garda terdepan selama masa pandemi ini adalah hal yang luar biasa. Bahkan, menurutnya, perawat asli Jerman tidak memandang sebelah mata perawat yang datang dari Asia. Ia pun mengaku mendapat perlakuan yang adil dari pemerintah, pembimbing, maupun penduduk setempat. Hal itu membuatnya mampu menjalani profesi dengan hati gembira.

Berjibaku dengan Pandemi

Selama bekerja di masa pandemi, Anissa mengatakan kalau persediaan alat pelindung diri (APD) di Jerman terbilang cukup. Hal itu dikarenakan adanya imbauan untuk bersikap bijak dan tidak boros dalam menggunakan APD. Ia menuturkan jika angka kesembuhan pasien Covid-19 di Jerman sangat tinggi dibandingkan jumlah kematiannya.

Tak lain, katanya, karena masyarakat Jerman menjunjung tinggi tingkat kesadaran untuk keselamatan bersama. Oleh karena itu, pasien di Jerman tidak berperilaku meresahkan. Ditambah daya dukung teknologi kesehatan yang juga terbilang canggih.

“Sistem kesehatan di Jerman sudah tidak perlu diragukan lagi. Bahkan, Jerman juga telah membantu negara tetangga seperti Italia dengan memindahkan pasien Corona menggunakan pesawat yang didesain seperti ambulans,” terangnya.

Ia mengungkapkan rasa harunya akan respons positif masyarakat Jerman terhadap semua tenaga medis. Menurut ceritanya, banyak poster ataupun kain di jalanan yang bertuliskan kata-kata penyemangat dari warga untuk para tenaga medis. Anissa mengatakan bahwa pemerintah, tenaga medis, dan masyarakat di Jerman bersatu untuk melawan pandemi.

Suatu ketika, ia bercerita kalau dirinya rela berjalan kaki seusai “jaga” di rumah sakit Seniorenhaus zur Buche Konz-Roscheid tempatnya bekerja. Mengingat sejak terjadi pandemi, transportasi umum terbilang sulit dan harus menyesuaikan dengan jam operasionalnya.

“Tidak ada pengurangan jam kerja. Meski begitu, pemerintah Jerman memberikan bonus tambahan gaji bagi para tenaga medis. Namun, bidang lain seperti perhotelan, pelayan restoran, dan lainnya hanya diberi gaji sebesar 60% saja,” tuturnya.

Menyemangati Diri

Selama pandemi ini, Anissa mengaku selalu berusaha menikmati semua proses yang dilaluinya agar tidak terasa berat dan menjadi beban pikiran, “Bikin kita lebih aware aja sih. Hal yang berat saat ‘jaga’ itu karena harus membiasakan pakai masker. Masyarakat Jerman itu enggak suka pakai masker. Bahkan, sebelum ada pandemi ini masyarakat setempat selalu aneh kalau lihat orang Asia pakai masker,” katanya.

Anissa memiliki siasat tersediri untuk membangkitkan semangatnya bekerja. Tak lain dengan melakukan beberepa intermezo seperti menonton, tidur, dan berkumpul dengan beberapa teman. Juga, video call dengan keluarganya di Indonesia. Hal itu diakui membuat rasa penatnya sedikit terobati.

Di tengah situasi ini, Anissa mengingatkan pentingnya melakukan jaga jarak dan rajin mencuci tangan. Menurutnya, asupan makanan bergizi pun harus senantiasa diperhatikan, “Konsumsi vitamin juga tidak ada salahnya demi meningkatkan kekebalan daya tahan tubuh. Banyak makan sayur, buah, telur dan daging yang dimasak sampai matang. Tidur dan minum dengan cukup, serta tidak lupa untuk menjaga kebersihan,” tutupnya.

Rekomendasi

Leave A Reply

Your email address will not be published.